AN-NISAA' (26)
AN-NISAA': 26-28
ALASAN PENETAPAN HUKUM PADA AYAT-AYAT SEBELUMNYA
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
*Al-Baihaqi* dalam kitab _Sya'b al-Imaan_ meriwayatkan bahwa *Ibnu Abbas* berkata, _"Dalam surah an-Nisaa' terdapat delapan ayat yang nilainya lebih baik dari pada semua benda yang ada di dunia ini dari mulai tempat terbitnya matahari sampai tempat tenggelamnya._ Delapan ayat tersebut termasuk tiga ayat yang kita bahas ini *(an-Nisaa': 26-28).*
_"Adapun orang-orang yang berimqn kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan tidak membeda-bedakan di antara mereka (para rasul), kelak Allah akan memberikan pahala kepada mereka. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."_ *(an-Nisaa' : 152)*
Ketiga ayat di awal menerangkan beberapa hal berikut:
1. Keluasan anugerah dan rahmat Allah SWT. Hal ini sangat jelas sekali apabila kita perhatikan bahwa Allah SWT telah menerangkan perkara-perkara keagamaan dan juga kemaslahatan-kemaslahatan keduniaan kepada makhluk-Nya. Dia juga menerangkan dengan jelas perkara-perkara yang halal dan perkara-perkara yang haram. Ini menunjukkan bahwa setiap perkara pasti telah ditetapkan hukumnya oleh Allah, sebagaimana ditegaskan dalam *firman-Nya:*
_"Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan."_ *(al-An'aam: 38)*
2. Adanya keterkaitan antara masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang. Sepanjang zaman, manhaj yang lurus di alam raya ini hanyalah satu. Allah telah menerangkan dengan jelas kepada hamba-hamba-Nya mengenai perbedaan jalanjalan yang ditempuh oleh pendukung kebenaran dan penyokong kebatilan.
3. Pengampunan terhadap dosa. Allah mengharapkan hamba-hamba-Nya bertobat dan Dia akan menerima tobat tersebut dengan memaafkan dosa-dosa yang pernah dilakukan.
4. Menetapkan prinsip kemudahan dalam semua hukum syari'at. Allah menginginkan kemudahan bagi manusia. Ini dapat dirasakan dalam semua hukum syari'at yang ditetapkan oleh Allah, bukan hanya dalam masalah dibolehkannya nikah dengan budak perempuan saja.
5. Kelemahan manusia. Maksudnya manusia cenderung untuk mengikuti hawa nafsu, syahwat dan amarah. Dalam keadaan seperti ini tentunya manusia memerlukan aturan yang mudah dan ringan. Di antara contoh kelemahan manusia adalah ketidaksabarannya menahan nafsu ketika menghadapi perempuan. Meskipun *Ubadah bin ash-Shamit dan Sa'id bin al-Musayyib* sudah lanjut usia, tetapi mereka tetap khawatir dari godaan perempuan.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
