SURAH AL-MAA'IDAH: 54-56

AL-MA'IDAH (18)

AL-MAA'IDAH: 54-56

ORANG-ORANG MURTAD DAN PERMUSUHAN SERTA KEBENCIAN MEREKA TERHADAP KAUM MUSLIMIN

SEBAB TURUNNYA AYAT

Latar belakang turunnya ayat-ayat ini adalah kasus orang-orang yang murtad yang berasal dari berbagai kabilah yang ada pada masa Nabi Muhammad saw.. Mereka ada tiga kabilah.

1. Bani Mudlij di bawah kepemimpinan al-Aswad al-Ansi yang mengaku-ngaku sebagai nabi di Yaman. Ia dulunya adalah seorang dukun. Ia terbunuh di tangan Fairuz ad-Dailami.

2. Bani Hanifah yang merupakan kaum Musailamah al-Kadzdzab yang mengaku-ngaku sebagai nabi di tanah Yamamah. Ia mengirimkan sebuah surat kepada Rasulullah saw. yang di dalamnya ia menyebutkan bahwa dirinya adalah _syariik_ (partner) beliau dan bumi ada dua bagian. Lalu Rasulullah saw. mengirimkan surat balasan kepadanya yang isinya adalah berikut ini.

"Dari Muhammad Rasulullah kepada Musailamah al-Kadzdzab. Salam sejahtera bagi orang yang mengikuti petunjuk, ammaa ba'd. Sesungguhnya bumi adalah kepunyaan Allah SWT. Dia mewariskannya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dari para hamba-Nya, dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa."

Abu Bakar ash-Shiddiq melancarkan perang terhadap Musailamah al-Kadzdzab, dan ia berhasil dibunuh oleh Wahsyi yang sebelumnya merupakan orang yang membunuh Hamzah. Wahsyi berkata, "Pada masa kejahiliyyahanku, aku telah membunuh manusia terbaik. Pada masa keislamanku, aku berhasil membunuh manusia terburuk."

3. Bani Asad yang dipimpin oleh Thulaihah bin Khuwailid. Ia murtad pada masa Rasulullah saw. dan diperangi oleh Abu Bakar ash-Shiddiq pada masa kehilafahannya. Lalu Thulaihah bin Khuwailid melarikan diri ke Syam dan kembali masuk Islam dan keislamannya pun baik.

Pada masa Abu Bakar ash-Shiddiq, ada tujuh kabilah yang murtad. Ketujuh kabilah itu adalah sebagai berikut.

1. Ghathafan di bawah kepemimpinan Qurrah bin Salimah.

2. Fazarah, kaum Uyainah bin Hishn.

3. Bani Sulaim, kaum al-Fuja'ah Abd Yalail.

4. Bani Yurbu' kaum Malik bin Nuwairah.

5. Sebagian kabilah Bani Tamim, dipimpin oleh Sajah Binti al-Mundzir, seorang dukun perempuan yang tidak lain merupakan istri dari Musailamah al-Kadzdzab.

6. Kindah, kaum al-Asy'ats bin Qais.

7. Bani Bakar bin Wa'il al-Hatham bin Zaid.

Sedangkan orang yang murtad pada masa Umar bin Khaththab adalah Jabalah bin Aiham al-Ghassani yang masuk Kristen dan lari ke tanah Syam. Kisahnya adalah suatu ketika ia melakukan thawaf di Ka'bah. Lalu pakaiannya terinjak oleh kaki seorang laki-laki dari Fazarah. Lalu Jabalah pun menamparnya hingga mengakibatkan tulang hidung laki-laki itu patah. Laki-laki dari Fazarah pun mengadukannya kepada Amirul Mukminin Umar bin Khaththab. Khalifah Umar pun memberikan putusan berupa pilihan antara memberi maaf atau menuntut qishash. Lalu Jabalah pun protes dan berkata, "Apakah Anda menjatuhkan qishash terhadapku, padahal aku adalah orang terkemuka, sementara laki-laki ini adalah rakyat jelata?!" Lalu khalifah Umar pun berkata, "Islam telah menetapkan persamaan di antara kamu berdua.” Kemudian Jabalah pun meminta waktu sampai besok, lalu ia pun melarikan diri.

