Surah al-Kahf Ayat 27-31

*AL-KAHF (4)*
 
*ARAHAN-ARAHAN UNTUK NABI SAW. DAN KAUM MUKMIN, AGAR SENANTIASA MEMBACA AL-QUR'AN, BERSABAR MENGHADAPI KAUM FAKIR MISKIN DAN MENUNJUKKAN BUKTI-BUKTI KEBENARAN DARI ALLAH*

*Surah al-Kahf Ayat 27-31*

*Sebab Turunnya Ayat*

Sebab turunnya ayat 28, *(وَٱصْبِرْ نَفْسَكَ)* diriwayatkan dari Salman al-Farisi r.a., dia berkata, "Sekelompok orang yang diharapkan akan memeluk Islam menemui Rasulullah saw., yaitu Uyainah bin Hishn dan Aqra’ bin Habis beserta pengikutnya, seraya berkata, "Wahai Rasulullah, jika kamu bersedia duduk di depan majelis dan menyingkirkan mereka serta bau pakaian mereka — maksudnya, Salman al-Farisi, Abu Dzar al-Ghifari, dan kaum Muslimin yang miskin, pada saat itu, mereka mengenakan pakaian dari bulu domba karena tidak ada lagi pakaian selain itu — , kami akan duduk bersamamu, berbicara, dan menimba ilmu darimu."

Seketika itu turunlah firman Allah, *(....وَٱتْلُ مَآ أُوحِىَ إِلَيْكَ مِن كِتَابِ رَبِّكَ ۖ)* hingga ayat *(إِنَّآ أَعْتَدْنَا لِلظَّـٰلِمِينَ نَارًا)*

Dalam ayat-ayat ini, Allah mengancam mereka dengan siksa api neraka. Nabi saw. lalu bangkit untuk mencari para sahabat beliau dan mendapati mereka berada di bagian akhir masjid sedang berdzikir. Nabi saw. bersabda, _"Alhamdulillah, Allah belum mencabut nyawaku hingga Dia memerintahkanku untuk bersabar bersama beberapa orang dari umatku. Bersama kalian dalam kehidupan dan bersama kalian dalam kematian."_

Riwayat lain menyebutkan bahwa Uyainah bin Hishin al-Fazari menemui Rasulullah saw. sebelum memeluk agama Islam. Pada saat itu, Rasulullah saw. bersama para sahabatnya yang fakir miskin, di antara mereka, Salman al-Farisi, yang sedang mengenakan mantel yang basah karena keringat dan di tangannya terdapat daun kurma yang dia belah kemudian dia rangkai. Uyainah berkata kepada Nabi saw, "Tidakkah bau mereka menusuk hidungmu? Kami adalah para pembesar dan orang-orang paling mulia dari Mudhar. Jika kami memeluk agama Islam, niscaya orang-orang akan masuk Islam. Tidak ada hal yang menghalangi kami untuk menjadi pengikutmu kecuali keberadaan mereka. Usirlah mereka, maka kami akan mengikutimu atau buatlah majelis khusus untuk mereka dan khusus untuk kami." Maka turunlah firman Allah tersebut.

Diriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri dan Abu Hurairah, mereka berkata, "Rasulullah saw. datang pada saat seorang pria membaca surah al-Hijr atau surah al-Kahf, kemudian pria tersebut terdiam." Rasulullah saw. bersabda, "Di majelis inilah aku diperintahkan untuk bersabar bersama mereka."

Diriwayatkan dari Ibnu Murdawaih dari Ibnu Abbas r.a. mengenai firman Allah SWT, *(.... وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُۥ)* dia berkata, "Ayat ini diturunkan pada kasus Umayyah bin Khalaf al-Jumahi. Dia meminta Nabi saw. untuk melakukan perbuatan yang dibenci Allah yaitu mengusir para sahabat yang miskin dari sisi beliau dan hanya mendekatkan para pembesar Mekah saja. Turunlah ayat ini."

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Ayat-ayat tersebut mengandung beberapa petunjuk sebagai berikut.

1. Kewajiban mengikuti Al-Qur’an berikut isinya karena tidak ada yang dapat mengubah firman Allah mengenai ancaman terhadap para pelaku maksiat dan penentang kitab suci-Nya. Juga tidak ada yang dapat mengubah janji-Nya kepada orang-orang yang taat dan melaksanakan perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya.

2. Islam adalah agama yang berlandaskan persamaan derajat. Tidak ada perbedaan dalam pelaksanaan hukum Islam antara orang terhormat dan orang rendahan, antara orang kaya dan orang miskin, serta antara pemimpin dan rakyat yang dipimpin. Tidak ada pembedaan dalam perkara sosial antar lapisan masyarakat. Seluruh Muslimin memiliki perlakuan yang sama, baik di majelis, dalam interaksi sosial, maupun dalam hak, dan kewajiban.

Di dalam ayat, *(...وَٱصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم)* Al-Qur’an telah menghapuskan pembedaan di dalam majelis, dalam pembicaraan, dan dalam ucapan antarpembesar Quraisy beserta pengikutnya dan orang fakir miskin dan lemah. Bahkan Islam, sesungguhnya, selalu memuliakan orang yang status sosialnya lemah, tetapi bertakwa dan selalu beramal saleh untuk mendapatkan keridhaan Allah. Islam tidak menyukai orang-orang yang hanya mementingkan dunia daripada akhirat, serta mengikuti hawa nafsunya dan sangat melampaui batas dalam berbuat maksiat.

Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk membiarkan majelis Nabi saw. dan kaum Mukmin didatangi para pembesar yang mengusulkan kepada Nabi saw. agar mengusir kaum Muslim yang miskin dari mejelis beliau. Nabi saw. tidak menolak atau memberikan komentar atas usulan tersebut, tetapi Allah melarang keras Nabi saw. melaksanakannya. Para pemuka Quraisy tersebut berkata, "Sesungguhnya kami ini para Bani Mudhar. Jika kami memeluk agama Islam, niscaya orangorang juga akan memeluk agama Islam." Pernyataan tersebut merupakan bentuk kesombongan dan merupakan perkataan yang melampaui batas.

3. Kebenaran hakiki semata-mata berasal dari Allah, Tuhan manusia. Hanya Dia yang berhak atau tidak memberikan taufik kepada manusia. Dalam genggaman kekuasaan-Nya, hidayah dan kesesatan. Dia yang memberikan hidayah kepada orang yang dikehendaki-Nya sehingga orang tersebut pasti beriman. Dia juga yang menghendaki seseorang tetap ber¬ ada dalam kekufuran sehingga orang tersebut tetap kafir. Kekuasaan tersebut hanya milik Allah bukan milik siapa pun, bahkan Nabi saw. sekalipun. Allah yang mendatangkan kebenaran kepada orang yang dikehendaki-Nya walaupun orang tersebut berasal dari golongan lemah. Allah juga yang menghalangi orang tersebut menerima kebenaran walaupun ia berasal dari golongan yang kuat. Nabi saw. tidak berhak mengusir orang Mukmin yang miskin dari majelis beliau hanya untuk mengikuti hawa nafsu para penguasa Quraisy.

"Jika kalian, wahai para penguasa, ingin beriman, berimanlah. Jika kalian ingin kafir, tetaplah kafir." Perkataan ini tidak bermaksud memberikan keringanan atau pilihan antara iman dan kafir, melainkan bentuk lain dari ancaman dan peringatan. Dengan kata lain, "Jika kalian tetap kafir, neraka telah disiapkan untuk kalian. Jika kalian beriman, niscaya surga menanti kalian."

Dalil yang menunjukkan bahwa redaksi tersebut merupakan ancaman adalah firman Allah langsung setelah ayat tersebut, *(إِنَّآ أَعْتَدْنَا لِلظَّـٰلِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا ۚ)* yakni. Kami telah sediakan neraka yang apinya sangat panas bagi orang kafir yang zalim. Ruang-ruangan neraka tersebut, dinding-dindingnya, asap atau apinya, mengepung mereka dari segala arah.

Minuman bagi penghuni neraka ialah *(ٱلْمُهْلِ)* yaitu air mendidih seperti endapan minyak mendidih (yaitu sesuatu yang tersisa di dasar sebuah panci) atau tembaga yang meleleh, atau nanah dan darah.

Hal ini sebagaimana terungkap dalam firman Allah,

_"Dia akan diberi minuman dengan air nanah, diteguk-teguknya (air nanah itu) dan dia hampir tidak bisa menelannya.”_ *(Ibraahiim: 16-17)*

Juga dalam firman-Nya,

_"Dan diberi minuman dengan air yang mendidih, sehingga ususnya terpotong-potong?"_ *(Muhammud: 15)*

Sungguh, alangkah buruk dan jeleknya adzab di dalam api neraka Jahannam. Sehingga Allah berfirman *( وَسَآءَتْ مُرْتَفَقًا)*. maksudnya, tempat berkumpul, tempat tinggal, dan tempat menetap yang paling buruk.

4. Setelah menyebutkan kehinaan yang telah disediakan bagi orang-orang kafir, Allah juga menyebutkan pahala yang diberikan untuk kaum Mukminin karena sesungguhnya, Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan ganjaran bagi setiap perbuatan saleh orang yang beriman. Hal ini membuktikan bahwa landasan utama keselamatan ialah keimanan yang diiringi amal saleh. Sedangkan, perbuatan baik yang dilakukan oleh orang yang tidak beriman, maka perbuatannya tersebut sia-sia belaka. Sebaliknya, ganjaran bagi orang beriman berupa surga-surga Adn, yaitu surga yang berada di tengah-tengah dan dikelilingi oleh surga-surga lainnya. Mereka juga dihiasi oleh mutiara dan kalung-kalung emas serta mengenakan pakaian berwarna hijau yang terbuat dari sutra halus dan tebal. Saat berada di dalamnya, mereka dapat beristirahat dengan bersandar pada sofa-sofa yang dinaungi oleh kubah, yang di dalamnya dihiasi kain-kain dan kelambu seperti pengantin.

Alangkah indah dan bagusnya ganjaran tersebut. Oleh sebab itu, Allah berfirman, *(نِعْمَ ٱلثَّوَابُ وَحَسُنَتْ مُرْتَفَقًۭا )* surga adalah sebaik-baik pahala bagi orang Mukmin yang saleh, juga merupakan tempat tinggal, tempat menetap, tempat duduk dan tempat berkumpul terbaik bagi mereka.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login