SURAH ALI 'IMRAN 64-68

*ALI 'IMRAN (19)*

*ALI 'IMRAN 64-68*

*SERUAN KEPADA PENGESAAN ALLAH SWT DAN AGAMA IBRAHIM*

*SEBAB TURUNNYA AYAT*

*1. Ayat 65 dan 67*
*Ibnu Ishaq dan Ibnu Jarir* meriwayatkan dari *Ibnu Abbas r.a.*, ia berkata, "Orang-orang Nasrani Najran dan para pendeta Yahudi berkumpul bersama Rasulullah saw lalu mereka saling berbantah dan berdebat. Para pendeta Yahudi berkata, "Ibrahim tidak lain adalah seorang Yahudi." Lalu orang-orang Nasrani Najran berkata, "Ibrahim tidak lain adalah seorang Nasrani." Lalu Allah SWT menurunkan ayat ini.

*2. Ayat 68*
Orang-orang Yahudi mengajukan pertanyaan kepada Rasulullah saw, "sungguh demi Allah, wahai Muhammad, sungguh kamu telah mengetahui bahwa kamilah orang-orang yang lebih berhak dengan agama Ibrahim dari pada kamu dan selain kamu. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang Yahudi, dan kamu tidak lain hanya karena merasa iri dan dengki
saja." Lalu Allah SWT menurunkan ayat ini.

*Imam Tirmidzi* meriwayatkan dari *Abdullah bin Mas'ud,* ia berkata, *"Rasulullah saw. bersabda:*

إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ وُلاةً مِنَ النَّبِيِّينَ، وَإِنَّ وَلِيِّي وَأَبِي وَخَلِيلُ رَبِّي هُوَ إِبْرَاهِيمُ، ثُمَّ قَرَأَ: إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ

_"Sesungguhnya setiap Nabi memiliki para sahabat dekat dari golongan para Nabi, dan sahabat dekatku adalah bapakku dan kekasih Tuhanku (Nabi lbrahim a.s.)." Kemudian beliau membaca ayat 68 dari surah Ali 'Imran (Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang- orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah pelindung semua orang-orang yang beriman)."_ 
 *(HR. At-Tirmidzi No. 2999, Ahmad No. 8837, dan Al-Hakim No. 3856, dinilai hasan oleh At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Hakim)*

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Sesungguhnya sikap taat kepada selain Allah SWT yaitu kepada para pendeta dan para agamawan di dalam masalah halal dan haram yang tidak sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah SWT sikap seperti ini berarti menjadikan para pendeta dan para agamawan seperti Tuhan. Kenyataan ini mengharuskan ketaatan hanya kepada Allah
SWT semata. 

Sesungguhnya titik pertemuan dan persamaan di antara agama-agama yang ada adalah ketundukan di bawah bendera tauhid yaitu tiada Tuhan melainkan Allah SWT hanya menyembah kepada-Nya dan berpegangan kepada hukum syariat yang diturunkan oleh-Nya. Karena Dia adalah sumber syari'at yang benar. Oleh karena itu, Al-Qur'an menyerukan
kepada mereka untuk patuh dan mengikuti apa yang didakwahkan kepada mereka, yaitu kata yang adil dan lurus yang di dalamnya tidak ada keberpalingan dari yang hak, yaitu *firman Allah SWT (وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ)* _"tidak kita sembah kecuali Allah SWT"_ 

*Ayat (وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًۭا مِّن دُونِ ٱللَّهِ ۚ)* _"dan Sebagian dari kita tidak menjadikan sebagian yang lain sebagi tuhan selain Allah SWT"_ Mengandung penjelasan bahwa tidak boleh mengikuti selain Allah SWT di dalam penghalalan dan penghraman sesuatu kecuali apa yang sesuai dengan apa yang telah dijelaskan oleh Allah SWT. Ayat ini sama dengan ayat:

_"Mereka menjadikan orang-orang alimnya (Yahudi), dan rahib-rahibnya Nasrani sebagai tuhan selain Allah, dan (juga) Al-Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa tidak ada tuhan selain Dia- Mahasuci Dia dari apa yang mereka persekutukan."_ *(at-Taubah: 31)*

Maksudnya, mereka menempatkan para agamawan dan rahib mereka pada posisi Tuhan mereka dengan menerima dan mematuhi hukum-hukum yang mereka buat yang bertentangan dengan hukum syari'at yang diturunkan oleh Allah SWT seperti menghalalkan apa yang diharamkan Allah SWT dan mengharamkan apa yang sebenarnya dihalalkan oleh-Nya.

