AN-NISAA' (69)
AN-NISAA': 123-126
BERHAK MENDAPAT SURGA BUKANLAH HANYA DENGAN ANGAN-ANGAN DAN HAL YANG DIPERHITUNGKAN DALAM MASALAH BALASAN ADALAH BAIK BURUKNYA AMAL PERBUATAN
Sebab Turunnya Ayat 123
*Ibnu Abi Hatim* meriwayatkan dari *Ibnu Abbas*, ia berkata, "Kaum Yahudi dan Nasrani berkata, "Tidak masuk surga selain kami." Sementara orang-orang Quraisy berkata, "Sesungguhnya kami tidak akan dibangkitkan kembali." Lalu Allah SWT pun menurunkan ayat ini.
*Ibnu Jarir ath-Thabari* meriwayatkan dari *Masruq*, ia berkata, "Orang-orang Nasrani dan orang-orang Islam saling membanggakan diri dan masing-masing saling berkata, "Kami lebih mulia daripada kalian." Lalu Allah SWT menurunkan ayat ini."
*Ath-Thabari* juga meriwayatkan dari *Masruq*, ia berkata, "Ketika turun ayat (لَّيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَآ أَمَانِىِّ أَهْلِ ٱلْكِتَـٰبِ ۗ) orang-orang Ahlul Kitab berkata, "Dan kalian sama juga." Lalu turunlah lanjutan ayat berikutnya (وَمَن يَعْمَلْ مِنَ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ مِن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌۭ)
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Ayat-ayat di atas menunjukkan sejumlah tuntunan, penyuluhan dan hukum sebagai berikut.
1. Tiada seorang pun yang hanya mengandalkan harapan-harapan dan angan-angan kosong semata karena balasan terkait dengan amal perbuatan. Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, pahalanya untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jelek, dosanya untuk dirinya sendiri. Sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya. Pelindung, pengampu dan penolong orang-orang saleh, adalah Allah SWT. Sedangkan pengampu orang-orang sesat dan para pendosa, adalah setan. Padahal setan terlalu lemah untuk menjauhkan adzab Allah SWT dari dirinya sendiri. Karena itu, bagaimana mungkin setan bisa menjauhkan adzab Allah SWT dari diri orang-orang yang ia sesatkan dalam kehidupan dunia?
Orang-orang musyrik tidak memiliki seorang pengampu pun yang akan mengurus perkara-perkara mereka dan tidak pula seorang penolong yang akan menolong mereka. Jika ayat ini dipahami dalam konteks orang kafir, maksudnya adalah besok ia tiada memiliki seorang pengampu dan seorang penolong pun. Jika ayat ini dipahami dalam konteks orang Mukmin, maksudnya adalah bahwa ia tiada memiliki seorang pengampu dan seorang penolong pun selain Allah SWT.
2. Amal-amal baik tidak bisa diterima tanpa dibarengi dengan keimanan.
Iman adalah syarat mendasar, karena iman adalah pilar utama bangunan agama. Meskipun orang-orang musyrik kala itu menjadi pelayan Ka'bah, memberi makan kepada para jamaah haji dan menjamu tamu, sedangkan Ahlul Kitab adalah orang-orang yang lebih terdahulu dan mereka berkata, "Kami adalah putra-putra Tuhan dan para kekasih-Nya,” tetapi amal saleh sama sekali tidak bermanfaat dan tiada guna bagi mereka tanpa keimanan. Hal ini berdasarkan pengertian ayat di atas.
3. Agama Islam diunggulkan atas agama-agama lain dalam prinsip dan pokok-pokoknya yang benar.
Maksud kalimat (مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُۥ لِلَّهِ) adalah memurnikan agamanya hanya untuk Allah SWT, tunduk patuh kepada-Nya dan mengarahkan ibadahnya hanya kepadaNya semata.
Ada sebagian ulama yang memahami bahwa kalimat (وَهُوَ مُحْسِنٌۭ) maksudnya adalah mengesakan Allah SWT sehingga Ahlul Kitab tidak termasuk ke dalam cakupannya, karena mereka tidak mau beriman kepada Nabi Muhammad saw. Kata (اَلْملَّة)artinya adalah (الدِّين) (agama), sedangkan (الْحَنِيف) artinya adalah (الْمُسْلِم)
4. Nabi Ibrahim adalah _Khaliilullaah_ (hamba kesayangan Allah SWT). *Az-Zamakhsyari* mengatakan ini adalah majaz atau metafora tentang dipilihnya Nabi Ibrahim oleh Allah SWT serta diberi sebuah kemuliaan dan kehormatan yang spesial menyerupai kemuliaan dan kehormatan seorang kekasih di mata kekasihnya.
Kata (الْخَلِيل) secara bahasa artinya adalah (الْمُخَال) yaitu orang yang senantiasa bersamamu dan berjalan bersamamu, atau orang yang menutupi kekuranganmu sebagaimana kamu juga menutupi kekurangannya. *Tsa'lab* mengatakan, seorang kekasih disebut _al-Khaliil_ karena kasih sayang dan cintanya merembes ke dalam sela-sela hati sehingga tiada suatu titik yang kosong melainkan akan diisi olehnya.
Ada yang mengatakan, bahwa kata (الْخَلِيل) adalah bermakna _isim maf'uul_ seperti kata (الْحَبِيب) yang bermakna (اَلْمَحجُوب) Nabi Ibrahim adalah hamba yang mencintai Allah SWT dan ia adalah orang yang dicintai oleh Allah SWT.
Ada pula yang mengatakan, bahwa maknanya adalah yakni Allah SWT mengistimewakan Ibrahim dengan kerasulan pada masanya.
Bagaimana pun juga, dijadikannya nabi Ibrahim sebagai _al-Khalil_ oleh Allah SWT sama sekali tidak mengandung pengertian suatu kedekatan secara konkrit dan fisik. Sebab dibalik ia dijadikan sebagai _Khalilullah_ adalah adakalanya karena ia senantiasa memberi suguhan makanan atau karena ia senantiasa berkomitmen untuk menjadi abdi dan pelayan Allah hingga meninggal dunia. Diriwayatkan dari *al-Qasim bin Abi Umamah,* ia berkata, *"Rasulullah saw. bersabda:*
_“Sesungguhnya Allah SWT menjadikanku sebagai Khalil sebagaimana Dia menjadikan Ibrahim a.s sebagai khalil, dan sesungguhnya tiada seorang nabi pun melainkan ia memiliki seorang khalil, dan sesungguhnya khalilku adalah Abu Bakar.”_ *(HR ath-Thabrani)*.
5 . Allah SWT adalah Pemilik dan Pencipta langit dan bumi. Makna yang ingin diungkapkan dari ayat (وَلِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۚ وَكَانَ) dalam konteks ini adalah Allah SWT menjadikan Ibrahim sebagai Khalil adalah karena kualitas ketakwaannya, bukan karena Allah butuh untuk menjadikannya sebagai Khalil, dan juga bukan pula untuk memperbanyak pengikut dan memperkuat posisi, padahal Dia lah Dzat Yang memiliki segala apa yang ada di langit dan segala apa yang ada di bumi. Allah memuliakan Ibrahim sekali lagi disebabkan ia mematuhi perintah-Nya.
6. Luasnya ilmu Allah SWT (وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍۢ مُّحِيطًۭا), yakni, ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
