*AL-BAQARAH (94)*
*AL BAQARAH 259*
*KISAH AL-'UZAIR DAN KELEDAINYA SERTA KISAH YANG MENUNJUKKAN ADANYA HARI KEBANGKITAN*
أَوْ كَٱلَّذِى مَرَّ عَلَىٰ قَرْيَةٍۢ وَهِىَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّىٰ يُحْىِۦ هَـٰذِهِ ٱللَّهُ بَعْدَ مَوْتِهَا ۖ فَأَمَاتَهُ ٱللَّهُ مِا۟ئَةَ عَامٍۢ ثُمَّ بَعَثَهُۥ ۖ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ ۖ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍۢ ۖ قَالَ بَل لَّبِثْتَ مِا۟ئَةَ عَامٍۢ فَٱنظُرْ إِلَىٰ طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ ۖ وَٱنظُرْ إِلَىٰ حِمَارِكَ وَلِنَجْعَلَكَ ءَايَةًۭ لِّلنَّاسِ ۖ وَٱنظُرْ إِلَى ٱلْعِظَامِ كَيْفَ نُنشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْمًۭا ۚ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥ قَالَ أَعْلَمُ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌۭ ٢٥٩
*Artinya*: _Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata, "Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?" Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya, "Berapa lama kamu tinggal di sini?" Ia menjawab, "Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari". Allah berfirman, "Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging". Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) dia pun berkata, "Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."_
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Kisah ini menjadi dalil atau bukti yang jelas akan kebenaran adanya kebangkitan setelah kematian dan dikumpulkannya seluruh makhluk setelah dibangkitkan dari kubur. Dalil yang nyata yang bisa dijadikan bukti akan kebenaran adanya kebangkitan setelah kematian yang bisa kita saksikan setiap saat adalah sunnatullah atau hukum alam di dalam penciptaan hewan, menumbuhkan daging dan tulang-tulangnya. _Al-Insyaa_' artinya menguatkan dan _al-Insyaaz_ artinya menjadikan tumbuh dan berkembang. Ayat ini mengandung kisah yang langka, Adapun ayat terbesar yang bersifat umum yang menjelaskan tentang proses penciptaan yang menunjukkan akan kekuasaan Allah SWT untuk membangkitkan kembali adalah ayat:
_"Kamu akan dikembalikan kepada-Nya sebagaimana kamu diciptakan semula."_ *(Al-A'raaf:29)*
_"Sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya."_ *(al-Anbiyaa': 104)*
Pendapat yang kuat adalah yang mengatakan bahwa tokoh dalam kisah ini adalah seorang _ash-Shiddiiq_ (orang yang amat teguh keyakinannya kepada kebenaran rasul) atau seorang nabi. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa ia adalah orang kafir adalah pendapat yang lemah. Karena orang kafir tidak dikuatkan dan tidak diberi pertolongan dengan ayat-ayat Allah SWT. Menurut pendapat pertama yang benar, maka ayat ini bisa dijadikan dalil atau contoh bahwa Allah SWT memberikan hidayah kepada orang-orang Mukmin dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Hal ini seperti yang terjadi pada kisah Nabi Ibrahim a.s. dengan si raja kafir Namrudz.
Menyampaikan berita atau bersumpah atas dasar _azh-Zhann_ (prasangka) bukanlah termasuk kebohongan dan tidak wajib membayar kafarat sumpah. Ini adalah yang dimaksud oleh madzhab Hanafi, Maliki dan Hambali (mayoritas) dengan laghwul aimaan (sumpah yang tidak dimaksud atau sumpah atas sesuatu dengan memiliki keyakinan bahwa sesuatu tersebut benar namun ternyata sesuatu tersebut tidak sesuai dengan kenyataan) yang diampuni oleh Allah SWT. Pendapat ini didasarkan pada firman Allah SWT:
_"Dia (orang itu) menjawab, Aku tinggal (di sini) sehari atau setengah hari._" *(al-Baqarah: 259)*
Dan *firman-Nya*,
_"Kita berada (disini) sehari atau setengah hari"._ *(al-Kahfi: 19)*
Hal yang sama juga pernah dikatakan oleh Rasulullah saw. pada kisah *Dzul Yadain* (al-Kharbaq bin Amr) yang terdapat di dalam hadits yang diriwayatkan oleh *Abu Hurairah r.a.:*
_"Shalat tidak diqashar juga saya tidak lupa."_
Berdasarkan hal ini, maka boleh dikatakan bahwa para nabi tidak ma'shum (terjaga) dari kesalahan memberikan suatu berita yang salah atau tidak sesuai dengan kenyataan, jika memang hal ini dilakukan tanpa sengaja.
Seperti halnya para nabi juga tidak ma'shum dari sifat lupa.
Kisah 'Uzair dijadikan Allah SWT sebagai ayat atau bukti akan kekuasaan-Nya bagi para manusia, ia dimatikan selama 100 tahun, kemudian setelah itu ia dibangkitkan atau dihidupkan kembali.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
