Surah Thaahaa Ayat 49-55

*THAAHAA (7)*
 
*KISAH NABI MUSA*

*DIALOG ANTAR FIR'AUN DAN NABI MUSA SEPUTAR KETUHANAN*

*Surah Thaahaa Ayat 49-55*

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Ayat-ayat di atas menunjukkan beberapa hal berikut.

1. Fir'aun tidak beriman kepada dakwah Nabi Musa dan Nabi Harun, la terus dalam kekafirannya. Dan ia bertanya dengan nada yang angkuh, sombong, dan penuh kepalsuan, padahal sebenarnya ia tahu tentang adanya Allah SWT *(قَالَ فَمَن رَّبُّكُمَا يَـٰمُوسَىٰ)* "Maka siapakah Tuhanmu berdua, hai Musa?"

2. Ayat di atas menunjukkan kebolehan menceritakan perkataan orang yang membuat kebatilan karena Allah SWT menceritakan kata-kata Fir'aun yang mengingkari Tuhan, juga menceritakan syubhat-syubhat orang-orang yang mengingkari adanya nabi dan orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan. Akan tetapi, hal itu harus diikuti dengan bantahannya agar tidak memunculkan keraguan.

3. Ayat di atas juga menunjukkan bahwa orang yang benar harus mendengarkan kata-kata orang yang membuat kebatilan serta menjawabnya dengan tanpa menyakitinya dan tidak berkata kasar kepadanya. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Nabi Musa terhadap Fir'aun dalam kisah ini.

Hal ini juga yang diperintahkan oleh Allah SWT kepada Rasulullah saw, dalam firman-Nya,

_"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik."_ *(an-Nahl: 125)*

Allah SWT berfirman.

_"Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah."_ *(at-Taubah: 6)*

4. Jawaban Musa terhadap Fir'aun adalah, "Sesungguhnya, Allah SWT dapat diketahui dengan sifat-sifat-Nya karena Dia adalah pencipta alam dan Dia-lah yang menciptakan setiap makhluk mempunyai karakter dan bentuk tersendiri." Mujahid berkata, "Allah memberikan setiap sesuatu bentuk tersendiri. Dia tidak menciptakan manusia dalam bentuk binatang dan tidak menciptakan binatang dalam bentuk manusia. Akan tetapi. Dia menciptakan segala sesuatu dan menetapkan bentuknya masing-masing."

Seorang penyair berkata.

"Dia membuat bentuk tersendiri pada setiap sesuatu# Demikianlah, Allah melakukan apa yang Dia kehendaki."

5. Hanya Allah yang mengetahui hal-hal gaib di masa lalu, saat ini, dan di masa yang akan datang. Ketika Fir'aun bertanya tentang kondisi umat-umat yang telah lalu, maka Nabi Musa menjawab dan memberi tahunya bahwa hanya Allah SWT yang mengetahuinya. Jadi artinya, "Yang kamu tanyakan ini termasuk hal yang gaib, hanya Allah SWT yang menge¬ tahuinya, tidak ada selain Dia yang mengetahuinya. Sedangkan, aku, tidak lain hanyalah seorang hamba sepertimu. Aku tidak tahu apa-apa tentang perkara gaib, kecuali yang diberitahu oleh Zat Yang Maha Mengetahui hal-hal yang gaib. Pengetahuan tentang kondisi berbagai umat manusia tercatat di Lauhul Mahfuuzh di sisi Allah SWT.”

6. Ayat *(عِلْمُهَا عِندَ رَبِّى فِى كِتَـٰبٍۢ ۖ)* Ayat-ayat yang serupa menunjukkan pentingnya kodifikasi dan pencatatan ilmu agar tidak terlupakan. Hafalan terkadang akan mengalami gangguan, seperti kesalahan dan lupa. Terkadang seseorang tidak hafal dengan apa yang ia dengar sehingga hendaknya dia mencatatnya agar tidak hilang.

Di dalam Shahih Muslim diriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah, ia berkata, "Rasulullah saw. bersabda.

