Surah al-Kahf Ayat 9-26 Bagian 1

*AL-KAHF (2)*
 
*KISAH ASHABUL KAHFI*

*Surah al-Kahf Ayat 9-26*
*[Bagian 1/2]*

*Sebab Turunnya Ayat*

Pada surah sebelumnya telah disebutkan sebab turunnya ayat tentang kisah Ashabul Kahfi, yaitu dalam firman Allah SWT,

_“Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, 'Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit."_ *(al-Israa': 85)*

Muhammad Ibnu Ishaq menyebutkan sebab turunnya ayat tentang kisah Ashabul Kahfi ini secara rinci dan jelas. Ia mengatakan.

"Nadhar bin Harits, salah satu setan Kaum Quraisy, pernah menyakiti Rasulullah saw. dan mengikrarkan permusuhan terhadap beliau. Ia mendatangi Hirah dan mempelajari cerita-cerita tentang Rostam dan Esfandiyar. Rasulullah saw., jika duduk dalam sebuah majelis yang menyebutkan nama Allah di dalamnya, menceritakan tentang adzab yang diterima umat sebelum mereka, maka Nadhar senantiasa hadir untuk menentang isi majelis tersebut seraya berdiri dan berkata, ‘Wahai Kaum Quraisy, demi Allah, sesungguhnya aku lebih pandai bercerita dari dirinya. Mari perhatikan baik-baik, aku akan menceritakan kepada kalian dengan cerita yang lebih bagus daripada ceritanya.’ Nadhar kemudian menceritakan kepada mereka tentang raja-raja Persia.

Kaum Quraisy kemudian mengutus Nadhar, juga turut bersamanya Utbah bin Abi Mu’ith menemui para rahib Yahudi di Madinah. Kaum Quraisy tersebut berkata kepada mereka berdua, 'Tanyakanlah kepada mereka tentang Muhammad dan sifatnya, lalu beritahukanlah kepada mereka apa saja yang telah dikatakannya karena mereka (orang-orang Yahudi) ialah generasi Ahlul Kitab pertama, mereka memiliki pengetahuan tentang para nabi yang tidak kita miliki.’ Kedua orang tersebut keluar dari kota tersebut hingga tiba di Madinah. Di tempat itu mereka bertanya kepada para rahib Yahudi tentang Muhammad. Para rahib Yahudi tersebut berkata, 'Tanyakanlah kepada Muhammad tentang tiga hal: tentang para pemuda yang pergi pada masa pertama bukan karena keinginan mereka, kisah mereka sungguh menakjubkan, dan tentang seorang laki-laki yang berkeliling dunia hingga telah tiba di barat dan timur belahan dunia, bagaimana cerita tentang dirinya tersebut. Terakhir, tanyakanlah kepadanya tentang ruh, apakah ruh itu sebenarnya? Jika ia mampu memberitahukan kepada kalian tentang semua ini, ia adalah seorang nabi. Sebaliknya, jika ia tidak mampu menjawabnya, ia tak lain hanya seorang yang mengaku-ngaku nabi.’

Saat Nadhar dan temannya tiba di Mekah, mereka berdua berkata, ‘Kami telah datang menemui kalian dengan sesuatu yang akan menjadi penjelas antara kita dan Muhammad.’ Selanjutnya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan para rahib tersebut. Mereka semua beramai-ramai menjumpai Rasulullah saw. dan menanyakan kepadanya hal tersebut. Rasulullah saw. bersabda, ‘Saya akan menjawab pertanyaan kalian tersebut besok.’ Tetapi Nabi saw. tidak mengatakan, ‘In syaa Allah.’

Mereka lalu meninggalkan Nabi Muhammad saw.. Beliau kemudian berdiam diri — seperti yang diriwayatkan — selama lima belas malam, hingga penduduk Mekah pun menjadi ramai karena keterlambatan jawaban beliau. Mereka berkata, ‘Ketika berjumpa, Muhammad menjanjikan kepada kami akan memberikan jawaban pada esoknya, tapi hari inisudah malam kelima belas.’ Nabi Muhammad saw. merasa gelisah karena peristiwa tersebut. Tak lama kemudian, datanglah Jibril a.s. yang diutus Allah SWT dengan membawa surah Ashabul Kahfi. Di dalam surah tersebut terdapat teguran Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw. atas kesedihannya terhadap kondisi penduduk Mekah. Juga terdapat di dalamnya berita tentang para pemuda Ashabul Kahfi dan tentang seorang laki-laki yang telah mengelilingi dunia."

Berdasarkan riwayat dari Ibnu Jarir dari ad-Dhahak dan Ibnu Murdawaih dari Ibnu Abbas, ia berkata, "Nabi saw. pernah bersumpah, hingga berlalu dari sumpahnya tersebut selama 40 malam. Allah SWT kemudian menurunkan ayat, *(...وَلَا تَقُولَنَّ لِشَا۟ىْءٍ)*

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Melalui penjelasan kisah Ashabul Kahfi di atas, dapat disimpulkan beberapa hal berikut ini.

1. Keadaan yang tergambarkan dalam kisah ini bukanlah satu-satunya tanda kebesaran Allah yang menakjubkan, tetapi penciptaan langit, bumi, dan segala yang terdapat di antara keduanya lebih ajaib dan lebih memukau, serta menjadi bukti yang lebih kuat bagi kekuasaan Allah. Hendaknya kisah ini tidak membuatmu sangat terheran-heran, wahai Nabi, sebagaimana keheranan orang-orang kafir itu.

