SURAH AL-BAQARAH 246 - 247

*AL-BAQARAH (87)*

*AL BAQARAH 246 - 247*

*KISAH NABI SAMUEL DAN RAJA THALUT, DAN KEENGGANAN BANI ISRAEL UNTUK BERJIHAD*

أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلْمَلَإِ مِنۢ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ مِنۢ بَعْدِ مُوسَىٰٓ إِذْ قَالُوا۟ لِنَبِىٍّۢ لَّهُمُ ٱبْعَثْ لَنَا مَلِكًۭا نُّقَـٰتِلْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۖ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِن كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ أَلَّا تُقَـٰتِلُوا۟ ۖ قَالُوا۟ وَمَا لَنَآ أَلَّا نُقَـٰتِلَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِن دِيَـٰرِنَا وَأَبْنَآئِنَا ۖ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ ٱلْقِتَالُ تَوَلَّوْا۟ إِلَّا قَلِيلًۭا مِّنْهُمْ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِٱلظَّـٰلِمِينَ ٢٤٦

*Artinya:* _Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Isrā`īl sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka, "Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah". Nabi mereka menjawab, "Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang". Mereka menjawab, "Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami?" 1#). Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zalim._


1#)-Maksudnya ialah mereka diusir dan anak-anak mereka ditawan.

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ ٱللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًۭا ۚ قَالُوٓا۟ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ ٱلْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِٱلْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةًۭ مِّنَ ٱلْمَالِ ۚ قَالَ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُۥ بَسْطَةًۭ فِى ٱلْعِلْمِ وَٱلْجِسْمِ ۖ وَٱللَّهُ يُؤْتِى مُلْكَهُۥ مَن يَشَآءُ ۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌۭ ٢٤٧

*Artinya:* _Nabi mereka mengatakan kepada mereka, "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Ṭālūt menjadi rajamu". Mereka menjawab, "Bagaimana Ṭālūt memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang banyak?" Nabi (mereka) berkata, "Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa". Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui._

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Ini adalah satu lagi kisah yang dituturkan untuk mendorong manusia berjihad. Kisah ini teriadi di Bani Israel. Dari kisah ini dapat dipetik beberapa hal berikut:

1. Jihad di jalan Allah membutuhkan kesiapan (mental, tarbiyah, dan pengetahuan), pengalaman, kecakapan, ketrampilan, keberanian, tekad yang bulat, keikhlasan, pengorbanan, dan matian-matian membela prinsip dan kemuliaan. Jihad tidak terwujud hanya dengan angan-angan kosong dan dalih-dalih, melainkan dengan kepahlawanan, tekad yang bulat, kemauan yang kuat.

Bani Israel tidak memiliki satu pun di antara kriteria-kriteria ini karena dua faktor utama: (1) jiwa mereka kotor; tidak suci dan tidak tulus, dan (2) iman mereka lemah, mereka ingin hidup enak tanpa berkorban dan bersusah payah. Oleh karena itu, mereka tidak mau ikut perang sebab kriteria-kriteria di atas tidak ada, padahal perang akan merealisasikan cita-cita tertinggi mereka: merebut kembali hak-hak mereka yang dirampas musuh, dan membebaskan negeri dari penjajah dan musuh penindas.

2. Kekuasaan bukan diwariskan secara turun-temurun dan tidak ditentukan dengan kekayaan seseorang melainkan ditentukan dengan kecakapan, ilmu, ketrampilan, kekuatan kepribadian, dan keteguhan kemauan. *Ibnu Abbas* berkata: "Thalut, di kalangan Bani Israel pada waktu itu, adalah orang yang paling pandai, paling tampan, dan paling kekar badannya, dan itu bisa membuat musuh gentar." Konon, ia disebut "Thalut" karena tubuhnya tinggi.

- Dalam ayat ini Allah menjelaskan alasan pemilihan Thalut, yaitu keluasan ilmu (yang merupakan kekayaan manusia) dan kekuatan fisik (yang menjadi bekal dan faktor pendukung dalam perang). Jadi, ayat ini menjelaskan kriteria pemimpin dan kondisi-kondisi kepemimpinan.

Yang berhak/pantas menjadi pemimpin adalah orang yang punya ilmu, agama, dan kekuatan, bukan dilihat dari nasabnya. Kalau kriteria ilmu dan kemuliaan jiwa sudah terpenuhi, nasab tidak masuk hitungan. Ilmu dan kekuatan fisik itu lebih diutamakan daripada nasab, karena Allah Ta'ala menyatakan bahwa Dia memilih Thalut menjadi raja mereka lantaran ia berilmu dan kuat fisiknya, meskipun nasab mereka lebih mulia.

*Firman Allah Ta'ala (وَٱللَّهُ يُؤْتِى مُلْكَهُۥ مَن يَشَآءُ ۚ)* menunjukkan bahwa Allah adalah pemilik segala sesuatu yang ada di alam ini, termasuk manusia, hewan, dan benda mati, karena idhaafah (penyandaran) kepemilikan dunia kepada Allah Ta'ala dalam ayat ini (dalam kata mulkahu) merupakan idhaafah benda kepada pemiliknya. Ayat ini juga menunjukkan bahwa pemberian kekuasaan kepada seorang manusia tidak lain merupakan kehendak Allah Yang hanya memberi yang terbaik kepada manusia. Dia memilihkan mereka seseorang yang akan mewujudkan maslahat dan terpenuhi pada dirinya persyaratan pemimpin yang diperlukan.

3. Kebaikan di tengah umat tidak akan pernah habis. Kalau sebagian besar orang dalam umat ini berpaling dari kewajiban jihad, kebaikan sesungguhnya berada di sebagian kecil yang lain itu. Biasanya yang terbaik adalah kelompok minoritas. Mereka berbuat lebih dari apa yang diperbuat kelompok mayoritas. Allah Maha Mengetahui segala perbuatan mereka, lalu Dia akan memberi mereka balasan yang lebih baik. Dia juga Maha Mengetahui perbuatan orang-orang yang zalim, lalu Dia akan menyiksa mereka sesuai dengan apa yang pantas mereka terima.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login