SURAH ALI 'IMRAN 142-148

ALI 'IMRAN (43)

ALI 'IMRAN 142-148

TEGURAN TERHADAP SEBAGIAN PASUKAN UHUD AKAN KESUCIAN JIHAD DAN KEHARUSAN TEGUH DI DALAM MEMEGANG PRINSIP SERTA MENGINGATKAN BAHWA KEMATIAN TERJADI ATAS IZIN DAN KEHENDAK ALLAH SWT

SEBAB TURUNNYA AYAT

*1. Sebab turunnya ayat 143*
*Ibnu Abi Hatim* meriwayatkan dari *Ibnu Abbas r.a.* bahwa ada beberapa sahabat yang pernah berkata, 'Andai saja kami terbunuh seperti terbunuhnya para pasukan Badar atau andai saja kami memiliki kesempatan seperti kesempatan perang Badar kami bisa memerangi kaum musyrikin dan kami bisa memberikan bukti sesuatu yang baik atau kami bisa mendapatkan mati syahid dan pahala surga atau tetap hidup dan mendapatkan rezeki (harta rampasan perang)." Lalu Allah SWT pun memberikan apa yang mereka harapkan itu, yaitu perang Uhud, namun ternyata pada perang Uhud tersebut mereka tidak mendapatkan apa yang mereka katakan dan mereka inginkan tersebut, kecuali orangorang yang dikehendaki oleh-Nya. Lalu Allah SWT pun menurunkan ayat ini. Maksudnya, tidak ada di antara mereka orang yang tetap hidup kecuali yang dikehendaki Allah SWT untuk tetap hidup.

*2. Sebab turunnya ayat 144*
*Ibnul Mundzir* meriwayatkan dari *Ibnu Umar r.a.*, ia berkata, "Pada perang Uhud, kami tercerai berai dari Rasulullah saw., lalu saya naik ke atas bukit, lalu saya mendengar kaum Yahudi berkata, "Muhammad telah terbunuh." Lalu saya berkata, "Saya tidak mendengar seseorang mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw. telah terbunuh kecuali saya akan memenggal kepalanya." Lalu saya memperhatikan keadaan lalu saya melihat Rasulullah saw bersama orang-orang mulai terdesak mundur lalu turunlah ayat ini."

*Ibnu Abi Hatim* meriwayatkan dari *ar-Rabi'*, ia berkata, "Tatkala pasukan Islam mengalami apa yang mereka alami berupa luka dan mereka mulai memanggil-manggil Nabi Muhammad saw. maka orang-orang berkata: "Nabi Muhammad saw. telah terbunuh." Lalu ada orang-orang yang berkata, "Seandainya Muhammad memang seorang Nabi, maka tentunya ia tidak terbunuh." Lalu ada orang-orang lainnya berkata, "Berperanglah kalian demi apa yang karenanya, Nabi kalian berperang sampai Allah SWT memberikan kemenangan kepada kalian atau sampai kalian bertemu dengan-Nya (terbunuh), Lalu Allah SWT menurunkan ayat ini.

*Athiyyah al-Aufi* berkata, "Pada perang Uhud, orang-orang mengalami kekalahan, lalu ada sebagian orang berkata, "Muhammad telah terbunuh, maka oleh karena itu menyerahlah kalian kepada mereka (musuh), karena mereka tidak lain juga saudara kalian." Namun ada sebagian yang lain berkata, "Tetaplah kalian pada apa yang ditetapi oleh Nabi kalian hingga kalian menghadap Allah SWT (maksudnya terbunuh)". Lalu Allah SWT menurunkan ayat ini.

*Ibnu Abi Rahawaih* di dalam Musnadnya meriwayatkan dari az-Zuhri bahwa pada perang Uhud, setan berteriak, "Sesungguhnya Muhammad telah terbunuh." Ka'b bin Malik berkata, "Dan saya adalah orang yang pertama kali melihat Rasulullah saw saya melihat kedua mata beliau dari dalam topi baja yang beliau kenakan. Lalu saya berteriak sekeraskerasnya, "Ini Rasulullah saw." Lalu Allah SWT menurunkan ayat ini.