_"Setelah Allah selesai menciptakan semua makhluk-Nya, maka Dia menetapkan atas diri-Nya sendiri di dalam buku catatan yang ada di sisi-Nya, ‘Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku!”_ *(HR Muslim)*

Di dalam Shahih Muslim juga disebutkan hadits bahwa Nabi saw. memerintahkan agar khutbah yang beliau sampaikan ketika haji dicatat untuk Abu Syah, seorang laki-laki dari Yaman, ketika Abu Syah meminta beliau untuk menuliskannya.

Amr bin Syu'aib meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya, dan dari Nabi saw., bahwa beliau bersabda,

_“Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”_

Al-Khathib meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a., bahwa Nabi saw. bersabda kepada seorang laki-laki dari Anshar yang tidak hafal hadits,

_“Mintalah bantuan dengan tangan kananmu (menulis).”_

Adapun larangan Rasulullah saw. menulis hadits, hal tersebut adalah pada awalnya dan ia di-nasakh (dihapus hukumnya) oleh perintah Rasulullah saw. untuk menulis serta izin beliau kepada Abu Syah dan yang lainnya untuk menulis ucapan dan hadits beliau.

Abu Bakar al-Khathib berkata, "Hendaknya hadits ditulis dengan tinta hitam kemudian dengan tinta khusus, bukan tinta biasa karena tinta hitam dapat mewarnai warna-warna yang lain dan tinta akan mengabadikannya sepanjang masa. Ia adalah alat para ulama serta perlengkapan para ahli ma'rifah."

7. Firman Allah SWT, *(لَّا يَضِلُّ رَبِّى وَلَا يَنسَى)* menunjukkan bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, ini dari lafal yang pertama "Tuhan kami tidak akan salah". Firman Allah di atas juga menunjukkan terhadap keabadian pengetahuan tersebut untuk selamanya dan menunjukkan kepada tidak adanya perubahan. Dan ini adalah dari lafal yang kedua "dan tidak (pula) lupa".

8. Merupakan sebuah nikmat agung dari Allah SWT yang telah menjadikan bumi, walaupun bulat, namun terbentang seperti alas dan tenang sehingga dapat menjadi tempat tinggal.

9. Makna eksplisit dari ayat *(وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءًۭ فَأَخْرَجْنَا بِهِۦٓ أَزْوَٰجًۭا مِّن نَّبَاتٍۢ شَتَّىٰ)* menunjukkan bahwa Allah SWT hanya mengeluarkan tumbuh-tumbuhan dari dalam bumi dengan menurunkan air dari langit, sehingga air mempunyai pengaruh terhadapnya. Pengaruh ini karena Allah SWT memberikan kekhususan tersebut kepada air. Dengan demikian air yang diturunkan merupakan sebab yang tampak bagi keluarnya tumbuh-tumbuhan dalam.

10. Dikeluarkannya berbagai macam tumbuhan dari bumi dengan jenis dan warna yang berbeda-beda merupakan bukti yang jelas bagi kekuasaan Allah SWT dan bukti bagi adanya pencipta.

Sesungguhnya menjadikan sebagian tumbuh-tumbuhan cocok bagi manusia dan sebagian lagi cocok bagi binatang, yaitu dalam firman-Nya, makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu, merupakan salah satu nikmat yang terbesar bagi manusia dan termasuk hal yang patut untuk direnungkan dan dipikirkan oleh para pemilik akal yang sehat.

11. Alangkah besarnya nikmat yang ada di dalam bumi dan alangkah perlunya manusia terhadapnya. Karena Allah telah menciptakan kita darinya, mengembalikan kita ke sana setelah mati dan mengeluarkan kita darinya untuk dibangkitkan kembali dan dihisab. Adapun cara mengeluarkan kita dari bumi adalah Allah SWT telah menciptakan asal kita, yaitu Adam, dari tanah, sehingga kita ikut dengannya. Adapun terus berlangsungnya penciptaan adalah dengan dilahirkannya manusia dari mani dan segumpal darah. Keduanya tercipta dari sari makanan. Sari makanan ini bisa dari hewani atau nabati. Hewani juga berasal dari nabati, sedangkan, nabati tercipta dengan percampuran antara air dan tanah.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login