AN-NISAA' (83)
AN-NISAA': 174-175
SERUAN KEPADA MANUSIA UNTUK BERIMAN KEPADA _AN-NUURUL MUBIIN_ (AL-QUR’AN)
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
_Burhaan_ atau bukti agung dari Allah SWT untuk para hamba-Nya adalah Nabi Muhammad saw.. Beliau disebut _al-Burhaan_ karena beliau disertai dengan _al-Burhaan_ yaitu mukjizat atau hujjah karena mukjizat adalah hujjah beliau.
_An-Nuurul Mubiin_ (cahaya yang terang benderang) adalah Al-Qur’an. Disebut _an-Nuur_ (cahaya) karena dengan Al-Qur’an, hukum-hukum bisa diketahui dengan jelas, dan Al-Qur'an dijadikan sebagai petunjuk dari kesesatan. Oleh karena itu, Al-Qur'an adalah _an-Nuurul Mubiin_, yakni cahaya yang nyata dan terang benderang.
Barangsiapa beriman kepada Allah SWT serta berpegang teguh kepada Al-Qur'an dapat terhindar dari perbuatan-perbuatan maksiat dan ia akan menggapai surga dan keridhaan Allah SWT, serta mendapatkan karunia Ilahi yang agung di dunia dan akhirat.
Ayat (وَفَضْلٍۢ) menunjukkan Allah SWT bermurah hati kepada para hamba-Nya dengan memberi mereka pahala cuma-cuma tanpa imbalan apa pun. Jika seandainya pahala adalah sebagai bandingan atau imbalan amal, tentunya itu bukan karunia dan kebaikan hati.
*Ar-Razi* mengatakan rahmat dan karunia dipahami dalam konteks apa yang terdapat dalam surga berupa kemanfaatan dan pengagungan. Adapun hidayah, maksudnya adalah berbagai kebahagiaan yang muncul karena menyemburnya cahaya-cahaya alam kesucian dan keluhuran dalam ruh manusia, dan ini adalah kebahagiaan ruhaniah. Dalam ayat ini, hidayah disebutkan belakangan setelah dua hal di atas (rahmat dan karunia), dengan tujuan untuk memberikan isyarat bahwa kebahagiaan ruhaniah lebih mulia daripada kesenangan-kesenangan jasmaniah.
Hidayah dalam Al-Qur'an ada dua macam, yaitu hidayah umum dan hidayah khusus.
Hidayah umum seperti dalam ayat:
_"Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya."_ *(al-Balad: 10)*
Yaitu, jalan kebahagiaan dan jalan kesengsaraan, jalan kebaikan dan jalan kejelekan. Ini mencakup hidayah indrawi yang tampak maupun yang tidak tampak, hidayah akal dan hidayah agama.
Hidayah khusus seperti dalam ayat:
_"Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka."_ *(al-An'aam: 90)*
_"Tunjukilah kami jalan yang lurus."_ *(al-Faatihah: 6)*
Hidayah yang kedua ini bukan seperti hidayah dan petunjuk yang pertama, tetapi ini adalah hidayah berupa pemberian pertolongan dan taufik untuk berjalan di jalan kebaikan dan keselamatan disertai dengan petunjuk dan bimbingan. Ketika manusia berpotensi keliru dan tersesat dalam memahami agama serta dalam mempergunakan indra dan akal pikiran, ia butuh kepada pertolongan dan bantuan khusus. Oleh karena itu, Allah SWT memerintahkan kita untuk memohon hal itu dari Allah SWT dalam ayat,
_"Tunjukilah kami jalan yang lurus,"_ *(al-Faatihah: 6)*. ====
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
