*THAAHAA (8)*
*KISAH NABI MUSA*
*TUDUHAN BAHWA NABI MUSA MEMBAWA SIHIR*
*Surah Thaahaa Ayat 56-59*
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Dari ayat-ayat di atas dapat dipahami beberapa hal berikut.
1. Fir'aun tidak memiliki alasan atas kekafirannya setelah diutusnya Nabi Musa dan Nabi Harun sebagai rasul (utusan Allah) kepadanya. Juga setelah dikuatkannya kedua rasul tersebut dengan berbagai mukjizat yang menunjukkan kenabian Nabi Musa. Serta setelah keduanya menampakkan bukti-bukti, dalil-dalil, dan hujjah-hujjah bagi keesaan dan kekuasaan Allah. Ini menunjukkan bahwa Fir'aun kafir dalam kondisi keras kepala karena dia telah melihat tanda-tanda kekuasan Allah secara langsung, bukan hanya informasi, dan sebenarnya dia meyakininya di dalam hati. Hal ini sebagaimana firmah Allah SWT,
_"Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran) nya."_ *(an-Naml: 14)*
2. Fir'aun berusaha untuk menghasut kaumnya untuk memusuhi dan mengusir Nabi Musa, dengan menuduhnya — berdasarkan logika penguasa — ingin mengeluarkan orang-orang dari Mesir dan merebut kekuasaan.
3. Fir'aun juga berusaha untuk membatalkan mukjizat Nabi Musa dengan sihir. Dia mengira bahwa tanda-tanda kekuasaan Allah yang dibawa oleh Nabi Musa adalah sihir yang menipu orang-orang agar mengikutinya dan beriman kepadanya. Sehingga dalam anggapan Fir'aun, jika apa yang dibawa Nabi Musa dilawan dengan sihir yang sama, orang-orang akan tahu bahwa apa yang dibawa oleh Nabi Musa bukan dari Allah.
4. Fir'aun meminta kepada Nabi Musa untuk menetapkan hari dan tempat yang banyak diketahui orang, dan kedua pihak tidak punya alasan untuk melanggar janji bertemu pada hari itu. Hal ini dilakukan oleh Fir'aun untuk mengelabuhi orang-orang dengan kepercayaan dirinya dan keyakinannya terhadap kemampuannya, serta untuk menghentikan dakwah Nabi Musa pada hari yang disaksikan oleh semua orang. Fir'aun mengusulkan agar tempat pertemuan mereka adalah tempat yang berada di tengah-tengah dua arah yang mudah dijangkau sehingga tidak ada alasan untuk tidak hadir.
5. Nabi Musa memilih hari raya (ketika orang-orang memakai pakaian dan perhiasan terindah mereka) agar kalimat Allah jaya, agama-Nya menang dan kekafiran dibungkam, serta kebatilan diruntuhkan di depan semua orang ketika mereka semua berkumpul agar berita tentang hal itu langsung tersebar. Seluruh penduduk kota, desa, perkampungan dan pedalaman saling menyampaikan kisah yang menakjubkan tersebut serta saling mendengarkan berita tentang mukjizat besar itu.
Musa kemudian menentukan waktu tertentu dari hari tersebut dengan katakatanya, *(وَأَن يُحْشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحًۭى)* di pagi hari setelah matahari terbit, yaitu saat pandangan masih jelas dan jiwa dalam kondisi prima. Di samping itu, dengan penentuan waktu pagi hari, masih ada waktu siang yang panjang jika pertandingan tersebut akan memakan waktu lama. Secara kebetulan waktu tersebut disetujui oleh para penyihir untuk memanaskan tali-tali dan peralatan-peralatan yang telah diisi dengan air mercuri.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