Hal ini menjadi hujjah atau dalil bahwa masalah-masalah agama, seperti ibadah, penghalalan dan pengharaman tidak boleh diambil kecuali berdasarkan apa yang disampaikan oleh Nabi yang ma'shum, tidak berdasarkan perkataan seorang Imam atau seorang ahli fiqih. Karena jika tidak, maka berarti telah melakukan sikap menyekutukan Allah SWT di dalam hak membuat syari'at. Karena hanya Allah SWT yang berhak penuh membuat syari'at. Inilah sebuah sikap yang dikecam oleh Al-Qur'an di dalam beberapa ayat, di antaranya adalah:

_"Apakah mereka mempunyai sesembahan selain Allah yang menetapkan aturan agama yang tidak diizinkan (diridai) Allah? Dan sekiranya tidak ada ketetapan yang menunda (hukuman dari Allah) tentulah hukuman di antara mereka telah dilaksanakan. Dan sungguh, orang-orang zalim itu akan medapat adzab yang sangat pedih."_ *(asy-Syuuraa: 2l)*

_"Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "ini halal dan ini haram," untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak akan beruntung."_ *(an-Nahl: 116)*

Adapun di dalam masalah-masalah duniawi, seperti _qadha'_ (kehakiman atau pengadilan) dan politik, maka diserahkan kepada _ahlul halli wal 'aqdhi_ (majlis permusyawaratan). Apa yang mereka putuskan di dalam masalah ini, maka wajib menerimanya dan menaatinya.

Jika Ahli Kitab berpaling dari apa yang kepadanya mereka diajak, yaitu _al-Kalimatus sawaa'_ (kata yang adil, lurus dan tengah-tengah yang tidak diperselisihkan lagi di antara kedua belah pihak), maka katakanlah kepada mereka:

_"Kami adalah orang-orang Muslim, yaitu orang-orang yang memeluk Islam, tunduk dan patuh kepada hukum-hukumnya, mengakui semua bentuk nikmat di dalam hal ini yang telah dikaruniakan Allah SWT kepada kami, tanpa menjadikan seorang pun sebagai tuhan, tidak Isa, tidak 'Uzair dan tidak pula malaikat. Karena mereka semua adalah makhluk sama seperti kami. Dan kami tidak pula menerima hukum-hukum yang dibuat-buat oleh para rahib dan para agamawan yang tidak sesuai dengan apa yang telah diturunkan Allah SWT. Karena jika kami melakukannya, maka berarti kami telah menjadikan mereka sama seperti Tuhan."_

Ayat atau hujjah yang paling jelas dan kuat yang membantah dan mementahkan persangkaan dan klaim kaum Yahudi dan Nasrani bahwa Ibrahim adalah pemeluk agama mereka adalah ayat (يَـٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَـٰبِ لِمَ تُحَآجُّونَ)  ayat ini membantah dan mendustakan mereka dengan menjelaskan sebuah kenyataan, yaitu bahwa agama Yahudi dan Nasrani datang setelah masa Nabi Ibrahim a.s., yaitu yang dijelaskan oleh ayat (وَمَآ أُنزِلَتِ ٱلتَّوْرَىٰةُ وَٱلْإِنجِيلُ إِلَّا مِنۢ بَعْدِهِۦٓ ۚ) Yaitu, Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan jauh setelah masa Nabi Ibrahim a.s.. Jadi, bagaimana mungkin Nabi Ibrahim a.s. bernisbat kepada agama baru yang datang setelah masa dirinya? Hal ini dikuatkan lagi dengan kenyataan bahwa agama Yahudi adalah agama yang telah mengalami pendistorsian dan perubahan-perubahan dari bentuk aslinya, yaitu agama Nabi Musa a.s.. Begitu juga halnya yang terjadi pada agama Nasrani, telah mengalami perubahan dan pendistorsian dari bentuk aslinya, yaitu agama Nabi Isa a.s.. 

