AN-NISAA' (38)
AN-NISAA': 44-46
SIKAP DAN PERILAKU KAUM YAHUDI
SEBAB TURUNNYA AYAT
Ayat-ayat ini turun berkenaan dengan perilaku Yahudi Madinah. *Ibnu Ishaq* berkata, "Rifa'ah bin Zaid bin at-Tabut adalah salah seorang pemuka kaum Yahudi. Apabila berbincang dengan Rasul, dia memutar-mutar lidahnya dan berkata, "Pasanglah telingamu wahai Muhammad sehingga kami dapat memahamkan pikiran kami kepadamu." Kemudian dia mencela dan menghina agama Islam, lalu Allah SWT menurunkan ayat (أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ نَصِيبًۭا مِّنَ ٱلْكِتَـٰبِ) hingga akhir ayat.
Para ahli tafsir menceritakan bahwa *Kab bin al-Asyraf* -salah seorang pemuka kaum Yahudi- bersama-sama tujuh puluh orang Yahudi lainnya pergi menuju Mekah setelah Perang Uhud. Mereka hendak bersekutu dengan kafir Quraisy untuk mengkhianati Rasulullah saw. sehingga kafir Quraisy mau membatalkan kesepakatan yang telah terjalin di antara mereka dengan *Nabi Muhammad.*
Ka'b kemudian datang ke rumah Abu Sufyan dan yang lainnya pergi ke rumah-rumah kafir Quraisy yang lain. Abu Sufyan berkata kepada Ka'b, "Sesungguhnya kamu adalah orang yang membaca al-Kitab dan juga mengetahuinya, sedangkan kami adalah kaum yang ummiy dan tidak pandai. Siapakah di antara kami yang lebih mendapat petunjuk dan lebih dekat dengan kebenaran? Kami ataukah Muhammad?" Ka'b menjawab, "Terangkan dulu apa agamamu?" Abu Sufyan kemudian menjelaskan, "Kami selalu menyembelih unta-unta gemuk untuk menyambut orang-orang yang berhaji, menyiapkan air minum untuk mereka, menghormati tamu, berusaha untuk membebaskan tawanan, menjalin ikatan persaudaraan, memakmurkan rumah Tuhan kami dan kami pun berthawaf mengelilinginya, kami adalah penduduk tanah al-Haram. Sedangkan Muhammad telah memisahkan diri dari agama nenek moyangnya, memutuskan jalinan persaudaraan dan menjauhi al-Haram.
Agama kami sudah lama ada, sedangkan agama Muhammad adalah agama yang baru." Ka'b kemudian berkata, "Demi Allah, jalan kalian adalah jalan yang lebih mendapat petunjuk dibanding dengan jalan yang dilewati Muhammad." Kemudian Allah SWT menurunkan ayat (أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ نَصِيبًۭا مِّنَ ٱلْكِتَـٰبِ) hingga akhir ayat, yang maksudnya adalah Ka'b dan kawan-kawannya.
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Ayat-ayat ini bermaksud untuk mencela kaum Yahudi di Madinah dan orang-orang yang bergabung dengan mereka, orang-orang yang mempunyai perilaku seperti mereka dan mengikuti cara hidup mereka. Mereka semua dicela karena perilaku mereka sangat nista dan sikap mereka sangat hina karena mereka banyak melakukan kemungkaran dan kemaksiatan.
Mereka membeli (memilih) kesesatan dan menjual (meninggalkan) petunjuk. Mereka juga menginginkan umat Islam mengikuti kesesatan mereka dan meninggalkan jalan yang benar. Mereka memproklamirkan permusuhan kepada ajaran Islam dan umat Islam. Oleh sebab itu, janganlah kalian menjadikan mereka sebagai kawan. Mereka adalah musuh kalian. Mereka telah mengubah firman-firman Allah, memindahkannya dari tempat yang asal dan mengartikannya dengan takwilan-takwilan yang melenceng. Mereka juga mencampur aduk antara firman Allah dengan tulisan-tulisan manusia yang melenceng dan penuh dengan kesalahan. Kitab Taurat mereka sekarang ini berisikan kalimat-kalimat yang merendahkan kemuliaan Allah dan menghina kehormatan para Nabi. Di dalamnya juga tersimpan semangat permusuhan, kebencian terhadap umat lain selain kaum Yahudi. Ada juga ajakan untuk menghancurkan kota-kota dan meluluhlantakkan peradaban, merusak kekayaan hewani, nabati dan juga potensi-potensi industri.
Ketika berkata dengan Nabi, mereka menunjukkan sikap congkak, menghina dan merendahkan pribadi Nabi. Mereka berkata, "Kami mendengar ucapanmu namun kami menentang perintahmu" atau "dengarlah, saya tidak mau mendengar." Imam Hasan al-Bashri dan Mujahid berkata, "yang dimaksud dengan kalimat itu adalah wahai Muhammad apa yang kamu katakan tidak akan didengar dan dipatuhi". Mereka juga berkata (وَرَٰعِنَا) yang artinya adalah bodoh.
*Firman Allah SWT* (لَيًّۢا بِأَلْسِنَتِهِمْ) menunjukkan bahwa mereka memalingkan mulutnya dari kebenaran. Maksudnya adalah mereka mengikutkan mulutnya kepada suara hatinya sehingga mereka pun mencela agama Islam. Bahkan mereka berkata kepada para sahabat, "Kalau dia memang Nabi tentulah dia tahu bahwa kami mencemoohnya." Kemudian Allah SWT memberitahu perkara itu kepada Rasulullah saw. Dan ini merupakan tanda-tanda kenabiannya. Lalu Nabi melarang sahabat-sahabatnya mengucapkan kata (وَرَٰعِنَا).
Kalau seandainya orang-orang Yahudi itu berbicara dengan Nabi dengan manggunakan kalimat-kalimat yang sopan, tentunya itu akan membawa kebaikan kepada mereka. Namun sebenarnya mereka bukanlah orang yang beriman, kalaupun beriman, maka imannya sangat tipis sekali sehingga tidak layak untuk dikatakan sebagai orang beriman.====
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