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Ayat-ayat ini mengandung berbagai hukum yang sangat erat kaitannya dengan kejiwaan manusia, harapan-harapannya dan berbagai macam situasi yang dilaluinya di dalam kehidupan ini, seperti situasi takut, lemah, ragu-ragu, kemunduran dan kedangkalan berpikir meskipun sudah memiliki dasar keimanan yang seharusnya mampu menjadi sebagai pengingat untuk bersikap teguh, tabah, berani dan bertekad kuat untuk meraih kemenangan, memutus jalan kembali kepada kekufuran dan orang-orang kafir tidak terpengaruh dengan kematian pemimpin atau Nabi. Karena keistiqamahan harus bersifat permanen dan langgeng, tidak hanya terbatas ketika sang Nabi masih hidup dan juga keistiqamahan tidak karena demi diri seorang Nabi.

1. Sesungguhnya masuk surga digantungkan kepada sikap menempuh jalan orang-orang yang berjihad yang tulus yang terbunuh, sabar menahan rasa sakit akibat luka dan rela mengorbankan jiwa dan raga di jalan Allah SWT.

2. Sesungguhnya keberhasilan meraih kesyahidan di jalan Allah SWT bukan dengan angan-angan belaka, akan tetapi diraih dengan kesungguhan, ketabahan dan kesabaran di dalam berjihad. Keinginan kaum Muslimin untuk mati disini adalah dikarenakan dorongan untuk meraih kesyahidan dengan cara seperti yang disebutkan sebelumnya, bukan keinginan terbunuh di tangan orang-orang kafir. Karena hal ini merupakan sebuah kemaksiatan dan kekufuran, sedangkan menginginkan kemaksiatan adalah sesuatu yang dilarang. Inilah yang dimaksudkan kaum Muslimin dari permintaan mereka kepada Allah SWT agar dikaruniai kesyahidan. Mereka meminta diberi ketabahan dan kesabaran di dalam berjihad meskipun hal itu menyebabkan kematian mereka.

3. Sesungguhnya para rasul tidak selamanya bersama kaum mereka, akan tetapi yang wajib dilakukan adalah memegang teguh apa yang dibawa oleh para rasul, meskipun para rasul tersebut telah tiada, baik karena terbunuh atau wafat dengan wajar. Adapun orang yang kembali kepada kekufuran setelah beriman, maka hal itu sedikit pun tidak akan menimbulkan kerugian bagi Allah SWT akan tetapi justru sebaliknya, hal itu hanya akan menimbulkan kemudharatan dan kerugian bagi dirinya sendiri serta menyebabkan dirinya terancam terkena hukuman disebabkan sikapnya tersebut. Karena sesungguhnya Allah SWT Maha Kaya, sama sekali tidak butuh kepada ketaatan hamba dan sama sekali tidak akan terganggu oleh kemaksiatannya. Allah SWT sama sekali tidak diuntungkan oleh ketaatan seorang hamba juga sama sekali tidak dirugikan oleh kemaksiatannya. Dan Allah SWT akan memberi pahala kepada orang-orang yang bersyukur; sabar berjihad dan mati syahid.

Kandungan-kandungan ini mengandung teguran dan celaan bagi orang-orang yang mundur dan melarikan diri pada perang Uhud, di samping itu juga menjadi pelajaran bagi orang-orang seperti mereka. Sikap Abu Bakar ash-Shiddiq r,a. ketika Rasulullah saw. wafat merupakan bukti paling kuat akan asy-Syajaa'ah dan al-Jar'ah (keberanian, ketangguhan dan ketabahan) dirinya. Karena asy-Syajaa'ah dan al-Jar'ah adalah ketabahan hati tatkala terjadi musibah dan tidak ada musibah yang lebih besar dari kematian Rasulullah saw. Keteguhan dan ketabahan Abu Bakar r.a. serta keberpegangannya kepada ayat, (وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌۭ) mampu meneguhkan hati kaum Mukminin, mencabut akar timbulnya fitnah dan memangkas keraguan serta perkataan-perkataan orang-orang bodoh.

