SURAH AL-MAA'IDAH: 64-66

AL-MA'IDAH (20)

AL-MAA'IDAH: 64-66

DIANTARA BENTUK PERKATAAN YAHUDI YANG PALING BURUK, DITIMBULKANNYA PERMUSUHAN DAN KEBENCIAN DIANTARA SESAMA MEREKA, DAN GANJARAN KEIMANAN AHLUL KITAB

SEBAB TURUNNYA AYAT

*Ath-Thabrani dan Ibnu Ishaq* meriwayatkan dari *Ibnu Abbas*, ia berkata, "Ada seorang Yahudi bernama an-Nabbasy bin Qais, berkata kepada Nabi Muhammad saw., "Sesungguhnya Tuhanmu bakhil. Dia tidak memberi nafkah." Lalu Allah SWT pun menurunkan ayat (وَقَالَتِ ٱلْيَهُودُ يَدُ ٱللَّهِ مَغْلُولَةٌ ۚ غُلَّتْ).

*Abusy Syekh bin Hayyan* meriwayatkan dari jalur lain dari *Ibnu Abbas*, ia berkata, "Ayat (وَقَالَتِ ٱلْيَهُودُ يَدُ ٱللَّهِ مَغْلُولَةٌ ۚ غُلَّتْ), turun dilatarbelakangi oleh kisah Fanhash pemuka Yahudi Bani Qainuqa." Hal ini juga yang dikatakan oleh Ikrimah.

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Keanehan ulah orang Yahudi dan karakter mereka, tiada satu pun perbuatan keji atau mungkar melainkan mereka lakukan. Para nabi pun tidak luput dari ulah mereka sehingga mereka pun membunuh para nabi. Bahkan ulah dan kejahatan mereka juga merambah ke mana-mana hingga kepada Allah SWT sehingga sebagian dari mereka dengan begitu lancang dan berani mengatakan bahwa Allah SWT bakhil dan tangan-Nya terbelenggu dari kedermawanan kepada mereka.

Akan tetapi, tangan mereka yang terbelenggu kelak di akhirat. Allah SWT menjadikan mereka terhalang dari kebaikan dan kebajikan, melaknat mereka dan mengusir mereka dari rahmat-Nya di dunia

Mahasuci Allah SWT dari apa yang mereka ucapkan itu karena sesungguhnya Allah SWT luas karunia-Nya dan melimpah pemberianNya sesuai dengan kehendak dan hikmah menurut apa yang dikehendaki-Nya. Nikmat-nikmat Allah SWT terlau banyak untuk dihinggakan.

Sungguh demi Allah, disebabkan kejahatan-kejahatan, skandal dan keburukan-keburukan yang mereka perbuat, orang-orang Yahudi akan semakin bertambah intensif sikap melampaui batas dan kekufuran mereka, yakni semakin melampaui batas dalam membenci dan memusuhi Rasulullah saw. serta semakin bertambah kufur kepada apa yang beliau bawa. Jika ada sesuatu dari Al-Qur’an turun, lalu mereka kufur, itu berarti semakin bertambah kekufuran mereka.

Allah SWT menimbulkan sikap saling memusuhi dan membenci di antara kelompok-kelompok bangsa Yahudi, sebagaimana *firman-Nya* dalam ayat:

_“Kamu kira mereka itu bersatu padahal hati mereka terpecah belah."_ *(al-Hasyr: 14)*

Mereka adalah bangsa yang saling membenci dan saling bermusuhan. Mereka pun menjadi makhluk Allah SWT yang paling dibenci oleh manusia.

Setiap kali mereka berupaya memicu fitnah, konflik dan kekisruhan, memobilisasi, mempersatukan dan mempersiapkan kekuatan untuk melancarkan aksi, Allah SWT pun menceraiberaikan kesatuan mereka dan menyirnakan kekuatan mereka. Adapun berkumpul dan bersatunya mereka di Palestina, itu hanyalah hal yang bersifat temporal, sekaligus sebagai peringatan kepada kita supaya kembali kepada agama kita serta menata dan menyatukan kembali barisan kita, dan supaya terealisasi rencana Allah SWT dalam membuat mereka kalah dengan kekalahan yang sangat tragis tanpa bisa bangkit lagi setelah itu. Mereka, cepat atau lambat, pasti akan menuju kepada kebinasaan.

Konon disebutkan bahwa kaum Yahudi ketika mereka berbuat kerusakan dan melanggar Kitabullah, Taurat, Allah SWT mengirim Bukhtanashshar yang menindas mereka. Kemudian mereka kembali berbuat kerusakan lagi, Allah SWT pun mengirimkan Buthras ar-Rumi untuk menindas mereka. Kemudian mereka berulah lagi, Allah SWT pun mengirimkan bangsa Majusi kepada mereka. Kemudian mereka kembali berulah lagi membuat kerusakan, Allah SWT pun mengirimkan kaum Muslimin kepada mereka.

