SURAH AN-NISAA': 83

AN-NISAA' (52)

AN-NISAA': 83

MENYEBARKAN BERITA DENGAN BERSANDARKAN SUMBER YANG TIDAK SHAHIH

SEBAB TURUNNYA AYAT

*Imam Muslim* meriwayatkan bahwa *Umar bin Khaththab* berkata, "Ketika Rasulullah saw. menjauhi istrinya, beliau pergi ke masjid. Di dalam masjid beliau mendapati orang-orang sedang memukul-mukul tanah pasir (menandakan mereka risau) dan berkata bahwa Rasulullah telah menalak istrinya. Kemudian turunlah ayat ini dan saya menyimpulkan hukum dari ayat ini."


 
*Ibnu Jarir ath-Thabari* berkata, "Ayat ini turun berkenaan dengan sekelompok orang yang membincangkan sesuatu pada malam hari dan perbincangan mereka itu tidak sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Rasul atau tidak sesuai dengan apa yang telah mereka katakan di hadapan Rasul."

*As-Suyuthi* berkata, "Ayat ini turun berkenaan dengan sekelompok orang-orang munafik atau orang-orang yang lemah imannya yang menyebarkan berita bohong sehingga menyebabkan hati kaum beriman melemah dan juga menyakiti Rasulullah saw" 

Menurut saya pendapat yang cocok adalah pendapat yang diutarakan oleh as-Suyuthi, "Sesungguhnya penyebaran berita dan isu yang tidak benar biasanya dilakukan oleh orang-orang munafik dengan tujuan yang nista dan biasanya juga dilakukan oleh orang-orang awam yang lemah imannya karena tidak tahu dan dengan niat yang baik. Adapun yang diceritakan oleh Umar bisa jadi merupakan salah satu dari sebab turunnya ayat juga.

*Az-Zamakhsari* berkata, "Mereka adalah orang-orang Muslim yang lemah imannya dan tidak berpengalaman menghadapi situasi tertentu dan tidak biasa merahasiakan sesuatu. Jika ada berita dari tentara pengintai utusan Rasulullah yang menginformasikan bahwa keadaan aman atau ada ancaman mereka menyebarkan berita itu, padahal penyebaran berita itu dapat membahayakan."

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Ayat di atas memberi kita beberapa petunjuk dan nasihat.

1. Wajib meneliti berita terlebih dahulu sebelum menceritakan atau menyebarkannya. Mengawasi dan mengendalikan berita-berita yang disebarkan ke khalayak ramai adalah suatu keharusan supaya rahasia dan kesatuan umat dapat terjaga. 

Sikap seperti ini perlu dipertahankan dengan kuat dan tidak perlu tergoda dengan propaganda-propaganda yang keliru.

2. Ahli ilmu, orang-orang yang berpengalaman dan para pemimpin adalah orang-orang yang paling berhak berbicara masalah yang menyangkut dengan kepentingan umum, mereka juga termasuk ahli ijtihad dalam masalah agama.

3. Kita akan banyak tergelincir mengikuti bujuk rayu setan jika kita tidak mendapat anugerah dan kasih sayang Allah.

4. Al-Jashshash ar-Razi berkata, "Ayat di atas menjadi dalil wajibnya menggunakan qiyaas, berijtihad dengan akal dalam masalah-masalah yang baru muncul. Ketika Rasulullah saw. masih hidup, setiap permasalahan dapat ditanyakan kepada beliau. Setelah beliau meninggal, pertanyaan ditujukan kepada para ulama. Namun apabila hukum permasalahan tersebut tidak ada nash yang menerangkannya, perlu ijtihad.

Adapun hukum-hukum yang ada nashnya, tidak boleh diijtihadi. Dengan demikian, hukum-hukum Allah ada yang secara jelas dinyatakan dalam nash syara' dan ada juga yang tidak disentuh oleh nash syara' dan untuk mencapai hukum tersebut kita diperintah untuk istinbaath dan istidlaal (ijtihad).

Ayat ini juga mengandung banyak makna, di antaranya adalah adanya permasalahan-peramasalahan baru yang hukumnya tidak disinggung oleh nash syara'. Ulama wajib berijtihad menetapkan hukumnya yaitu dengan cara mencari padanan-padanannya dalam nash syara'. Orang awam dibolehkan taklid kepada ulama dalam masalah-masalah baru; Nabi Muhammad saw juga diperintahkan untuk menyimpulkan hukum serta mencari dalil untuk suatu permasalahan karena Allah memerintahkan umat Islam untuk mengembalikan permasalahan kepada rasul dan Ulil Amri, kemudian Allah berfirman: (لَعَلِمَهُ ٱلَّذِينَ يَسْتَنۢبِطُونَهُۥ مِنْهُمْ ۗ) Ailah tidak hanya mengkhususkan Ulil Amri tapi juga Rasul. Atas dasar ini maka ayat ini dapat menjadi dalil bahwa semuanya diperintahkan beristinbath yaitu berusaha menetapkan hukum dengan cara mencari dalil.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login