Dengan begitu, total keseluruhan orang yang murtad ada sebelas kelompok.

Adapun kaum yang Allah SWT. mendatangkan dan cintai dan mereka mencintaiNya adalah Abu Bakar ash-Shiddiq dan rekanrekannya. Ada keterangan lain mengatakan bahwa mereka adalah kaum dari penduduk Yaman.

Ada keterangan lainnya lagi mengatakan, mereka adalah kaum Abu Musa al-Asy’ari. Dalam hal ini, ath-Thabari mentarjih pendapat yang mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan kaum Abu Musa yang berasal dari penduduk Yaman. Hal ini berdasarkan riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw. ketika membaca ayat ini, beliau berkata, "Mereka adalah kaum Abu Musa."

*Sebab Turunnya Ayat 56*

Sebab turunnya ayat (إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ ٱللَّهُ).Terdapat sejumlah riwayat yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lain menuturkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Ali bin Abu Thalib yang ketika ia sedang shalat sunnah, ada peminta-minta meminta kepadanya. Lalu ia pun mensedekahkan cincinnya kepada si peminta-minta itu. Sementara itu, ar-Razi menegaskan bahwa ayat ini terkait khusus dengan diri Abu Bakar ash-Shiddiq. Faktanya adalah bahwa riwayat tentang cincin itu tidak shahih.

Ayat (وَمَن يَتَوَلَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ) adalah pemberitahuan dari Allah SWT kepada para hamba-Nya yang berlepas diri dari kaum Yahudi serta dari jalinan persekutuan dan patronase mereka karena ridha dan lebih memilih Allah SWT, Rasul-Nya dan kaum Mukminin sebagai patron mereka.

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

1. Ayat-ayat di atas berisikan ancaman Allah bagi orang akan murtad setelah wafatnya Nabi Muhammad saw. juga berisikan informasi gaib bahwa ada sejumlah manusia yang akan murtad.

Sebagaimana pula ayat-ayat tersebut berisikan janji pahala dari Allah SWT bagi orang yang Allah SWT telah mengetahui bahwa ia tidak mengganti dan mengubah agamanya dan tidak murtad.

Ketika Allah SWT mewafatkan NabiNya, Muhammad saw., ada sejumlah orang dari berbagai kabilah yang murtad. Allah SWT pun memberi ganti kepada kaum Mukminin dengan orang-orang yang lebih baik dari mereka yang murtad itu. Juga, Allah SWT juga memenuhi janji-Nya kepada orang-orang Mukmin tersebut dan merealisasikan ancaman-Nya kepada orang-orang yang murtad.

Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkan dari Qatadah, ia berkata, "Allah SWT menurunkan ayat ini, dan Allah SWT pasti sudah tahu bahwa akan ada orang-orang yang murtad. Ketika Allah SWT mewafatkan Nabi-Nya, Muhammad saw. mayoritas orang Arab murtad dari Islam kecuali penduduk tiga wilayah, yaitu penduduk Madinah, penduduk Mekah, dan penduduk al-Bahrain dari Abdul Qais."

Orang-orang murtad berkata, "Kami tetap shalat, tetapi kami tidak mau mengeluarkan zakat. Sungguh demi Allah, harta-harta kami tidak boleh dirampas.” Lalu Abu Bakar ash-Shiddiq pun dilapori tentang apa yang terjadi, lalu dikatakan kepadanya, "Sungguh seandainya mereka benar-benar memahami hal ini, tentu mereka akan membayar zakat dan bahkan menambahinya." Lalu Abu Bakar ashShiddiq berkata, "Sungguh demi Allah, aku tidak akan membedakan di antara sesuatu yang Allah SWT telah menyatukannya.

