SURAH AL-BAQARAH 248 - 252

*AL-BAQARAH (88)*

*AL BAQARAH 248 - 252*

*PEMBUKTIAN KELAYAKAN THALUT MENJADI RAJA, UJIAN YANG DIBERIKANNYA KEPADA PARA PENGIKUTNYA, DAN JUMLAH BESAR DIKALAHKAN JUMLAH KECIL*

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ ءَايَةَ مُلْكِهِۦٓ أَن يَأْتِيَكُمُ ٱلتَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌۭ مِّن رَّبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌۭ مِّمَّا تَرَكَ ءَالُ مُوسَىٰ وَءَالُ هَـٰرُونَ تَحْمِلُهُ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَـَٔايَةًۭ لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ ٢٤٨

*Artinya:* _Dan nabi mereka mengatakan kepada mereka, "Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya Tabut 1#) kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhan-mu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Hārūn; Tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman._


1#)-Tabut ialah peti tempat menyimpan Taurat yang membawa ketenangan bagi mereka.

فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِٱلْجُنُودِ قَالَ إِنَّ ٱللَّهَ مُبْتَلِيكُم بِنَهَرٍۢ فَمَن شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّى وَمَن لَّمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُۥ مِنِّىٓ إِلَّا مَنِ ٱغْتَرَفَ غُرْفَةًۢ بِيَدِهِۦ ۚ فَشَرِبُوا۟ مِنْهُ إِلَّا قَلِيلًۭا مِّنْهُمْ ۚ فَلَمَّا جَاوَزَهُۥ هُوَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ قَالُوا۟ لَا طَاقَةَ لَنَا ٱلْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِۦ ۚ قَالَ ٱلَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَـٰقُوا۟ ٱللَّهِ كَم مِّن فِئَةٍۢ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةًۭ كَثِيرَةًۢ بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّـٰبِرِينَ ٢٤٩

*Artinya:* _Maka tatkala Ṭālūt keluar membawa tentaranya, ia berkata, "Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku". Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Ṭālūt dan orang-orang yang beriman bersama ia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata, "Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jālūt dan tentaranya". Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar"._

وَلَمَّا بَرَزُوا۟ لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِۦ قَالُوا۟ رَبَّنَآ أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًۭا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَـٰفِرِينَ ٢٥٠

*Artinya:* _Tatkala mereka nampak oleh Jālūt dan tentaranya, mereka pun (Ṭālūt dan tentaranya) berdoa, "Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir".
_
فَهَزَمُوهُم بِإِذْنِ ٱللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُۥدُ جَالُوتَ وَءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ٱلْمُلْكَ وَٱلْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُۥ مِمَّا يَشَآءُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍۢ لَّفَسَدَتِ ٱلْأَرْضُ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى ٱلْعَـٰلَمِينَ ٢٥١

*Artinya:* _Mereka (tentara Ṭālūt) mengalahkan tentara Jālūt dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Dāwūd membunuh Jālūt, kemudian Allah memberikan kepadanya (Dāwūd) pemerintahan dan hikmah 1#), (sesudah meninggalnya Ṭālūt) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam._
1#)-Yang dimaksud di sini ialah kenabian dan Kitab Zabur.

تِلْكَ ءَايَـٰتُ ٱللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِٱلْحَقِّ ۚ وَإِنَّكَ لَمِنَ ٱلْمُرْسَلِينَ ٢٥٢

*Artinya:* _Itu adalah ayat-ayat dari Allah, Kami bacakan kepadamu dengan hak (benar) dan sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus._

*SEPENGGAL SEJARAH TENTANG KISAH THALUT DAN JALUT*

Sesudah datang ke Palestina, Bani Israel sepeninggal Musa a.s. tetap tidak punya raja selama 356 tahun. Dalam kurun waktu itu mereka berkali-kali mendapat serangan dari bangsa-bangsa yang berdekatan dengan mereka, seperti: bangsa Amalek (Arab kuno), penduduk Madyan, palestina, Aram (Nama kuno bagi wilayah Syria, disebutkan dalam Bibel - (Penj));, dan lain-lain.

