SURAH ALI 'IMRAN 118-120

ALI 'IMRAN (36)

ALI 'IMRAN 118-120

SIKAP MENARUH KEPERCAYAAN KEPADA KAUM KAFIR, MEMBOCORKAN RAHASIA-RAHASIA KEPADA MEREKA DAN SIKAP MEREKA TERHADAP KAUM MUKMININ YANG TIDAK AKAN PERNAH BERUBAH

*SEBAB TURUNNYA AYAT*

*Ibnu Jarir ath-Thabari dan Ibnu Ishaq* meriwayatkan dari *Ibnu Abbas r.a.,* ia berkata, "Ada beberapa orang dari kaum Muslimin menjalin hubungan yang erat dengan beberapa orang Yahudi, karena pada masa jahiliah di antara mereka terjalin ikatan persekutuan dan saling memberi pertolongan dan perlindungan keamanan. Lalu Allah SWT menurunkan ayat ini dan melarang mereka -kaum Muslimin menjadikan orang-orang Yahudi tersebut sebagai orang-orang terdekat, karena dikhawatirkan mereka akan terkena fitnah." Hal yang sama juga diriwayatkan dari Mujahid.

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Ayat 118 mengandung petunjuk tentang empat perkara:

1. Penegasan peringatan dan teguran terhadap sikap mempercayai orang-orang kafir, karena alasan yang disebutkan oleh ayat 100 di atas, yaitu: _"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman."_ *(Ali 'Imran: 100)*

2. Larangan bagi kaum Mukminin untuk menjadikan orang-orang kafir, kaum Yahudi dan orang-orang yang mengikuti hawa nafsu sebagai penasihat dan orang kepercayaan di dalam hal-hal yang sangat penting, larangan menyerahkan berbagai urusan kepemerintahan yang sangat penting kepada mereka. Adapun menjadikan kaum Ahli Kitab sebagai juru tulis dan para pegawai di dalam bidang-bidang kepemerintahan yang tidak berkaitan dengan masalah-masalah pemerintahan yang sensitif dan krusial, maka berdasarkan pengalaman sejarah para khalifah yang pernah melakukan hal ini, maka hal ini tidak apa-apa. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Sa'id al Khudri r.a. dari Rasulullah saw beliau bersabda:

_"Allah SWT tidak mengutus seorang Nabi dan tidak pula mengangkat seseorang menjadi khalifah kecuali ia memiliki dua jenis bithaanah (penasihat, orang-orang dekat), pertama bithaanah yang menyerukan dan mendorongnya untuk berbuat baik". Sedangkan yang kedua adala bithaanah yang mengajak dan mendorongnya melakukan kejelekan. Maka orang yang terjaga dari hal-hal yang tidak baik adalah orang yang dijaga dan dilindungi oleh Allah SWT."_

3. Ayat, (مِّن دُونِكُمْ) (di luar kalangan kalian) menunjukkan bahwa yang dilarang adalah menjadikan orang-orang non Muslim sebagai orang dekat, dikarenakan faktor-faktor yang telah disebutkan di atas, yaitu, mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kemudaratan kepada kalian, mereka menyukai dan mengharapkan kalian tertimpa kesusahan dan kesulitan, dikarenakan telah nyata sikap kebencian dan pendustaan mereka terhadap kalian dari mulut-mulut mereka dan karena kebencian dan kedengkian yang mereka simpan di dalam hati iauh lebih besar dari apa yang mereka tampakkan melalui mulut-mulut mereka.

4. Di dalam ayat ini terdapat sebuah isyarat bahwa kesaksian seseorang atas musuhnya tidak boleh dan tidak diterima. Hal ini seperti apa yang dikatakan oleh ulama Madinah dan ulama Hijaz. Namun diriwayatkan dari Abu Hanifah bahwa hal itu -kesaksian seseorang atas musuhnya boleh dan diterima.
 
Sedangkan yang dimaksud ayat (هَـٰٓأَنتُمْ أُو۟لَآءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلَا) adalah orang-orang munafik dari kaum Ahli Kitab, berdasarkan ayat (وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوٓا۟ ءَامَنَّا) _(dan apabila mereka bertemu dengan kalian, maka mereka berkata, "Kami beriman.')_ Ayat 119 ini mengandung isyarat tidak adanya keseimbangan dan kesepadanan sikap antara kaum Muslimin dan orang-orang munafik. Karena kaum Muslimin bersikap baik kepada orang-orang munafik dengan tulus, sedangkan kaum munafik, dikarenakan kemunafikan mereka, maka mereka bersikap sebaliknya terhadap kaum Muslimin. Ayat ini juga menjelaskan kesalahan kaum Mukminin yang bersikap loyal dan percaya kepada orang-orang munafik, karena mereka telah memberikan kasih sayang dan kepercayaan mereka kepada orang-orang yang justru membenci dan menipu mereka. Padahal kaum Muslimin beriman dan percaya kepada semua kitab suci Ahli Kitab, namun meskipun begitu kaum Ahli Kitab tetap membenci kaum Muslimin. Lalu kenapa kaum Muslimin mencintai mereka, padahal mereka tidak mengimani sedikit pun dari kitab suci kaum Muslimin? Hal ini merupakan sebuah kecaman yang sangat keras, bahwa dampak negatif yang ditimbulkan oleh Ahli Kitab terhadap hak-hak kaum Muslimin di dalam kebatilan dan kesesatan mereka dari hubungan baik yang tidak seimbang ini jauh lebih besar dibanding dampak negatif yang mungkin ditimbulkan oleh kaum Muslimin terhadap mereka.