Ayat, (هَـٰٓأَنتُمْ هَـٰٓؤُلَآءِ) mengandung petunjuk tentang larangan berdebat dan berbantah bagi orang yang tidak memiliki pengetahuan. Adapun debat bagi orang yang memiliki pengetahuan yang mendalam dan bertujuan untuk membela dan menampakkan kebenaran, maka hukumnya boleh. Hal ini berdasarkan ayat:

_"dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik."_ *(an-Nahl: 125)*

Diriwayatkan:

جَاءَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي فَزَارَةَ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ امْرَأَتِي وَلَدَتْ غُلَامًا أَسْوَدَ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: هَلْ لَكَ مِنْ إِبِلٍ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَمَا أَلْوَانُهَا؟ قَالَ: حُمْرٌ، قَالَ: فَهَلْ فِيهَا مِنْ أَوْرَقَ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَأَنَّى ذَاكَ؟ قَالَ: لَعَلَّهُ نَزَعَهُ عِرْقٌ، قَالَ: فَلَعَلَّ ابْنَكَ هَذَا نَزَعَهُ عِرْقٌ

_"Pada suatu ketika, ada seorang laki-laki dari bani Fazarah datang menemui Rasulullah saw. lalu ia berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya istriku melahirkan seorang anak berwarna hitam (padahal ia dan istrinya berkulit Putih), lalu Rasulullah saw. berkata kepadanya, "Apakah kamu memiliki unta?" Ia berkata, "Benar." Lalu beliau berkata, "Apakah warna unta-untamu tersebut? la berkata, "Merah." Lalu beliau berkata. "Apakah di antara unta-untamu tersebut ada yang berwarna abu-abu?" Ia berkata, "Benar, ada." Lalu beliau berkata, "Bagaimana itu bisa terjadi?" Lalu ia berkata, "Mungkin para pendahulu unta tersebut ada yang memiliki warna abu-abu seperti itu? " Lalu beliau berkata, " Mungkin hal yang sama juga terjadi pada putramu itu."_
*(HR. Al-Bukhari No. 5305 dan Muslim No. 1500)*

Ayat ini juga mengandung petunjuk tentang wajibnya berdebat demi agama dan membuktikan kebohongan serta kesesatan orang-orang yang sesat, seperti apa yang dilakukan oleh Allah SWT terhadap kaum Yahudi dan Nasrani di dalam masalah Nabi Isa a.s.. Allah SWT menyangkal dan membantah kebohongan dan kesesatan mereka.

Nabi Ibrahim a.s. tidak lain adalah orang yang berpegang teguh kepada agama Islam yang lurus. Ia bukanlah seorang musyrik, bukan seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani. Orang-orang yang paling berhak dikatakan sebagai pengikutnya adalah mereka yang berjalan di atas manhainya, baik yang hidup pada masanya maupun yang dating setelahnya.

Mereka itulah orang-orang yang lurus dan orang-orang Muslim (berserah diri kepada Allah SWT), seperti Nabi Ibrahim a.s., bukan seperti orang-orang musyrik. Begitu juga, orang yang paling berhak dikatakan sebagai pengikut agama Nabi Ibrahim a.s. adalah Nabi Muhammad saw. dan orang-orang yang beriman kepada beliau. Karena mereka adalah orang-orang yang bertauhid, mengesakan Allah SWT dan Allah SWT adalah penolong bagi orang-orang Mukmin.

*Imam Tirmidzi* meriwayatkan dari *Ibnu Mas'ud r.a.*, bahwa *Rasulullah saw. bersabda:*

إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ وُلاةً مِنَ النَّبِيِّينَ، وَإِنَّ وَلِيِّي وَأَبِي وَخَلِيلُ رَبِّي هُوَ إِبْرَاهِيمُ، ثُمَّ قَرَأَ: إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ

_"Sesungguhnya setiap Nabi memiliki para sahabat dekat dari golongan para Nabi, dan sahabat dekatku adalah bapakku dan kekasih Tuhanku (Nabi lbrahim a.s.)." Kemudian beliau membaca ayat 68 dari surah Ali 'Imran."_===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login