SURAH AN-NISAA': 171-173

AN-NISAA' (82)

AN-NISAA': 171-173

AL-MASIH ISA PUTRA MARYAM DALAM PANDANGAN AL-QUR’AN

FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM

Ayat-ayat di atas mengandung penjelasan tentang sejumlah hukum esensial dalam aqidah.

1. Sikap berlebih-lebihan, melampaui batas dan ekstrem dalam segala urusan adalah terlarang secara syari'at. Orang-orang Yahudi bersikap berlebih-lebihan dan ekstrem terhadap Isa, hingga mereka juga melontarkan tuduhan palsu dan keji terhadap Sayyidah Maryam. Begitu juga orang-orang Nasrani bersikap berlebih-lebihan dan ekstrem terhadap Isa hingga mereka menjadikannya sebagai tuhan. Kalimat pertama dalam Injil berbunyi, "Ini adalah Kitab Ilah dan Rabb kami; Yasu’ Al Masih."

Sikap sembrono (berlebih-lebihan, _al-Ifraath_) dan sikap lalai (teledor, _at Taqshiir_) dalam hal ini adalah jelek dan kufur. Oleh karena itu, dalam *Shahih Bukhari* diriwayatkan dari *Rasulullah saw.* bahwasanya beliau bersabda:

_"Janganlah kamu sekalian terlalu berlebih-lebihan menyanjungku dan memujaku, sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Nasrani terhadap Isa. Sesungguhnya aku tidak lain hanyalah seorang hamba, maka ucapkanlah, ‘Hamba Allah SWT dan Rasul-Nya!”_ (HR Bukhari) 

2. Ayat (إِنَّمَا ٱلْمَسِيحُ عِيسَى ٱبْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ ٱللَّهِ وَكَلِمَتُهُۥٓ) mengandung sebuah isyarat tentang tiga hukum sebagai berikut.

Kalimat (عِيسَى ٱبْنُ مَرْيَمَ) menunjukkan bahwa orang yang nasabnya disebutkan dengan nama ibunya, bagaimana bisa ia adalah Tuhan? Padahal Tuhan semestinya adalah _qadiim_ (tanpa permulaan), bukan _muhdats._

Allah SWT tidak menuturkan seorang perempuan dan menyebutkan namanya dalam Kitab-Nya kecuali hanya Maryam putri Imran. Allah SWT menyebutkan nama Maryam di sekitar tiga puluh tempat karena suatu hikmah, yaitu mengukuhkan sifat ubuudiyyah (kehambaan) bagi Maryam, sekaligus menyesuaikan dengan kebiasaan masyarakat Arab dalam menyebutkan perempuan yang berstatus hamba sahaya dengan namanya. Sementara itu, perempuan merdeka, masyarakat Arab menghormati dan menjaga namanya dari penyebutan secara jelas dan eksplisit, supaya namanya tidak menjadi rendah dan turun nilai prestisenya karena sering disebut.

Meyakini bahwa Isa tanpa bapak adalah wajib. Oleh karena itu, ketika namanya disebut berulang-ulang dengan dinisbahkan kepada ibunya, hati dan pikiran akan mendapat pemahaman dan kesadaran tentang penafian keberadaan seorang ayah dari dirinya, serta membersihkan ibundanya yang suci dari omongan negatif kaum Yahudi dan tuduhan telah berbuat zina yang dilancarkan oleh mereka terhadap dirinya.

3. Isa memiliki empat nama sebutan, yaitu al-Masih, Isa, Kalimat, dan Ruh. Yang dimaksud dengan nama sebutan "Kalimat” adalah ia diciptakan dengan kalimat (كُنَ) _at-Takwiiniyyah_, jadilah ia seorang manusia tanpa seorang bapak. Sedangkan yang dimaksud dengan nama sebutan "Ruh" yang diambil dari ayat (وَرُوحٌۭ مِّنْهُ ۖ) adalah ia diperadakan dengan tiupan Malaikat Jibril. Kata  (النَّفَّخُ) (tiupan) dalam perkataan orang Arab juga disebut ruh, karena kata (رُوْح) dengan (رِيْح) (angin) adalah memiliki kemiripan. An-Nafkhu adalah (angin) yang keluar dari ruh. Yang dimaksudkan dari kata (dari Allah SWT) dalam kalimat di atas adalah untuk memuliakan, bukannya ia bagian dari Allah SWT. Semua makhluk adalah dari ruh Allah SWT seperti perkataan, "Ini adalah nikmat dari Allah SWT" dan perkataan ini mengandung pengertian bahwa nikmat tersebut adalah sebuah nikmat yang sempurna dan berharga. Dikatakan, "Ini adalah ruh dari Allah SWT" yakni, dari ciptaan-Nya.

Kaum Nasrani telah terjatuh ke dalam kekeliruan dan kesesatan ketika mereka mengatakan, Isa adalah bagian dari Allah SWT karena ia adalah ruh dari Allah SWT.

