*AL-BAQARAH (95)*
*AL BAQARAH 260*
*SEMANGAT INGIN TAHU NABI IBRAHIM A.S.*
وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِـۧمُ رَبِّ أَرِنِى كَيْفَ تُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ ۖ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِن ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَـٰكِن لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِى ۖ قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةًۭ مِّنَ ٱلطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ ٱجْعَلْ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٍۢ مِّنْهُنَّ جُزْءًۭا ثُمَّ ٱدْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًۭا ۚ وَٱعْلَمْ أَنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌۭ ٢٦٠
*Artinya:* _Dan (ingatlah) ketika Ibrāhīm berkata, "Ya Tuhan-ku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati". Allah berfirman, "Belum yakinkah kamu?" Ibrāhīm menjawab, "Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)". Allah berfirman, "(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah 1#) semuanya olehmu. (Allah berfirman), "Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera". Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana._
1#)-Pendapat di atas adalah menurut *At-Ṭabarī dan Ibnu Kaṡīr*, sedang menurut *Abu Muslim Al-Aṣfahānī* pengertian ayat di atas ialah bahwa Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā memberi penjelasan kepada Nabi Ibrāhīm ‘Alaihissalām tentang cara Dia menghidupkan orang-orang yang mati. Disuruh Nabi Ibrāhīm ‘Alaihissalām mengambil empat ekor burung, lalu memeliharanya dan menjinakkannya hingga burung itu dapat datang seketika bilamana dipanggil. Kemudian, burung-burung yang sudah pandai itu, diletakkan di atas tiap-tiap bukit seekor, lalu burung-burung itu dipanggil dengan satu tepukan/seruan, niscaya burung-burung itu akan datang dengan segera, walaupun tempatnya terpisah-pisah dan berjauhan. Maka demikian pula Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menghidupkan orang-orang yang mati yang tersebar di mana-mana, dengan satu kalimat cipta "hiduplah kamu semua" pastilah mereka itu hidup kembali. Jadi menurut *Abu Muslim* _ṣīgat amr_ (bentuk kata perintah) dalam ayat ini, pengertiannya khabar (bentuk berita), sebagai cara penjelasan. Pendapat beliau ini dianut pula oleh *Ar-Rāzī dan Rasyīd Riḍā*.
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Kisah ini adalah bukti lain akan kuasa Allah SWT di dalam menghidupkan makhluk yang telah mati meskipun bagian-bagian tubuh makhluk tersebut telah hancur, hilang dan telah lama sekali mati. Nabi Ibrahim a.s. bukannya merasa ragu akan kuasa Allah SWT atas hal itu. Akan tetapi tujuannya adalah agar keyakinannya semakin kuat dengan melakukan uji eksperimen secara langsung atau dengan berita sekaligus melihat dan menyaksikannya sendiri. Hal ini menunjukkan akan urgensi ilmu eksperimental dan melakukan praktek atau pembuktian langsung untuk mengetahui secara langsung cara menyusun atau melakukan sesuatu.
Keraguan seperti ini tidak dimiliki oleh para nabi, karena keraguan seperti ini adalah kufur. Para nabi semuanya beriman akan kebenaran adanya kebangkitan dari kematian. Allah SWT telah menegaskan bahwa setan tidak akan pernah mampu menggoda dan menguasai para nabi dan para kekasih-Nya:
_"Sesungguhnya (terhadap) hamba-hamba-Ku, engkau (iblis) tidaklah dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhanmu sebagai Penjaga"._ *(al-Israa': 65)*
Di dalam ayat lain, *Allah SWT berfirman:*
_"Iblis berkata: 'Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka"._ *(al-Hijr: 39-40.)*
Jika setan sekali-kali tidak akan mampu menguasai mereka, lalu bagaimana ia akan menggoda dan menjadikan mereka ragu?! Nabi Ibrahim a.s. meminta agar diperlihatkan kepadanya bagaimana cara menyatukan bagian-bagian makhluk yang telah mati dan tercerai berai lalu menyambungkan kembali urat-urat saraf dan bagian-bagian kulit yang telah hancur. Nabi Ibrahim a.s. ingin naik tingkat dari tingkatan 'ilmul yaqiin menjadi 'ainul yaqiin. Perkataan Nabi lbrahim a.s.: (رَبِّ أَرِنِى كَيْفَ تُحْىِ) adalah permohonan agar diperlihatkan kepadanya cara Allah SWT menghidupkan kembali makhluk yang telah mati, bukan bertujuan untuk menguji kekuasaan-Nya untuk menghidupkan atau menumbuhkan.
