SURAH AL-MAA'IDAH: 20-26

AL-MA'IDAH (9)

AL-MAA'IDAH: 20-26

NABI MUSA MENGINGATKAN KAUMNYA TENTANG NIKMAT ALLAH SWT SERTA MENGINSTRUKSIKAN MEREKA UNTUK MEMASUKI TANAH SUCI, DAN SIKAP PENOLAKAN MEREKA

FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM

Kisah ini mengandung kecaman terhadap kaum Yahudi serta membeberkan berbagai skandal dan keburukan-keburukan mereka, sikap mereka yang menentang Allah SWT dan rasul-Nya, serta sikap mereka yang enggan mematuhi perintah Allah SWT dan rasulNya kepada mereka untuk melakukan jihad. Mereka pun lemah dan takut untuk memerangi para musuh, padahal di tengah-tengah mereka ada _Kalimullah_, Musa yang menjanjikan mereka pertolongan dan kemenangan atas para musuh mereka. Padahal mereka telah menyaksikan sendiri apa yang diperbuat oleh Allah SWT terhadap musuh mereka, Fir'aun dan bala tentaranya, yaitu ditenggelamkan ke dalam lautan di depan mata kepala mereka.

Jika para pendahulu kaum Yahudi selalu menentang Nabi Musa dan membangkang kepadanya, begitu pula anak cucu mereka juga melakukan sikap yang sama terhadap Nabi Muhammad saw.. Ini merupakan penghibur hati Rasulullah saw..

Semua itu memperlihatkan buruknya watak dan karakter kaum Yahudi serta intensitas mereka dalam melanggar perintah-perintah Allah SWT meskipun Nabi Musa telah mengingatkan mereka atas nikmat-nikmat Allah SWT yang banyak sekali kepada mereka. Diantara nikmat-nikmat tersebut yang paling penting adalah berikut ini.

1. Banyaknya jumlah para nabi yang diutus kepada mereka.

2. Mereka dijadikan orang-orang yang merdeka, setelah sebelumnya mereka adalah para budak raja Fir'aun yang tertindas. Allah SWT pun menyelamatkan mereka dari kondisi tersebut dan menenggelamkan musuh mereka.

3. Allah SWT memberi mereka apa yang belum pernah diberikan kepada siapa pun dari umat-umat lain yang semasa dengan mereka.

Nabi Musa telah memerintahkan mereka untuk melawan musuh mereka dari bangsa Kan'an yang mendiami tanah Palestina ketika itu, serta memerintahkan mereka untuk memasuki tanah suci yang diberkahi. Namun mereka membangkang dan enggan melaksanakan perintah dan instruksi Nabi Musa tersebut, meskipun ada dua laki-laki shalih dari para naqiib (mereka berdua itu adalah Yusya dan Kalib) yang menyampaikan berita gembira kepada mereka bahwa mereka akan mendapatkan pertolongan dan kemenangan.

Kedua laki-laki saleh itu berkata kepada mereka, "Janganlah kalian dibuat takut dan gentar oleh fisik musuh kalian yang tampak tinggi besar dan kekar. Sebenarnya hati mereka dipenuhi perasaan gentar dan takut kepada kalian. Fisik mereka memang tampak tinggi besar dan kekar, namun sejatinya hati mereka lemah dan ciut.”

Mereka tetap saja konsisten pada sikap pembangkangan dan melampaui batas terhadap Allah SWT. Mereka pun menolak masuk ke tanah suci dan berkata kepada Nabi Musa (فَٱذْهَبْ أَنتَ وَرَبُّكَ فَقَـٰتِلَآ إِنَّا هَـٰهُنَا قَـٰعِدُونَ). Ini merupakan sikap kafir dari mereka, karena mereka ragu terhadap risalah Nabi Musa.

Nabi Musa pun berdoa tidak baik (mengutuk) terhadap mereka serta memohon supaya ada putusan yang tegas dan final antara dirinya dengan mereka. Allah SWT pun memperkenankan doa Nabi Musa tersebut dan menghukum mereka di Padang at-Tiih selama empat puluh tahun. Nabi Musa dan Nabi Harun meninggal dunia ketika berada di Padang at-Tiih tersebut. *Imam Muslim* dalam Shahih-nya meriwayatkan dari *Abu Hurairah*, ia berkata:

_“Malakul maut (malaikat pencabut nyawa) diutus kepada Nabi Musa. Lalu tatkala malakul maut itu mendatangi Nabi Musa, maka nabi Musa a.s pun menampar mukanya hingga menyebabkan mata malakul maut itu pecah. Lalu malakul maut pun kembali menghadap Tuhannya dan berkata, ‘Ya Tuhan, Engkau mengutusku kepada seorang hamba yang tidak ingin mati! Lalu Allah SWT. pun mengembalikan dan memulihkan mata malakul maut yang pecah tersebut seperti sedia kala, lalu berfirman kepadanya, ‘Kembalilah kamu kepada Musa, dan katakan kepadanya untuk meletakkan tangannya di atas punggung lembu jantan, maka setiap helai bulu yang tertutup tangannya dihitung satu tahun untuk dirinya! Nabi Musa berkata, ‘Ya Tuhanku, kemudian setelah itu apa?’ Allah SWT. berfirman, ‘Kemudian mati! Nabi Musa berkata, ‘Maka, sekaranglah saatnya! Lalu Nabi Musa pun memohon kepada Allah SWT supaya ia didekatkan ke tanah suci hingga jarak antara dirinya dengan tanah suci adalah sejauh lemparan kerikil. Rasulullah saw. bersabda, ‘Seandainya aku berada di sana, maka aku akan perlihatkan kepada kalian di mana kuburan Nabi Musa yang terletak di sisi jalan di bawah gundukan pasir merah.”_ *(HR Muslim)*

Tindakan yang dilakukan oleh Nabi Musa terhadap malakul maut tersebut karena ia tidak mengetahui kalau orang asing yang datang kepadanya adalah malakul maut. Ketika melihat orang asing yang sebenarnya adalah malakul maut masuk ke rumah tanpa seijin dirinya dan orang itu menginginkan dirinya. Nabi Musa pun membela diri, lalu menampar orang tersebut hingga mengakibatkan matanya pecah.

Hukuman Ilahi terhadap Bani Isra'il yang selalu membangkang dan tidak mau taat tersebut adalah menghabisi mereka, untuk memperbarui dan merekonstruksi dan tubuh umat dengan lahirnya generasi baru yang masih muda yang akan mengemban tanggung jawab, memiliki kelayakan dan kompetensi untuk berjihad dan melawan orang-orang jabbaar, serta menjadikan mereka para pewaris tampuk kepemimpinan.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login