Seandainya mereka menolak untuk menyerahkan sedikit saja dari apa yang telah diwajibkan oleh Allah SWT dan RasulNya, pasti kami perangi mereka." Lalu Allah SWT pun mengirimkan sejumlah pasukan bersama-sama Abu Bakar, lalu ia pun memerangi mereka atas dasar yang sama dengan dasar yang digunakan Rasulullah saw. melancarkan perang, ia pun berhasil menawan, membunuh dan membakar sejumlah orang yang murtad dari Islam dan menolak membayar zakat, la pun memerangi mereka hingga mereka kembali mengakui kewajiban membayar zakat, sedang mereka dalam keadaan kalah dan terhina.

Ada sejumlah delegasi Arab datang menemui Abu Bakar ash-Shiddiq. Lalu ia memberikan opsi pilihan kepada mereka antara khitthah mukhziyah (menerima kesepakatan damai yang menjadikan mereka orang-orang yang hina dan lemah) atau harb mujiiyah (perang yang menyebabkan mereka terusir dari kampung halaman). Mereka pun memilih opsi khiththah mukhziyah, dan itu adalah lebih ringan bagi mereka, mengakui bahwa orangorang yang terbunuh dari kalangan mereka adalah di neraka, bahwa orang-orang yang terbunuh dari kaum Mukminin adalah di surga, bahwa harta benda yang sebelumnya mereka peroleh dari tangan kaum Muslimin harus mereka kembalikan lagi, dan harta benda mereka yang berhasil diperoleh oleh kaum Muslimin adalah halal bagi kaum Muslimin.

Kesimpulannya adalah ini termasuk salah satu kemukjizatan Al-Qur’an dan Nabi Muhammad saw. karena menginformasikan kejadian futuristik, yaitu nanti ada orang-orang Arab yang akan murtad dan apa yang diinformasikan benarbenar terjadi beberapa waktu setelah itu. Sebagaimana yang sudah pernah dijelaskan, terjadinya kemurtadan orang-orang Arab setelah wafatnya Rasulullah saw.

Ibnu Ishaq mengatakan ketika Rasulullah saw. wafat, orang-orang Arab murtad kecuali penduduk tiga masjid, yaitu Masjid Madinah, Masjid Mekah dan Masjid Juwa'i. Kemurtadan mereka bisa diklasifikasikan menjadi dua bagian atau kelompok. Pertama, kelompok orang murtad yang mengabaikan dan menentang syari'at secara keseluruhan. Kedua, kelompok murtad yang hanya menentang kewajiban zakat, namun tetap mengakui kewajiban selain zakat, dan mereka berkata, "Kami tetap shalat dan puasa, tetapi kami tidak mau membayar zakat." Lalu khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq pun memerangi mereka semua, mengutus panglima Khalid bin Walid beserta sejumlah pasukan untuk memerangi mereka, dan berhasil mengalahkan dan menawan mereka, sebagaimana yang dijelaskan dalam kisah-kisah yang sudah masyhur.

2. Pendapat paling shahih menyangkut turunnya ayat (فَسَوْفَ يَأْتِى ٱللَّهُ بِقَوْمٍۢ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُۥٓ) adalah ayat ini turun berkenaan dengan al-'Asy'ariyyuun (kaum Abu Musa alAsy’ari). Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa beberapa waktu setelah turunnya ayat ini datanglah kapal-kapal yang mengangkut orang-orang asy-’Ariyyuun dan berbagai kabilah Yaman melalui jalur laut. Mereka memiliki peran besar dalam Islam dan pada masa Rasulullah saw.. Mayoritas penaklukan kawasan Irak pada masa khalifah Umar bin Khaththab adalah berlangsung di tangan kabilah-kabilah Yaman.

