*AL-BAQARAH (89)*
*AL BAQARAH 253*
*DERAJAT PARA RASUL DAN KERAGAMAN SIKAP MANUSIA DALAM MERESPON DAKWAH MEREKA*
۞ تِلْكَ ٱلرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍۢ ۘ مِّنْهُم مَّن كَلَّمَ ٱللَّهُ ۖ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَـٰتٍۢ ۚ وَءَاتَيْنَا عِيسَى ٱبْنَ مَرْيَمَ ٱلْبَيِّنَـٰتِ وَأَيَّدْنَـٰهُ بِرُوحِ ٱلْقُدُسِ ۗ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقْتَتَلَ ٱلَّذِينَ مِنۢ بَعْدِهِم مِّنۢ بَعْدِ مَا جَآءَتْهُمُ ٱلْبَيِّنَـٰتُ وَلَـٰكِنِ ٱخْتَلَفُوا۟ فَمِنْهُم مَّنْ ءَامَنَ وَمِنْهُم مَّن كَفَرَ ۚ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقْتَتَلُوا۟ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ ٢٥٣
*Artinya:* _Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya 1#) beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada ʻIsa putra Maryam beberapa mukjzat serta Kami perkuat dia dengan Rūḥul Qudus 2#). Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya._
1#)-Yakni Nabi MuhammadṢallallāhu ʻAlaihi wa Sallam.
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah SWT melebihkan sebagian rasul atas sebagian yang lain dalam hal keistimewaan, kemuliaan, karunia dan mukjizat yang berbeda-beda antara rasul yang satu dengan yang lainnya. Adapun di dalam hal kenabian, maka tidak ada perbedaan sama sekali, mereka semua dalam hal kenabian, tugas menyampaikan risalah dan kesatuan tujuan adalah sama. Pengutamaan antara satu dengan yang lainnya hanya dalam masalah-masalah diluar ketiga hal ini. Oleh karena itu, di antara para rasul ada yang diberi julukan _ulul 'azmi,_ di antara mereka ada yang dijadikan sebagai Khaliilullah, di antara mereka ada yang diajak berbicara secara langsung oleh Allah SWT dan ada di antara mereka yang ditinggikan beberapa derajat di atas yang lainnya.
Rasul lebih utama dari nabi, barangsiapa yang diutus dengan sebuah risalah dan diperintahkan untuk menyampaikannya, maka ia lebih utama dari orang yang tidak diperintahkan untuk menyampaikannya. Para rasul yang diberi gelar _Ulul 'azmi_ yaitu Nabi Nuh, nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad -semoga shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada mereka- lebih mulia dari para rasul yang lain.
Nabi Muhammad saw. adalah Nabi dan Rasul yang paling mulia, karena risalah yang beliau bawa bersifat umum untuk seluruh umat manusia, bahkan untuk manusia dan jin.
*Allah SWT berfirman,* _"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada semua umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."_ *(Saba': 28)*
Begitu juga karena risalah beliau dimahkotai dengan Al-Qur'an yang merupakan syari'at Allah SWT yang bersifat langgeng menjadi penutup bagi seluruh syari'at yang pernah ada dan Allah SWT Dzat yang menjamin untuk menjaganya sampai hari kiamat serta keutamaan-keutamaan lainnya yang telah kami sebutkan di atas. Oleh karena itu, *Allah SWT. berfirman,*
_"Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari para nabi dan dari engkau (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh."_ *(al-Ahzaab: 7)*
Di dalam ayat ini Allah SWT menyebutkan para nabi secara umum kemudian merincinya dan memulainya dengan Nabi Muhammad saw., *Rasulullah saw. bersabda*, Adapun sabda beliau yang artinya, _"Janganlah kalian melebihkan diriku atas Nabi Musa,"_ atau, _"Janganlah seseorang mengatakan bahwa aku lebih baik dari nabi Yunus bin Matta,"_ maka beliau bersabda seperti ini karena didasari sikap tawadhu".
Penjelasan ini juga berlaku bagi para sahabat, mereka semua sama-sama sahabat, akan tetapi terdapat perbedaan keutamaan antara satu dengan lainnya karena kelebihan dan keistimewaan yang dikaruniakan oleh Allah SWT kepada sebagian dari mereka yang tidak diberikan kepada sebagian yang lainnya. Para sahabat berbeda-beda dalam hal kemuliaan meskipun mereka semua sama-sama sahabat yang adil dan terpuji. Hal ini seperti yang diisyaratkan oleh Al-Qur'an:
_"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah bersikap keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang sesama mereka."_ *(al-Fath: 29)*
_"Dan (Allah) mewajibkan kepada mereka tetap taat menjalankan kalimat takwa dan mereka lebih berhak dengan itu dan patut memilikinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."_ *(al-Fath:26)*
_"Tidak sama orang yang menginfakkan (hartanya di jalan Allah) di antara kamu berperang sebelum penaklukan (Mekah)."_ *(al-Hadiid: 10)*
_"Sungguh, Allah telah ridai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon."_ (al-Fath: 18)
Allah SWT menyebutkan para sahabat secara umum kemudian menyebutkan secara khusus, menafikan aib dan sifat kurang dari diri mereka dan menjanjikan kepada masing-masing dari mereka kebaikan.
Adapun perselisihan dan pertikaian di antara umat manusia yang datang setelah para rasul, semua itu sudah menjadi qadha' qadar dan kehendak Allah SWT. Seandainya Allah SWT menghendaki sebaliknya, maka pasti terjadi, akan tetapi hanya Allah SWT Dzat yang
mengetahui rahasia hikmah yang tersembunyi di balik apa yang ditetapkan-Nya.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
