ALI 'IMRAN (42)
ALI 'IMRAN 137-141
NASIB ORANG-ORANG YANG MENDUSTAKAN RASUL DAN NASIB ORANG-ORANG YANG BERTAKWA SERTA TERCAPAINYA KEMULIAAN BAGI KAUM MUKMININ DENGAN JALAN JIHAD
SEBAB TURUNNYA AYAT
*1. Sebab turunnya ayat 139:*
*Ibnu Abbas r.a.* berkata, "Pada perang Uhud, para sahabat mengalami kekalahan. Lalu ketika itu, tiba-tiba *Khalid bin Walid* beserta pasukan berkuda kaum musyrik ingin naik ke atas bukit untuk menyerang pasukan Islam. Melihat hal itu, lalu Rasulullah saw berkata, "Ya Allah, jangan sampai mereka mengalahkan kami, ya Allah, tiada kekuatan bagi kami kecuali atas izin dan kehendak-Mu,ya Allah, di tanah ini tidak ada orang yang menyembah-Mu kecuali orang-orang ini." Lalu Allah SWT menurunkan ayat-ayat ini. Lalu ada sekelompok dari kaum Muslimin yang langsung meloncat berlarian ke atas bukit, lalu mereka menyerang pasukan berkuda kaum musyrik dengan senjata panah sehingga akhirnya mereka kalah dan mundur.
Ini adalah maksud ayat: (وَأَنتُمُ ٱلْأَعْلَوْنَ) "padahal kalianlah sebenarnya orang-orang yang lebih tinggi."
*2. Sebab turunnya permulaan ayat 140, (إِن يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌۭ)*
*Rasyid bin Sa'd* berkata, "Tatkala Rasulullah saw. kembali dari peperangan Uhud dalam keadaan muram dan sedih, ada seorang perempuan yang datang membawa suami dan putranya yang terbunuh sambil menampar-nampar dirinya sendiri. Lalu Rasulullah saw berkata, "Apakah seperti ini Rasul-Mu diperlakukan?" Lalu Allah SWT menurunkan
ayat ini (ayat 140)."
*3. Sebab turunnya akhir ayat 140 (وَيَتَّخِذَ مِنكُمْ)*
*Ibnu Abi Hatim* meriwayatkan dari 'Ikrimah, ia berkata, "Tatkala kaum wanita Muslimah sudah menunggu lama datangnya berita tentang perang Uhud yang belum kunjung datang kepada mereka, maka mereka pergi keluar untuk mencari berita tentang perang Uhud. Lalu ketika itu, ada dua orang laki-laki datang sambil mengendarai unta.
Lalu ada seorang wanita berkata, "Bagaimana keadaan Rasulullah saw.?" Lalu kedua laki-laki tersebut berkata, "Beliau masih hidup." Lalu wanita tersebut berkata, "Kalau begitu, saya tidak peduli lagi siapa-siapa dari hamba Allah SWT yang Dia pilih sebagai para syuhada." Lalu turunlah akhir ayat ini, "wayattakhidza minkum syuhadaa'a."
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Tema ayat-ayat ini menurut bahasa sekarang adalah penguatan moral atau spirit kaum Mukminin dan menjadikan mereka tidak terpengaruh dan tidak goyah oleh berbagai kejadian di dalam sebuah pertempuran. Sedangkan menurut bahasa para ulama tafsir tema ayat-ayat ini adalah semacam penghibur dari Allah SWT untuk kaum Mukminin.
Ayat-ayat ini mengingatkan mereka kembali akan sunnatullah yang bersifat pasti dan permanen di alam ini, yaitu mengaitkan antara sebab dan akibat disertai dengan keimanan yang kuat kepada kekuasaan mutlak Allah SWT untuk mengadakan apa yang dikehendaki-Nya. Ayat-ayat ini mengingatkan tentang kehancuran umat-umat sebelum kita yang mendustakan para Nabi mereka seperti kaum 'Ad dan Tsamud serta mengingatkan bahwa akhir yang baik diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman. Jika kaum musyrik mendapatkan kemenangan pada perang Uhud, maka hal ini tidak lain hanya sebagai bentuk penangguhan (untuk memberikan balasan amal) kepada mereka serta memperdayakan mereka untuk digiring kepada kebinasaan secara pelan-pelan. Namun kemenangan akhir pasti akan diberikan kepada Nabi Muhammad saw. dan kaum Mukminin sedangkan musuh mereka pasti akan dibinasakan.
Kemudian Allah SWT menghiburhati kaum Mukminin atas apa yang menimpa mereka pada perang Uhud berupa jatuhnya korban, baik yang mati maupun terluka, mendorong dan memberi mereka semangat untuk memerangi musuh dan melarang mereka bersikap lemah, merasa gagal dan tidak mampu serta tidak mau berjihad memerangi musuh. Karena sesungguhnya kekalahan atau musibah tidak lain untuk mengingatkan perlunya memperbaiki kesalahan-kesalahn yang ada, melakukan pengkajian kembali secara mendalam untuk masa yang akan datang dan membuat rencana yang matang untuk menghadapi perang-perang selanjutnya. Sehingga apa yang telah terjadi bisa dijadikan sebagai pelajaran dan ,ibrah. Ketika itu, maka akhir yang baik berupa kemenangan dan keberhasilan adalah unutuk orang-orang yang beriman, jika mereka memang melakukan persiapan dengan baik dan bisa mengambil pelajaran dari kesalahan-kesalahan yang telah lalu.
