Surah Thaahaa Ayat 42-48

*THAAHAA (6)*
 
*KISAH NABI MUSA*

*ARAHAN-ARAHAN BAGI NABI MUSA DAN NABI HARUN DALAM BERDAKWAH KEPADA FIR'AUN*

*Surah Thaahaa Ayat 42-48*

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

1. Allah SWT mengaitkan antara pemilihan Nabi Musa untuk menerima wahyu dan risalah-Nya, dengan apa yang Dia pilihkan untuknya, yaitu menyampaikan risalah dan wahyu kepada orang-orang.

2. Allah SWT mendukung Nabi Musa dan Nabi Harun dengan sembilan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Musa agar menjadi bukti dan tanda bagi kenabiannya serta sebagai mukjizat yang membuktikan kebenaran dan sebagai bukti bagi Fir'aun dan kaumnya bahwa Nabi Musa dan saudaranya, Nabi Harun, adalah diutus oleh Allah kepada mereka.

3. Allah SWT memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk pergi berdakwah kepada Fir'aun agar menyembah Allah dan mengakui ketuhanan-Nya saja, tanpa ada sekutu bagi-Nya. Allah pertama kali berbicara hanya kepada Nabi Musa adalah untuk memuliakannya, kemudian dalam pembicaraan yang kedua Allah menyebutkan Nabi Musa dan saudaranya sebagai penguat dari pembicaraan yang pertama.

4. Firman Allah SWT *(فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًا لَّيِّنًا)* ini merupakan dalil kebolehan melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar dan hendaknya dilakukan dengan ucapan yang lembut bagi orang yang memiliki kekuatan dan telah dijamin keselamatannya oleh Allah (dalam hal ini adalah Nabi Musa). Tentunya, kita lebih harus menggunakan kata-kata yang lembut dalam amar ma'ruf dan nahi mungkar tersebut (karena kita lebih rendah kedekatannya dengan Allah SWT dibanding Nabi Musa, ed.). Dengan cara ini maka orang yang menyampaikan amar ma'ruf dan nahi mungkar akan berhasil dan dapat mencapai apa yang ia inginkan. Maksud dari ucapan yang lembut adalah kata-kata yang tidak kasar. 

5. Takut dari kezaliman orang-orang zalim yang keji seperti Fir'aun merupakan tabiat manusia. Oleh karena itu tidak aneh iika Nabi Musa dan Nabi Harun berkata *(إِنَّنَا نَخَافُ أَن يَفْرُطَ عَلَيْنَآ أَوْ أَن يَطْغَىٰ)*

6. Para ulama berkata, "Ketika Nabi Musa dan Nabi Harun dihinggapi rasa takut sebagaimana manusia pada umumnya, maka Allah SWT memberi tahu keduanya bahwa Fir'aun dan kaumnya tidak akan dapat menyakiti mereka berdua juga kaumnya.

Ayat ini adalah bantahan bagi orang yang mengatakan bahwa Nabi Musa tidak dihinggapi rasa takut sama sekali karena rasa takut dari musuh merupakan sunatullah bagi para nabi dan para wali walaupun mereka mempunyai makrifat dan keyakinan yang tinggi kepada-Nya.

Oleh karena itu, Al-Qur'an mengisahkan tentang Nabi Musa dalam firman Allah:

_"Maka keluarlah dia (Musa) dari kota itu dengan rasa takut, waspada (kalau ada yang menyusul atau menangkapnya)..."_ *(al-Qashash:21)*

Allah berfirman,

_"Karena itu, dia (Musa) menjadi ketakutan berada di kota itu sambil menunggu (akibat perbuatannya)..."_ *(al-Qashash:18)*

Allah berfirman ketika para penyihir melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, "

_"Maka Musa merasa takut dalam hatinya. Kami berfirman: _"Jangan takut! Sungguh, engkaulah yang unggul (menang)."_ *(Thaahaa : 67-68)*

Allah berfirman di ayat-ayat pertama dari surah ini:

_"Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula."_ *(Thaahaa: 21)*

Diantaranya juga adalah yang dilakukan Nabi saw. sebelum perang Ahzab. Beliau menggali parit di sekitar Madinah untuk menjaga kaum Muslimin dan harta mereka. Padahal beliau berada pada puncak tawakal dan keyakinan kepada Allah. Tidak ada seorang pun yang mencapai tingkatan beliau ini. Kemudian juga yang dilakukan oleh para sahabat Rasulullah saw. ketika mereka meninggalkan rumah mereka untuk berhijrah ke Ethopia kemudian ke Madinah untuk menyelamatkan diri dan agama mereka dari upaya orang-orang musyrik Mekah yang ingin mengeluarkan mereka dari agama Islam dengan siksaan.

Para ulama mengatakan bahwa orang yang mengatakan tentang kondisi dirinya namun berbeda dengan tabiat yang telah ditetapkan oleh Allah pada diri manusia, adalah pendusta. Allah telah menjadikan tabiat manusia lari dari hal-hal yang membahayakan, menyakiti atau merusak dirinya.

7. _'Ishmah_ (dijaga dari musuh) hanyalah untuk para nabi saja. Oleh karena itu Allah berfirman kepada Nabi Musa dan Nabi Harun *(إِنَّنِى مَعَكُمَآ أَسْمَعُ وَأَرَىٰ)*

Artinya, pertolongan, bantuan dan kekuasaan Allah bersama kalian berdua dalam menghadapi Fir'aun.

_Sama'_ [mendengar) dan _Bashar_ (melihat) merupakan kata yang digunakan untuk pengetahuan terhadap segala sesuatu, tanpa adanya sesuatu yang tidak diketahui sama sekali. 

Ayat ini, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, merupakan dalil bagi pengetahuan Allah dan dalil bahwa Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.

Permintaan Nabi Musa dan Nabi Harun yang pertama kepada Fir'aun adalah dibebaskannya Bani Isra'il dan diselamatkannya mereka dari kerja paksa yang sangat berat, sebab ketika itu Bani Isra'il mendapatkan siksaan yang berat dari Fir'aun. Anak-anak mereka dibantai, sedangkan para perempuannya dijadikan pembantu. Mereka juga dibebani pekerjaan yang sangat berat untuk mengolah tanah, membuat batu bata dan membangun kota-kota.

Perkataan Nabi Musa dan Nabi Harun kepada Fir'aun sangat lembut dan sesuai dengan logika. Keduanya berkata kepada Fir'aun, _"Kami datang kepadamu dengan membawa mukjizat yang menunjukkan kenabian dan risalah kami. Barangsiapa mengikuti petunjuk, maka ia akan selamat dari murka dan siksa Allah Azza wa Jalla."_ Kata salaam dalam ayat *(وَالسَّلَامُ عَلَىٰ مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَىٰ)* bukanlah _tahiyyah_ (ucapan selamat saat pertama berjumpa), buktinya bahwa ucapan tersebut disampaikan bukan di awal pertamuan atau awal pembicaraan.

Keduanya juga menambahkan, _"Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa, yaitu kebinasaan dan kehancuran di dunia, serta abadi di dalam Jahannam ketika di akhirat, adalah bagi orang yang mendustakan para nabi Allah dan tidak mau beriman."_ *Ibnu Abbas* berkata, _"lni adalah ayat yang paling memberikan harapan bagi orang-orang yang mengesakan Allah karena mereka tidak mendustakan para nabi Allah dan tidak berpaling dari keimanan."_ ===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login