*Menang dan kalah silih berganti mereka alami.*

Pada pertengahan abad keempat, tepatnya pada masa Imam Eli, bangsa Ibrani berperang dengan bangsa Palestina penduduk Ashdod di dekat Gaza. Bangsa Palestina menang dan mengambil tabut dari mereka, yaitu tabut (kotak) yang di dalamnya tersimpan Thurat (ajaran syariat). Hal itu membuat Bani Israel merasa sangat sedih karena dulu mereka mencari kemenangan dengannya. 

Di antara para hakim Bani Israel ada seorang nabi yang bernama Samuel. Ia didatangi sejumlah pemuka dan sesepuh Bani Israel di kota Rama. Mereka memintanya menunjuk seorang raja atas mereka supaya memimpin mereka memerangi musuh-musuh yang telah menindas dan merendahkan mereka selama masa yang panjang. Samuel tidak memenuhi keinginan mereka karena ia tahu mereka akan enggan kalau diwajibkan berperang. Mereka menjawab bahwa motif perang sudah ada, yaitu musuh telah mengusir mereka dari kampung halaman dan telah menawan anak-anak mereka.

Akhirnya Samuel mengangkat Thalut sebagai raja mereka. Dalam Kitab Samuel (Injil), namanya adalah Saul bin Kish, termasuk suku Benyamin. Ia seorang pemuda yang tampan, berpengetahuan luas, dan paling tinggi tubuhnya di antara Bani Israel. Sebagian orang setuju ia menjadi raja, tapi sebagian lagi menolak karena ia bukan keturunan raja, melainkan hanya seorang penggembala miskin.

Samuel berusaha menjelaskan kepada mereka bahwa Thalut layak dan pantas menjadi raja, bahwa pilihan itu sudah tepat, bahwa Allah sudah rida dengan pilihan itu, dan bukti konkret atas keabsahan dirinya menjadi raja adalah kembalinya tabut-yang dulu direbut bangsa Palestina-kepada mereka. para malaikat membawanya ke rumah Thalut sebagai bentuk pemuliaan kepadanya. Akhirnya Bani Israel setuju ia menjadi raja.

Thalut membentuk dan memobilisasi pasukan untuk memerangi bangsa Palestina (Amalek) yang dikomandani Jalut yang merupakan panglima dan jagoan perkasa bangsa Amalek yang membuat orang sangat gentar. Setelah memilih tujuh puluh atau delapan puluh ribu pemuda Bani Israel, Thalut berangkat untuk memerangi musuh.

Namun berkat kebijaksanaannya, dan karena ia mengenal watak bangsanya, serta karena ia meragukan kebulatan tekad mereka, maka Panglima Thalut ingin menguji mereka di tengah jalan pada waktu cuaca sangat panas: dengan larangan minum air sungai yang berada di antara Palestina dan Yordania. Ternyata sebagian besar pasukan membangkang, dan hanya sedikit yang patuh. Ia melanjutkan perjalanan dan menyeberangi sungai itu bersama kelompok yang jumlahnya sedikit, yang beriman. Akan tetapi, ketika melihat pasukan Jalut yang besar; sebagian dari mereka berkata, "Hari ini kita tidak akan kuat memerangi Jalut dan pasukannya.,, Sebagian yang lain menyahut, "seringkali kelompok yang kecil mengalahkan kelompok yang besar, atas izin Allah."

Salah seorang yang ikut perang itu Bernama Dawud bin Isai, seorang remaja penggembala kambing yang tidak punya pengalaman perang. Ia diutus ayahnya untuk mencari kabar ketiga saudaranya yang tergabung dalam pasukan Thalut. Tiba-tiba ia melihat Jalut menantang duel, sementara pasukan Thalut semuanya gentar untuk menghadapinya. Maka Dawud menanyakan hadiah apa yang akan diberikan kepada orang yang berani bertarung dengan orang Palestina itu. Ia diberitahu bahwa Raja Thalut akan memberinya kekayaan yang berlimpah, mengambilnya menjadi mantu, dan menjadikan rumah ayahnya megah.

Dawud lantas menghadap dan meminta izin Thalut untuk melakukan duel dengan Jalut, panglima bangsa Amalek yang paling kuat. Thalut mengkhawatirkan keselamatannya dan memperingatkannya, tapi Dawud menjawab, "Saya pernah membunuh seekor singa yang memangsa salah satu kambing ayah saya. Selain singa itu juga ada seekor beruang, dan saya membunuhnya pula." Kemudian ia maju sambil mengantongi lima butir batu intan dan memegang ketapelnya. Sesudah berbicara dengan Jalut, Dawud membidiknya dengan sebutir batu intan yang tepat mengenai keningnya sehingga ia terjatuh. Dawud lantas mendekatinya, mengambil pedangnya, dan memenggal kepalanya. Bangsa Palestina akhirnya kalah.