Setiap kali kekuatan mereka mulai bangkit, Allah SWT kembali menceraiberaikan kekuatan mereka. Setiap kali mereka berupaya menyalakan api fitnah dan huru hara, memobilisasi kekuatan mereka untuk memerangi Rasulullah saw., Allah SWT. senantiasa memadamkannya kembali, menggagalkannya, menjadikan mereka kalah dan lemah. Mereka selalu berbuat kerusakan di muka bumi, dalam upaya menyingkirkan Islam dan ini adalah tindakan berbuat kerusakan yang paling besar.

Sekalipun dengan sederet skandal, pelanggaran dan tindakan buruk tersebut, Allah SWT tetap membuka pintu tobat bagi Ahlul Kitab supaya mereka sadar dan memperbaiki kembali apa yang telah mereka rusak, sebagaimana *firman Allah SWT,*

_"Dan sekiranya Ahlul Kitab itu beriman dan bertakwa, niscaya Kami hapus kesalahankesalahan mereka dan mereka tentu Kami masukkan ke dalam surga-surga yang penuh kenikmatan."_ *(al-Maa'idah: 65)*

Ini menunjukkan dahsyatnya kemaksiatan-kemaksiatan kaum Yahudi dan Nasrani serta begitu banyaknya kesalahan dan perbuatan jelek mereka.

Seandainya mereka mau menegakkan Taurat dan Injil, melaksanakan apa yang terkandung di dalam keduanya berupa ajaranajaran, hukum-hukum dan seruan untuk beriman kepada risalah Islam, tentulah Allah SWT melapangkan rezeki mereka, menambahi nikmat kepada mereka, dan melimpahkan berbagai macam kebaikan kepada mereka. Di antara padanan ayat ini adalah

*"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”_ *(ath-Thalaaq: 2-3)*

_"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi."_ *(al-A'raaf: 96)*

Allah SWT menjadikan ketakwaan sebagai salah satu sebab yang mendatangkan rezeki, seperti dalam ayat-ayat di atas dan Dia menjanjikan akan memberi tambah bagi orang yang bersyukur,

_“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu."_ *(Ibraahiim: 7)*

Di sini terkandung petunjuk yang jelas bahwa kesulitan hidup dan kesempitan ekonomi yang menimpa mereka tidak lain adalah disebabkan kejahatan dan pelanggaran-pelanggaran yang mereka lakukan, bukan karena kurangnya kemurahan dan kedermawanan Allah SWT.

Allah SWT menginformasikan bahwa di antara mereka masih ada segolongan orang yang tengah-tengah dan lurus yang beriman kepada setiap apa yang diturunkan oleh Allah SWT kepada mereka dan kepada Nabi Muhammad saw.. Segolongan orang itu adalah orang-orang yang beriman dari kalangan Ahlul Kitab seperti an-Najasyi, Salman, dan Abdullah bin Salam. Mereka adalah orang-orang yang lurus dan berada pada rel yang benar sehingga mereka tidak mengatakan tentang diri Nabi Isa dan Nabi Muhammad saw. melainkan apa yang memang pantas, sesuai dan semestinya bagi keduanya. Kata (الْإِقْتِصَادُ) yang menjadi akar kata (مُقْتَصِدَةً) artinya adalah tengah-tengah, tidak ekstrem kanan dan tidak pula ekstrem kiri, tidak terlalu ke kanan dan tidak terlalu ke kiri.

Karena yang penting dan diperhitungkan dalam agama-agama yang memang benar-benar terpastikan berasal dari sisi Allah SWT adalah mengamalkannya, mempraktikkannya dan menjalankan petunjuknya, bukannya fanatisme terhadap agama atau anti terhadapnya karena pertimbangan jenisnya, dan bukan pula memicu konflik yang tajam di antara para pemeluknya. Barangsiapa yang benar-benar dan sungguh-sungguh beriman kepada suatu agama, secara otomatis dan secara langsung ia juga beriman kepada setiap agama yang diturunkan Allah SWT dan yang diridhai-Nya untuk para hamban-Nya. Agama adalah agama Allah SWT, bukan monopoli orang tertententu, dan biukan pula agama manusia yang ia buat dan ciptakan untuk orang-orang.

Demikianlah, pada suatu umat atau zaman, selalu ditemukan segolongan oran yang lurus. Suara kebenaran tidak pernah bisa dibungkam meskipun para orang fasik berupaya untuk meredam dan mencekiknya. Jika jumlah orang jahat lebih banyak dari orang baik, binasalah umat dan bangsa-bangsa yang ada.====

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login