Adapun penyebab terlambatnya kaum Mukminin memakamkan Rasulullah saw-padahal yang sunnah telah menjelaskan untuk menyegerakan memakamkan jenazah- adalah tiga hal, adanya ketidakpercayaan sebagaian sahabat kalau Nabi Muhammad saw. telah wafat, mereka bingung dan tidak tahu dimana Rasulullah saw harus dimakamkan hingga akhirnya Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. menyampaikan kepada mereka sabda Rasulullah saw. "Seorang Nabi tidak dimakamkan kecuali di tempat dimana ia meninggal dunia," dan yang ketiga adalah mereka disibukkan dengan perselisihan antara kaum Muhajirin dan Anshar seputar siapakah selanjutnya yang akan menjadi khalifah dan selanjutnya perselisihan tersebut secara prinsip berakhir dengan kesepakatan mereka untuk membai'at Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. sebagai khalifah pertama. Kemudian keesokan harinya mereka membai'at Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. dengan suka rela dan berdasarkan mufakat yang menyeluruh.

Kemudian mereka mulai bersiap siap untuk memakamkan Rasulullah saw mereka memandikan, mengkafani dan menshalati jenazah beliau secara sendiri-sendiri (tidak berjamaah) dengan cara bergantian. *Ibnu Majah* meriwayatkan dengan sanad hasan dari *Ibnu Abbas r.a.:*

_"Lalu ketika mereka telah selesai mengurusi jenazah Rasulullah saw. yaitu pada hari Selasa, maka selanjutnya jenazah beliau diletakkan di atas dipan beliau di rumah beliau, kemudian secara bergantian orang-orang dari golongan laki-laki masuk untuk menshalati jenazah beliau. Setelah itu, ganti para wanita yang masuk, kemudian setelah selesai, ganti para anak-anak. Waktu itu, tidak ada seorang pun yang menjadi Imam shalat jenazah."_

4. Sesungguhnya Nabi Muhammad saw adalah seorang manusia seperti para Nabi yang lainnya yang pasti juga meninggal dunia. Tugas setiap Nabi adalah menyampaikan agama dan tugas itu selesai setelah tujuan yang dimaksudkan telah terealisasi. Kepergian para Nabi tidak bisa lantas menjadi pembenar untuk merusak risalah yang mereka bawa. Sesungguhnya berbagai musibah yang menimpa seseorang tidak ada hubungannya sama sekali dengan masalah apakah ia berada di atas kebenaran atau kebatilan. Berapa banyak orang yang saleh ditimpa berbagai musibah dan sebaliknya orang yang bermaksiat mendapatkan berbagai jenis kenikmatan.

5. Kematian adalah sesuatu yang pasti dan telah ditentukan waktunya yang tidak akan bisa dimajukan atau ditangguhkan barang sesaat pun. Semua orang pasti akan mati jika ajal yang ditentukan untuknya telah tiba, baik dengan cara dibunuh atau tidak. Inilah maksud ayat, (كِتَـٰبًۭا مُّؤَجَّلًۭا ۗ) Adapun ayat, (بِإِذْنِ ٱللَّهِ كِتَـٰبًۭا) maksudnya adalah dengan qadha' dan qadar Allah SWT. Ajal adalah waktu yang di dalam pengetahuan Allah SWT ruh sesuatu yang hidup akan meninggalkan raganya pada waktu itu. Ketika ada seseorang dibunuh, maka kita tahu bahwa itu memang sudah menjadi ajalnya, jadi tidak boleh dikatakan, "Seandainya ia tidak dibunuh, maka tentunya ia masih hidup." Karena *Allah SWT berfirman:*

_"sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya."_ *(Ali 'Imran: 145)*

_"Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan (nya)."_ *(Yunus: 49)*

_"maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang."_ *(al-Ankabuut: 5)*

_"Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu)."_ *(ar-Ra'd: 38)*

Ayat, (وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَن تَمُوتَ) mengandung dorongan untuk berjihad, menegaskan bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti terjadi, tidak boleh tidak, sesungguhnya setiap manusia pasti akan mati ketika ajal atau waktu yang telah ditentukan untuknya sudah tiba, begitu juga orang yang terbunuh, juga mati sesuai dengan ajalnya.