Raja Thalut kemudian menikahkan Dawud dengan putrinya, Mikhal, dan menjadikannya panglima pasukan.

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM DAN PELAJARAN DARI KISAH INI*

Konon, tabut itu diturunkan Allah kepada Nabi Adam a.s. kemudian sampai ke tangan Nabi Yakub a.s.. Dengan adanya tabut ini Bani Israel selalu dapat mengalahkan musuh yang mereka perangi, sampai akhirnya mereka berbuat durhaka sehingga tabut itu direbut musuh yang berbangsa Amalek yaitu Jalut dan pasukannya.

Ini menjadi bukti nyata bahwa kedurhakaan menyebabkan kekalahan, sebagaimana diterangkan al-Qurthubi. Lahiriah permulaan ayat ini (وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ) dan ayat sebelumnya menunjukkan bahwa mereka mengakui kenabian nabi yang bersama mereka ini.

Firman-Nya (وَمَن لَّمْ يَطْعَمْهُ) _"barangsiapa tidak merasainya"_ bisa menjadi dalil atas prinsip _saddu dzaraa'i'_ (langkah preventif) karena mencicipi sedikit saja sudah tergolong "merasai", dan kalau yang dilarang adalah "merasai" maka orang yang tidak "merasai" itu tidak akan minum. Karena itu, Allah tidak berfirman (ومن لم يشرب منه).

Itu juga menunjukkan bahwa air tergolong _tha'aam_ (makanan), dan kalau ia makanan berarti ia termasuk _quut_ (makanan pokok) karena ia tahan lama dan menjadi pasokan utama tubuh. Karena itu, riba berlaku atasnya. Ini adalah pendapat yang shahih dari *madzhab Malik* juga merupakan *madzhab Syafi'i*. Jadi, air tidak boleh dijual secara _tafaadhul._ (#Dalam jual-beli (barter) air dengan air; keduanya harus sama takarannya, tidak boleh salah satunya lebih banyak dari yang lain), dan tidak boleh secara kredit (cicilan). _'Illah_ yang berlaku di sini adalah air merupakan bahan makanan dan satu jenis. Sedangkan menurut *Abu Hanifah dan Abu Yusuf*, air di tepi sungai/laut boleh dijual dengan air lain yang takarannya tidak sama, dan boleh secara kredit. Adapun menurut *Muhammad ibnul Hasan*, air tidak boleh dijual dengan cara seperti itu, karena 'illahnya dalam riba adalah _al-kail wal-wazn_ (takaran dan timbangan), dan air termasuk benda yang bisa ditakar dan ditimbang.

Penolakan Allah terhadap keganasan manusia satu sama lain bisa jadi dengan menghadapkan satu kelompok dengan kelompok lainnya, dan bisa jadi pula dengan satu individu. Ibnu Umar berkata: *Nabi saw. pernah bersabda:*

_"Dengan satu orang mukmin yang saleh Allah sungguh menolak bala dari seratus orang anggota keluarganya dan tetangganya."_

Selanjutnya *lbnu Umar* membacakan *firman-Nya*, _"...Dan kalau Allah tidak melindungi sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini..."_ *(al-Baqarah: 251)*

*Jabir* meriwayatkan bahwa *Rasulullah saw. pernah bersabda:*

_"Berkat kesalehan seseorang, Allah sungguh menjaga anaknya, cucunya, anggota keluarganya, dan tetangga-tetangga sekitar rumahnya. Mereka senantiasa dijaga Allah selama orang itu masih hidup di antara mereka."_

*Firman-Nya* (وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى ٱلْعَـٰلَمِينَ) menjelaskan bahwa penolakan Allah akan kejahatan orang-orang kafir dengan orang-orang mukmin merupakan karunia dan nikmat dari-Nya.

Dengan firman-Nya (وَإِنَّكَ لَمِنَ ٱلْمُرْسَلِينَ), Allah Ta'ala mengingatkan nabi-Nya bahwa ayat-ayat yang telah disebutkan ini tidak diketahui kecuali oleh nabi yang diutus Allah.