Dan janji Allah SWT kepada kaum Mukminin pun benar-benar terealisasi, yaitu bahwa setelah Uhud, mereka adalah orang-orang yang lebih tinggi, maksudnya menang menghadapi para musuh. Dan memang benar; mereka mampu meraih kemenangan di dalam pertempuran-pertempuran selanjutnya, baik pada masa Nabi Muhammad saw. maupun pada masa sahabat. Ini merupakan petunjuk atau dalil akan kemuliaan dan keutamaan umat ini, umat Islam. Karena di dalam ayat ini, Allah SWT berbicara kepada mereka dengan menggunakan bahasa yang digunakan-Nya untuk para Nabi sebelumnya. Di dalam sebuah ayat, Allah SWT berkata kepada Nabi Musa a.s.,
_"Kami berkata: "janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang)"_ *(Thaahaa: 68)*
Di dalam ayat ini, Allah SWT berkata kepada umat Islam:
_"padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi."_ *(Ali 'Imran: 139)*
Berputarnya roda kehidupan dan silih bergantinya nasib dan keadaan di antara manusia di dalam perang, terkadang kemenangan di pihak kaum Mukminin berkat pertolongan Allah SWT dan terkadang di pihak orang-orang kafir ketika kaum Mukminin melakukan kemaksiatan, hal ini bertujuan agar bisa diketahui dan dibedakan antara mana orang yang beriman dan mana orang yang munafik. Hal ini seperti yang difirmankan oleh *Allah SWT*
_"Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman. Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik."_ *(Ali 'Imran: 166-167)*
Di antara fungsi dan manfaat silih bergantinya nasib dan keadaan di dalam hal perang adalah, untuk memuliakan sebagian kaum dengan mengaruniai mereka mati syahid dan selanjutnya mereka dijadikan para saksi atas manusia yang lain dan mereka menjadi orang-orang untuk diberi kesaksian bahwa mereka adalah para penghuni surga.
Mati syahid memiliki keutamaan yang agung seperti yang dijelaskan oleh *Allah SWT* di dalam firman-Nya,
_"sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka."_ *(At-Taubah: 111)*
_"Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari adzab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmuke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar."_ *(ash-Shaaff: 10-12)*
Di dalam shahih *al-Busti* diriwayatkan dari *Abu Hurairah r.a.*, ia berkata, *"Rasulullah saw. bersabda:*
_"seseorang yang mati syahid tidak merasakan dari terbunuhnya dirinya kecuali seperti apa yang dirasakan oleh salah satu dari kalian dari luka yang dialaminya."_
Ayat, _"way attakhidza minkum syuhadaa',"_ mengandung isyarat bahwa kehendak Allah SWT beda dengan perintah, seperti yang dikatakan oleh kaum ahlussunnah. Sesungguhnya Allah SWT melarang orang-orang kafir membunuh Hamzah dan para sahabat yang lain, namun Dia menghendaki terbunuhnya mereka. Allah SWT melarang Nabi Adam a.s. memakan asy-Syajarah, namun Dia menghendaki terjadinya Adam memakan asy-Syajarah tersebut. Begitu juga sebaliknya, Allah SWT memerintahkan iblis untuk bersujud, namun Allah SWT tidak menghendaki hal itu, sehingga iblis pun tidak mau melaksanakan perintah tersebut. Hal ini diisyaratkan oleh Allah SWT di dalam firman-Nya:
_"Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka."_ *(at-Taubah: 46)* Allah SWT memerintahkan semua orang untuk berjihad, akan tetapi Allah SWT menciptakan sikap malas dan menciptakan hal-hal yang menjadi sebab keengganan untuk pergi berjihad, sehingga mereka pun tidak berangkat berjihad.
Ayat, _"wallaahu laa yuhibbuzh zhaalimiin",_ _(dan Allah SWT tidak menyukai orang-orang zhalim, maksudnya orang-orang musyrik)_ menunjukkan bahwa Allah SWT meskipun memberikan kemenangan sekali kepada kaum kafir atas kaum Mukminin, namun Dia tidak menyukai mereka dan akan menghukum mereka. Dan sebaliknya, meskipun Allah SWT menimpakan kekalahan dan rasa sakit atas kaum Mukminin, namun Dia mencintai mereka dan akan memberi mereka pahala.
Inti atau natijah al-Mudaawalah bergantinya kemenangan dan kekalahan di dalam perang) adalah bahwa Allah SWT menghendaki adanya pertempuran untuk menguji kaum mukminin, memberi mereka pahala dan membersihkan diri mereka dari dosa-dosa mereka serta untuk membinasakan orang-orang kafir.
Surga ada harganya dan harus dibeli dengan ganti yang mahal, lalu wahai kalian yang kalah pada perang Uhud, apakah kalian mengira akan masuk surga seperti orang-orang yang terbunuh dan sabar atas rasa sakit karena luka dan terbunuh tanpa kalian harus menempuh jalan yang sama dengan jalan yang mereka tempuh dan tanpa bersabar seperti kesabaran mereka?! Tidak. ====
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
