ALI 'IMRAN (55)
ALI 'IMRAN 185-186
KEMATIAN ADALAH AKHIR SETIAP YANG BERJIWA, PAHALA PADA HARI KIAMAT DAN COBAAN DI DUNIA
SEBAB TURUNNYA AYAT
Sebab turunnya ayat, (وَلَتَسْمَعُنَّ) *Ibnu Abi Hatim dan Ibnul Mundzir* meriwayatkan dengan sanad hasan dari *Ibnu Abbas r.a*. bahwa ayat ini turun terkait apa yang terjadi antara Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. dan Finhash di atas pada ayat yang menjelaskan perkataan kaum Yahudi yang dijelaskan pada ayat 181, (قَالُوٓا۟ إِنَّ ٱللَّهَ فَقِيرٌۭ وَنَحْنُ أَغْنِيَآءُ ۘ سَنَكْتُبُ)
*Abdurrazzaq* menuturkan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan _syair_ *Ka'b bin al-Asyraf* yang memuat hujatan dan hinaan terhadap Nabi Muhammad saw. serta memuat agitasi dan provokasi terhadap kaum kafir Quraisy untuk menentang beliau.
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Ayat-ayat ini menunjukkan kepada informasi-informasi seperti berikut:
1. Dunia bersifat fana, akhirat bersifat kekal, segala sesuatu pasti binasa kecuali Allah SWT Dzat Yang memiliki kebesaran dan kemuliaan, segala sesuatu yang hidup pasti akan mati, sesungguhnya akhirat adalah tempat penghitungan dan pembalasan amal, sesungguhnya kebahagiaan yang sempurna dan nyata tidak lain hanya di temukan di dalam keberhasilan meraih surga dan selamat dari neraka.
Ketika ada seseorang yang sedang sekarat menjemput maut, maka disunnahkan mengajarinya syahadat tanpa mengulang-ngulangnya agar ia tidak jemu dan bosan. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh *Imam Ahmad, Imam Muslim dan ashhaabus sunan dari Abu Sa'id*:
لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ
_"Talqinkanlah naza' (orang yang sekarat) di antara kalian dengan bacaan laa'ilaaha illallaah."_
Hal ini bertujuan agar kalimat tauhid adalah kalimat terakhir yang diucapkannya, sehingga ia dicatat sebagai orang yang meninggal dunia dengan _husnul khatimah_ dan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT. Disunnahkan juga membacakan surah _Yaasiin_ di dekat orang yang sedang naza' atau menjemput ajal, karena *Rasulullah saw bersabda:*
اقْرَءُوا عَلَى مَوْتَاكُمْ يس
_"Bacakanlah orang yang sedang naza' surah Yaasiin."_ *(HR Abu Dawud)*
*Al-Ajuri* menuturkan dari hadits *Ummu Darda' dari Rasulullah saw:*
مَا مِنْ مَيِّتٍ يُقْرَأُ عِنْدَهُ يس إِلَّا هَوَّنَ اللَّهُ عَلَيْهِ
_"Tidak ada seseorang yang sedang naza' yang dibacakan surah Yaasiin kecuali akan diringankan untuknya kematiannya."_
Orang yang meninggal dunia dimandikan kecuali orang yang mati syahid, dikafani, dishalati dan dikuburkan. Disunnahkan untuk mempercepat langkah ketika mengusung jenazah, hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh *al-Jamaa'ah dariAbu Hurairah r.a.,*
_"Berjalanlah dengan cepat ketika mengusung jenazah (untuk dibawa ke tempat pemakaman), karena jika jenazah tersebut adalah jenazah orang saleh, maka berarti kalian menyegerakan dirinya mendapatkan kebaikan.
Namun jika jenazah tersebut adalah jenazah orang yang tidak saleh, maka berarti kalian bersegera meletakkan keburukan dari atas pundakkalian."_
2. Sesungguhnya pemenuhan balasan pahala amal kebaikan dan hukuman kemaksiatan waktu dan tempatnya adalah hari kiamat. Balasan bagi orang Mukmin adalah pahala sedangkan balasan bagi orang kafir adalah siksa.
3. Dunia adalah sesuatu yang menipu yang selalu berusaha memperdayakan setiap Mukmin, sehingga ia mengira akan lama di dunia, padahal sebenarnya kehidupan dunia adalah fana. Dunia mirip dengan barang-barang yang remeh yang bisa dinikmati dan digunakan seperti cangkul, panci, ember dan mangkuk, namun kemudian semua barang tersebut rusak dan hilang. Ini adalah pendapat kebanyakan para ulama tafsir tentang maksud ayat, (وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَـٰعُ ٱلْغُرُورِ).
4. Memiliki harta dan kenikmatan duniawi tidak bisa memberikan ketenangan, begitu juga sebaliknya tidak memiliki harta duniawi juga membuat tidak tenang. Manusia di di dunia tidak lain berada di dalam sebuah tempat ujian dan cobaan terhadap harta kekayaan dan terhadap jiwa. Cobaan terhadap harta kekayaan berupa berbagai musibah dan bencana yang memusnahkannya, kewajiban berinfak di jalan Allah SWT dan kewajiban-kewajiban agama lainnya yang berkaitan dengan harta. Sedangkan cobaan terhadap jiwa berupa kematian, terkena penyakit dan kehilangan orang-orang terdekat dan kerabat.
Apabila seorang Mukmin menghadapi sesuatu yang menyakitkan hatinya karena Al-Qur'an, agama dan Nabinya dihujat dan dihina, maka ia harus sabar tetap menjaga ketakwaan, memalingkan diri dari orang-orang kafir yang melakukan huiatan dan penghinaan tersebut, tetap memegang teguh akidah, tabah dan sabar di dalam menghadapi berbagai cobaan dan ketika berperang di jalan Allah SWT ketika memang jalan dengan perang ini harus ditempuh.
Allah SWT menegaskan kepada para hamba-Nya untuk bersabar dan bertakwa, Allah SWT menjelaskan kepada mereka bahwa sabar dan takwa termasuk perkara yang wajib meneguhkan diri dan menguatkan tekad untuk menjalankannya. Karena hal ini menjadi bukti kuatnya keinginan, bulatnya tekad dan luhurnya himmah. *Al-Qurthubi* berkata, _"Azmul umuur adalah perkara-perkara yang keras dan kuat."_
Menurut pendapat yang kuat, sebenarnya ayat ini -seperti yang dikatakan oleh Al-Qurthubi- tidak dinaskh (dihapus). Karena perintah membantah dengan cara yang lebih baik dan bersikap ramah tetap dianjurkan. Rasulullah saw. sendiri meskipun ada perintah untuk memerangi musuh, beliau tetap mau berdamai dan bersikap ramah terhadap kaum Yahudi, bersikap lapang dada serta memaafkan orang-orang munafik.====
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