Kemudian *Nabi Ibrahim a.s.* memohon keyakinan dan kemantapan hati, yaitu pikiran dan hatinya merasa tenang dan mantap terhadap sesuatu yang diyakini, agar jelas perbedaan antara sesuatu yang diketahui dengan dalil dan sesuatu yang diketahui dengan menyaksikan dan membuktikannya sendiri.
Perkataan *Nabi Ibrahim a.s.* (وَلَـٰكِن لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِى ۖ) selanjutnya menjadi sebuah ungkapan yang biasa digunakan seseorang yang sudah percaya dan yakin terhadap sesuatu hal, namun ia meminta kepastian akan kebenaran sesuatu tersebut. Lalu ia meminta kepada seseorang untuk menguatkan dan memastikan janji, atau ucapan atau perbuatan yang dijanjikan kepadanya dengan berkata, (وَلَـٰكِن لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِى ۖ) padahal sebenarnya ia sudah percaya dan yakin.
Permohonan *Nabi Ibrahim a.s.* ini sangat tepat terlebih pada masa sekarang ini di mana banyak sekali penyakit-penyakit keraguan yang menghinggapi banyak orang. Ada sebagian orang yang meragukan bahkan memandang dengan pandangan merendahkan akan kemungkinan terjadinya kebangkitan jasad dan nyawa yang telah lama mati selama beribu-ribu tahun, baik di darat, laut maupun udara dan banyaknya jumlah manusia sejak awal penciptaan sampai pada hari kiamat.
Permohonan ini sudah tepat dan sesuai dengan tempatnya agar mulut terdiam, hati menjadi semakin yakin dan agar keraguan-keraguan terhadap hal-hal yang wajib diyakini dan diimani bisa dihilangkan.
Kisah ini juga menjadi contoh atau bukti ketiga akan pertolongan Allah SWT kepada kaum Mukminin dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Kisah ini sama dengan kisah sebelumnya yang menjadi ayat atau bukti akan kebenaran adanya kebangkitan dari kematian. Kisah yang pertama yaitu kisah perdebatan antara *Nabi Ibrahim a.s.* dengan seseorang yang diberi kekuasaan dan kerajaan oleh Allah SWT adalah sebagai bukti akan wujud Allah SWT. Kisah kedua yaitu kisah dimatikannya 'Uzair selama 100 tahun dan kisah yang ketiga adalah kisah dimatikannya empat ekor burung. Hikmah dibalik penyebutan satu kisah di dalam menegaskan akan wujud Allah SWT dan penyebutan dua kisah di dalam menegaskan akan kebenaran kebangkitan dari kematian adalah karena jumlah orang-orang yang ingkar terhadap kebenaran adanya kebangkitan setelah kematian lebih banyak dari jumlah orang-orang yang ingkar terhadap wujud Allah SWT.
*Firman Allah SWT* (أَوَلَمْ تُؤْمِن ۖ) betum yakinkah kamu, menjelaskan kepada manusia tentang batasan yang seharusnya ia berhenti di situ, ia tidak boleh melangkah terlalu jauh masuk ke dalam hal-hal yang bukan menjadi urusannya. Penjelasan dan petunjuk yang diberikan kepada Khaliilullah Nabi Ibrahim a.s. ini mengandung pelajaran bagi seluruh kaum Mukminin, larangan memikirkan tentang tata cara penciptaan dan larangan menyibukkan diri dengan hal-hal yang sebenarnya hanya menjadi urusan Allah SWT. Jadi, tidak layak bagi mereka membahas hal-hal seperti ini.
Hikmah kenapa hewan yang dipilih adalah burung bukan yang lainnya adalah karena burung adalah binatang yang paling dekat dari lingkungan manusia, memiliki paling banyak sifat dan ciri-ciri kebinatangan, karena burung mudah dijadikan sebagai objek penelitian dan eksperimen dan karena burung adalah hewan yang biasanya paling takut kepada manusia. Sehingga jika hanya dengan memanggil, maka burung-burung itu langsung berdatangan, maka hal ini menjadikan bukti yang diberikan semakin kuat.
Adapun kenapa jumlah burung adalah empat ekor, maka hal ini kita serahkan kepada Allah SWT karena keterangan-keterangan yang berkaitan dengan jumlah atau bilangan biasanya bersifat ta'abbudiy (hanya mengandung unsur ibadah semata, kewajiban kita adalah mengimaninya tidak usah menanyakan sebab dan alasannya). Ada pendapat yang mengatakan bahwa kenapa jumlah burung adalah empat ekor karena jumlah ini sesuai dengan jumlah kondisi cuaca alam atau sesuai dengan jumlah mata angin.
Namun, pendapat ini tidak mengandung suatu kebenaran, hal ini seperti yang dijelaskan di dalam tafsir al-Manar.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