4. Mengimani dan meyakini bahwa sesungguhnya Allah SWT adalah Tuhan Yang Esa, Yang menciptakan al-Masih dan Yang mengutusnya sesungguhnya para rasul termasuk di antaranya Isa adalah para hamba Allah SWT, keimanan seperti ini adalah sebuah kewajiban, keharusan, dan keniscayaan. Inilah keimanan yang benar yang diterima akal pikiran yang waras. Oleh karena itu, tidak bisa menjadikan Isa sebagai Tuhan.

5. Haram hukumnya pernyataan bahwa Allah berbilang atau Allah tiga. Ibnu Abbas mengatakan, yang dimaksud dengan at-Tatsliits (trinitas] adalah Allah, istri, dan putra.

Kaum Nasrani bersepakat tentang trinitas dan mengatakan sesungguhnya Allah satu esensi dan memiliki tiga hipostasis, lalu mereka menjadikan setiap hipostesis sebagai Tuhan. Yang mereka maksudkan dengan hipostasis adalah wujud, kehidupan, dan pengetahuan. Namun yang umum berlaku adalah mereka mengungkapkan tiga hipostasis dengan ungkapan Bapak, Anak, dan ar-Ruhul alQudus. Yang mereka maksudkan dengan Bapak adalah wujud, ar-Ruhul Qudus adalah kehidupan, dan Anak adalah al-Masih. Substansi pernyataan mereka, sebagaimana yang sudah pernah disinggung di atas, berujung pada pernyataan bahwa Isa adalah Tuhan, disebabkan berbagai bentuk mukjizat dan hal-hal supernatural yang dimilikinya sehingga orang yang memiliki kemampuan seperti itu memiliki sifat ketuhanan.

Tidak ada yang lebih akurat dalam membuktikan bahwa Isa bukanlah Tuhan, dari kenyataan bahwa seandainya ia memang Tuhan, tentunya ia akan menyelamatkan dirinya dari para musuhnya dan menghalau kejelekan dan kejahatan mereka, serta tidak membiarkan mereka menyalibnya sebagaimana pandangan kaum Nasrani bahwa Isa disalib.

6. Berhenti dari pandangan trinitas dan meninggalkannya adalah kebaikan murni dan itu adalah yang benar. Allah SWT adalah Tuhan Yang Esa dan tersucikan dari beranak, bahkan segala apa yang ada di langit dan bumi adalah milik dan kepunyaan-Nya, sementara status dimiliki bertentangan dengan status sebagai anak. Oleh karena itu, tiada sekutu bagi-Nya. Isa dan Maryam adalah termasuk dari apa yang ada di langit dan bumi yang merupakan kepunyaan Allah SWT. Segala apa yang ada di langit dan bumi adalah makhluk ciptaan, lalu bagaimana bisa Isa adalah Tuhan, padahal ia adalah makhluk?

7. Al-Masih sekali-kali tidak akan pernah bersikap enggan, tidak akan pernah merasa malu dan tidak akan pernah bersikap tidak sudi untuk menjadi hamba Allah SWT. Begitu pula dengan para malaikat al-Muqarrabuun (para malaikat yang didekatkan kepada rahmat dan ridha Allah SWT) sekali-kali tidak akan bersikap enggan dan tidak sudi untuk menjadi hamba Allah SWT.

Barangsiapa yang bersikap enggan dan tidak sudi untuk menyembah kepada Allah SWT sehingga ia tidak memiliki komitmen untuk menjalankan ibadah atau ketaatan, sesungguhnya Allah SWT akan mengumpulkan semua makhluk ke al-Mahsyar dan Dia akan memberi balasan kepada masing-masing sesuai dengan apa yang berhak didapatkan.

Orang-orang Mukmin yang beramal saleh mendapatkan pahala amal-amal mereka secara penuh, utuh, dan sempurna tanpa dikurangi sedikit pun, dan Allah SWT akan memberi mereka tambahan dari karunia, rahmat, dan kebaikan-Nya.

Orang-orang yang sombong, angkuh, enggan, anti dan tidak mau menyembah Allah SWT, akan diadzab dengan adzab yang sangat menyakitkan. Mereka tidak menemukan patron yang mengurusi urusan mereka, maupun seorang penolong yang akan menolong dan menyelamatkan mereka.

8. Sebagian ulama menggunakan ayat (وَلَا ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ ٱلْمُقَرَّبُونَ ۚ) sebagai landasan dalil bahwa malaikat lebih utama daripada manusia. Juga, bahwa para malaikat lebih besar bentuk dan wujud penciptaannya serta lebih besar kemampuannya daripada alMasih. Pandangan ini disanggah bahwa ayat ini dalam konteks menjelaskan para malaikat lebih besar wujud dan bentuk penciptaannya serta memiliki kemampuan melakukan hal-hal yang besar. Oleh karena itu semestinya mereka lebih pantas dan lebih mampu untuk enggan menyembah Allah SWT dan menjadi hamba-Nya daripada Isa, namun mereka sekali-kali tidak akan melakukan hal itu. Keberadaan para malaikat yang lebih kuat dan lebih mampu serta lebih pantas untuk bersikap seperti itu tidak mesti berarti mereka lebih utama.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login