Dalam kisah Al-Qur'an ini terkandung beberapa hukum umum, yang terpenting di antaranya berikut ini:

1. Perasaan teraniaya dan tertindas akan mengakibatkan ledakan. Bangsa-bangsa yang teraniaya tidak akan dapat mengembalikan kemuliaannya kecuali dengan menyatukan barisan di bawah komando seorang pemimpin yang adil dan berani, seperti yang dilakukan Bani Israel tatkala mereka dikalahkan bangsa Palestina.

2. Yang pertama-tama menyadari bahaya yang sedang mengancam umat adalah para ulama dan para pemuka umat itu, sebagaimana yang dilakukan para pemuka Bani Israel tatkala mereka meminta diangkatnya seorang raja bagi mereka.

Syamsul Arifin KKTA arifin, [11/02/2025 13:45]
3. Orang-orang bodoh mengira bahwa yang paling berhak untuk menjadi pemimpin adalah orang yang punya pengaruh dan kekayaan, sebagaimana dikira Bani Israel, padahal semestinya yang paling layak menjadi pemimpin adalah orang yang punya ilmu, pengalaman, kemampuan, dan kepribadian yang mulia.

4. Sudah biasa kalau umat berselisih ketika memilih pemimpinnya. Karena itu, perlu ada faktor penentu yang dapat mengakhiri perselisihan itu. Faktor penentu tersebut adalah pilihan nabi Bani Israel atas permintaan para pemuka mereka. Sedangkan dalam Islam, faktor penentunya-sepeninggal Nabi saw-adalah pendapat _ahlul-hilli wal-'aqdi_, yaitu para ulama dan orang-orang yang punya kedudukan terpandang di umat ini. 

5. Dalam pemilihan orang yang paling layak ini terlihat beberapa syarat pemimpin, sebab Allah Ta'ala berfirman (إِنَّ اللَّهَ اصطَفاهُ , عَلَيْكُمْ وَزا دّهُ بَسْطَةُ فِي العِلْم وَالْجِسْمِ) dan kalau kriteria "berilmu luas" dan "berfisik kuat", ditambah dengan "dukungan suku dan pengaruh yang kuat" maka akan lebih baik lagi, sebab Rasulullah saw. pernah bersabda:

_"Para pemimpin adalah orang-orang Quraisy."_

6. Firman Allah Ta'ala (واللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشا ءُ) menunjukkan bahwa pertolongan Tuhan dalam pemilihan pemimpin didasarkan atas keadilan yang sempurna, aturan yang bijaksana, dan pertimbangan maslahat umum.

7. Salah satu syarat utama untuk menang adalah pasukan harus benar-benar patuh kepada pemimpin. Konsep ini dipraktekkan dalam undang-undang ketentaraan di zaman sekarang.

8. Kelompok yang kecil-berkat iman yang kuat, kesabaran, keteguhan, dan kepatuhan kepada pemimpin-terkadang bisa mengalahkan kelompok yang besar. Yang dimaksud dengan "iman" adalah iman kepada Allah Ta'ala, percaya akan pertemuan dengan-Nya, dan menunggu pahala yang besar dan kedudukan tinggi bagi orang-orang yang mati syahid di surga.

9. Doa dalam keadaan bahaya dan di tengah pertempuran sangat ampuh karena doa adalah bukti iman dan membantu manusia untuk tetap tegar. Allah Ta'ala berfirman, "Tatkala mereka nampak oleh Jalut dan tentaranya, mereka pun (Thalut dan tentaranya) berdoa: "Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami,.."

Dia berfirman pula, "Mereka (tantara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah." *Dia juga berfirman:* _"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu pasukan, maka berteguh hatilah kamu dan sebut (nama) Allah banyak-banyak (berzikir dan berdoa) agar kamu beruntung."_ *(al-Anfaal 45)*

10. Teori _conflict of survival_ (konflik yang timbul karena masing-masing ingin tetap hidup) dan _survival of the fittest_ (yang bertahan hidup adalah yang paling kuat) sangat mirip dengan *firman Allah Ta'ala* _"Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini"_ dan *firman-Nya:* 

_"...Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya; tetapi yang bermanfaat kepada manusia, akan tetap ada dibumi"_ *(ar-Ra'd: 17)*.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login