Al-Hakim dalam al-Mustadrak meriwayatkan dengan sanadnya, "Bahwasanya Rasulullah saw. menunjuk ke arah Abu Musa al-Asy’ari ketika turunnya ayat ini, seraya beliau berkata, 'Mereka itu adalah kaum orang ini."’

3. Orang-orang Mukmin saling bersikap lemah lembut, rendah hati dan saling berkasih sayang di antara sesama mereka, bersikap penuh simpati dan kasih sayang kepada kaum Mukminin. Pada waktu yang sama, mereka bersikap keras dan angkuh terhadap orang-orang kafir.

Ibnu Abbas mengatakan mereka bersikap kepada sesama kaum Mukminin seperti sikap orang tua kepada anaknya dan seorang majikan kepada budaknya. Sedangkan sikap mereka terhadap orangorang kafir seperti sikap binatang buas terhadap mangsanya.

4. Ayat (يُجَـٰهِدُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَآئِمٍۢ ۚ) menunjukkan keabsahan dan pengukuhan kepemimpinan Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib. Mereka berjuang di jalan Allah SWT pada masa kehidupan Rasulullah saw. dan memerangi orangorang murtad setelah masa beliau. Sudah maklum bahwa orang yang memiliki sifat dan kriteria-kriteria ini, ia adalah wali Allah SWT. Ada keterangan menyebutkan bahwa ayat ini bersifat umum mencakup setiap orang yang berjihad melawan kaum kafir sampai hari Kiamat.

5. Allah SWT adalah wali (Penolong, Pelindung) orang-orang yang beriman. Di sini Allah SWT berfirman (إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَٱلَّذِينَ).

Ibnu Abbas mengatakan, ayat ini turun berkenaan dengan Abu Bakar ash-Shiddiq. Dalam sebuah riwayat lain dan sebagaimana yang disebutkan dalam pembahasan sebab turunnya ayat dari Mujahid dan asSuddi, bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Ali bin Abu Thalib.

Yang lebih shahih adalah ayat ini bersifat umum mencakup semua kaum Mukminin karena kata adalah untuk kelompok orang banyak. Di antara dalil yang menunjukkan keumuman ayat ini adalah berikut ini.

Jabir bin Abdillah berkata, "Abdullah bin Salam berkata kepada Rasululah saw., "Sesungguhnya kaum kami dari Quraizhah dan Nadhir telah mengucilkan dan menjauhi kami, dan mereka bersumpah tidak akan sudi lagi mempergauli kami. Sementara pada waktu yang sama, kami tidak bisa duduk-duduk bergaul dengan para sahabat Anda, karena jauhnya jarak tempat tinggal kami." Lalu turunlah ayat ini. Lalu Abdullah bin Salam pun berkata, "Kami telah ridha Allah SWT, Rasul-Nya dan orang-orang Mukmin sebagai patron kami.”

Para wali Allah SWT adalah mereka yang dijelaskan spesifikasi dan kriteriakriterianya dalam ayat ini, bukan selain mereka, yaitu orang-orang yang menegakkan shalat, menunaikan zakat, khusyu dan tunduk patuh kepada Allah SWT. Maksudnya adalah mereka menunaikan shalat fardhu pada waktunya dengan memenuhi semua hak shalat, serta menunaikan zakat wajib dengan penuh keikhlasan dan senang hati.

6. Barangsiapa memasrahkan urusannya kepada Allah SWT, mematuhi perintah Rasul-Nya, dan her-muwaalaah kepada kaum Mukminin, ia adalah termasuk bagian dari Hizbullaah, yaitu pasukan Allah SWT yang menolong agama-Nya, melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Jika sifat, kriteria dan spesifikasi-spesifikasi ini telah terpenuhi, mereka itulah orang-orang yang menang,

"Dan sesungguhnya bala tentara Kami itulah yang pasti menang." (ash-Shaaffaat: 173)===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login