Adapun ayat, (قُلْ مُوتُوا۟ بِغَيْظِكُمْ ۗ) _(matilah kalian dengan kebencian dan kedengkian kalian tersebut)_ adalah sebuah doa tidak baik atas mereka, yaitu kebencian dan kedengkian mereka akan semakin bertambah sehingga membuat mereka binasa. Yang dimaksud bertambahnya kebencian dan kedengkian mereka adalah semakin bertambahnya apa yang membuat mereka benci dan dengki, yaitu semakin bertambahnya kekuatan dan kemuliaan Islam dan umatnya. Pada waktu yang sama hal ini membuat mereka semakin hina, rendah dan merugi. Namun ada kemungkinan yang dimaksud potongan ayat ini bukanlah doa, akan tetapi makna  hakikatnya, yaitu kecaman dan membuat hati marah dan benci. Jadi maksudnya adalah, katakan kepada mereka bahwa mereka tidak akan melihat dan mendapatkan apa yang mereka inginkan atas kaum Muslimin, karena kematian menghalang-halangi semua itu. Hal ini seperti yang terdapat di dalam ayat:

_"Barangsiapa yang menyangka bahwa Allah sekali-kali tiada menolongnya (Muhammad) di dunia dan akhirat, maka hendaklah ia merentangkan tali ke langit, kemudian hendaklah ia melaluinya, kemudian hendaklah ia pikirkan apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya."_ *(al-Hajj: 15)*

Sedangkan ayat 120 menjelaskan tentang faktor lain yang melatar belakangi larangan menjadikan musuh sebagai orang dekat, yaitu, "Jika kalian kaum Mukminin mendapatkan kebaikan dan kenikmatan, maka hal itu membuat mereka tidak suka dan sakit hati."  Jadi maksudnya adalah, barangsiapa yang memiliki sifat seperti ini, yaitu kebencian dan kedengkian yang begitu besa4 merasa senang jika kaum Mukminin tertimpa kejelekan, kesulitan dan musibah, maka ia tidak pantas dijadikan sebagai bithaanah (penasihat, orang dekat, tangan kanan), terutama di dalam masalah yang sangat penting, seperti jihad yang merupakan tiang utama dunia dan akhirat.

Akan tetapi di sini perlu diperhatikan bahwa larangan ini jika memang non-Muslim memiliki sifat dan karakter seperti orangorang munafik pada masa awal Islam. Hal ini berdasarkan dalil bahwa keempat madzhab fiqh yang ada memiliki pandangan boleh meminta bantuan kepada orang-orang kafir di dalam berperang, jika memang orang kafir tersebut diyakini memiliki sikap dan pandangan positif terhadap kaum Muslimin atau jika memang sedang dalam keadaan butuh seperti pendapat madzhab Syafi'i.

Ayat, (وَإِن تَصْبِرُوا۟ وَتَتَّقُوا۟) (dan jika kalian sabar dan bertakwa) mengandung dorongan untuk kaum Mukminin agar selalu sabar di dalam menunaikan kewajiban-kewajiban yang berat dan di dalam menunaikan perintahperintah Tuhan, tetap memegang dengan kuat ketakwaan kepada Allah SWT dengan selalu menjauhi larangan-larangan-Nya. Jika mereka mau selalu bersabar dan bertakwa, maka tipu daya musuh sekali-kali tidak akan mendatangkan kemudharatan sedikit pun kepada mereka. Sudah menjadi kebiasaan Al-Qur'an menyebutkan kesabaran di dalam setiap hal yang terasa berat jiwa memikulnya. Kondisi di dalam ayat ini memang menuntut ketabahan dan kesabaran menghadapi kebencian dan permusuhan orang-orang kafir, sampai Allah SWT menyampaikan berita gembira akan datangnya kelapangan yang dekat dan pertolongan yang segera. Allah SWT Maha Mengetahui amal perbuatan orang-orang kafir Maha Kuasa menghalangi mereka dari melakukan usaha-usaha mencelakai kaum Mukminin. Jadi memang mutlak dibutuhkan sikap percaya kepada Allah SWT dan betawakal kepada-Nya.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login