6. Barangsiapa yang membatasi harapan, keinginan dan usahanya hanya kepada dunia saja, bukan akhirat, maka Allah SWT akan memberinya bagian yang memang telah ditentukan untuknya. Sedangkan barangsiapa yang menjadikan keinginan dan cita-citanya adalah akhirat, maka Allah SWT akan memberinya dunia dan akhirat.

7. Ayat, (وَكَأَيِّن مِّن نَّبِىٍّۢ) menunjukkan puncak sikap objektif adil dan jujur terhadap kebenaran. Jadi, amal saleh, jihad di jalan Allah SWT, tegar; tabah dan sabar ketika berperang tidak hanya monopoli para sahabat Nabi Muhammad saw saia. Banyak para pengikut Nabi-Nabi sebelumnya yang juga melakukan hal-hal yang mengagumkan, sikap-sikap kepahlawanan yang luar biasa. Mereka berperang berjihad, teguh, sabar dan terbunuh. Semangat juang mereka tidak pernah melemah, tekad mereka tidak pernah surut. Mereka tidak pernah bersikap lemah dan menyerah akibat apa yang menimpa mereka di dalam jihad. Sikap dan tindakan mereka ini dibarengi dengan sebuah perkataan yang membuktikan kuatnya keimanan mereka, sucinya jiwa mereka, keikhlasan dan ketulusan mereka di dalam menggapai ridha Allah SWT.

Mereka semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memohon kepada-Nya di saat berada di dalam kesulitan, kesempitan dan ketika berperang melawan musuh. Sehingga mereka memang berhak untuk diberi kenikmatan oleh Allah SWT di dunia berupa pertolongan dan kemenangan atas musuh, dan di akhirat berupa surga. Mereka diberi gelar sebagai muhsinuun (orang-orang yang berbuat baik) dan mereka dikaruniai pahala yang abadi, agung dan melimpah yang tidak bisa terhitung.

Sikap mereka yang luhur dikarenakan pendekatan diri mereka kepada Allah SWT berdoa kepada-Nya dengan sepenuh hati dan permintaan ampunan mereka mengandung petunjuk bahwa diperkenankannya suatu doa menuntut keikhlasan, ketulusan, sucinya jiwa dan kekhusyu'annya kepada Allah SWT. Begitu juga hal ini menunjukkan bahwa dosa-dosa dan kemaksiatan-kemaksiatan termasuk faktor-faktor terjadinya kehinaan dan kekalahan, sedangkan ketaatan, ketabahan, kesabaran, keteguhan dan keistiqamahan termasuk faktor-faktor mendapatkan pertolongan dan kemenangan.

8. Doa yang utama adalah doa yang tersebutkan di dalam Al-Qur'an dan hadits, karena kefasihannya, kandungan maknanya yang banyak dan luas dengan bahasa yang singkat, seperti doa _ar-Ribbiyyuun_ yang tersebutkan di dalam *ayat 147 surah Ali 'Imran,*

_"Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir"._

Diriwayatkan di dalam shahih *Muslim dari Abu Musa al-Asy'ari r.a.* dari Rasulullah saw. bahwa beliau membaca doa berikut:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي، وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي

_"Ya Allah, ampunilah dosa dan kesalahanku, kebodohanku, sikap berlebih-lebihanku di dalam seluruh urusanku dan apa yang Engkau lebih Tahu tentangnya dariku."_

[Doa ini merupakan bagian dari doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ dalam memohon ampunan kepada Allah atas segala dosa, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja.]===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login