2. Para pemuda Mukmin yang masuk ke dalam gua berasal dari keluarga terhormat kota Dikyanus, seorang raja yang kafir. Mereka melarikan diri demi mempertahankan agama mereka dari fitnah orang-orang kafir penyembah patung berhala. Tindakan ini merupakan dalil tentang melarikan diri untuk mempertahankan agama, serta dalil bagi kebolehan meninggalkan keluarga, anak-anak, karib kerabat, teman-teman, tanah air, dan harta karena khawatir akan fitnah dan ujian dari pihak lain. Nabi saw. telah meninggalkan tanah kelahiran beliau demi menyelamatkan agama beliau, demikian juga para sahabat beliau, seperti yang telah diabadikan Allah dalam surah Bara'ah. Mereka berhijrah dari tanah kelahiran mereka, meninggalkan tanah, tempat tinggal, keluarga, anak-anak, karib kerabat, dan saudara mereka demi mengharapkan keselamatan bersama agama Islam dan terhindar dari fitnah kaum kafir. Pengecualian ini, yaitu seseorang mengasingkan diri dari orang-orang, menurut kesepakatan ulama hanya diperbolehkan jika khawatir akan terjadi fitnah (ujian berat) bagi agamanya. Namun, untuk keadaan selain itu, para ulama sepakat bahwa berada di tengah masyarakat ialah lebih baik daripada mengasingkan diri. Dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh al-Baghawi, Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Ibnu Umar r.a. dari Nabi saw., beliau bersabda.

_“Orang Mukmin yang berbaur dengan masyarakat di sekitarnya, dan dia senantiasa bersabar atas gangguan mereka ialah lebih baik daripada Mukmin yang tidak berbaur dengan mereka dan tidak sabar atas gangguan mereka."_ *(HR al-Baghawi, Ahmad, Tirmidzi, dan Ihnu Majah)*

3. Saat para pemuda Ashabul Kahfi melarikan diri dari orang yang mencari-cari mereka, para pemuda tersebut senantiasa menyibukkan diri dengan doa dan menyerahkan sepenuhnya segala urusan hanya kepada Allah dengan berdoa.

_“Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.”_

Maksudnya, berikanlah kepada kami ampunan dan rezeki, sempurnakanlah bagi kami taufik untuk mendapatkan kebenaran.

Orang-orang berbeda pendapat tentang masa dan tempat Ashabul Kahfi. Mengenai masa mereka hidup, ada yang menyatakan bahwa mereka hidup di era sebelum Nabi Musa, berdasarkan riwayat bahwa Nabi Musa menyebutkan cerita tentang mereka di dalam Taurat. Karena hal ini pula, kaum Yahudi menanyakan perihal mereka kepada Nabi Muhammad saw..

Pendapat lain menyatakan bahwa mereka masuk ke dalam gua sebelum era Isa al-Masih a.s., kemudian dibangkitkan kembali setelah era Isa al-Masih a.s. dan sebelum kedatangan Nabi Muhammad saw..

Pendapat terakhir menyatakan bahwa mereka masuk ke dalam gua setelah masa Isa al-Masih a.s..

Mengenai lokasi gua tersebut, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya secara pasti. Ada pendapat yang mengatakan bahwa lokasi gua tersebut terletak di Romawi atau sebelah selatan negara Turki di Tarsus dan inilah yang tampak benar.

4. Salah satu skenario Allah terhadap para pemuda Ashabul Kahfi selama mereka berdiam di gua tersebut ialah mereka ditidurkan selama bertahun-tahun dan membuat telinga mereka tidak mendengar apa pun karena orang yang sedang tidur akan segera terbangun dari tidurnya jika mendengar sesuatu. Allah kemudian membangunkan mereka kembali setelah tertidur lelap dan orang-orang kemudian mengetahui perihal mereka.

Dibangunkannya Ashabul Kahfi tersebut adalah untuk menguji orang-orang seputar pengetahuan mereka tentang lama waktu mereka berada di gua. Firman Allah *( لِنَعْلَمَ أَىُّ ٱلْحِزْبَيْنِ أَحْصَىٰ)* yakni, agar Kami mengetahui bahwa golongan yang hitungannya tepat itu ada. Karena, sesungguhnya Allah Mahatahu golongan mana di antara mereka yang paling tepat hitungannya. Maksud dari dua golongan atau kelompok tersebut, sekelompok pemuda yang menduga bahwa mereka berada di sana hanya sebentar saja dan penduduk kota yang hidup ketika para pemuda itu dibangunkan dan mereka memiliki catatan sejarah terkait para pemuda tersebut.

5. Sesungguhnya, para pemuda Ashabul Kahfi atau sekelompok pemuda tersebut memiliki sifat-sifat: beriman kepada Allah SWT., Allah memberikan kesabaran dan keteguhan dalam hati mereka, Allah juga menambahkan keimanan mereka dengan memberikan kemudahan untuk melakukan amal saleh, seperti hidup hanya untuk Allah, menjauhi manusia, dan zuhud di dunia.

Salah satu sikap yang memperlihatkan kuatnya keteguhan hati dan kesabaran yang diberikan Allah kepada mereka adalah saat mereka mengumumkan secara terang-terangan di hadapan kaum kafir *(رَبُّنَا رَبُّ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ لَن نَّدْعُوَا۟ مِن دُونِهِۦٓ إِلَـٰهًۭا ۖ لَّقَدْ قُلْنَآ إِذًۭا شَطَطًا )* 

Mereka juga saling mengkaji keimanan mereka. Sebagian mereka mengatakan kepada sebagian lainnya, "Penduduk kota itu ialah orang-orang yang hidup di masa dan kota kita. Mereka menyembah patung hanya karena ikutikutan tanpa hujjah yang benar. Apakah mereka dapat memberikan dalil bagi ritual penyembahan berhala tersebut?."

6. Allah berfirman kepada mereka atau mereka berkata kepada sebagian lainnya, "Jika kalian telah bertekad meninggalkan kaum kalian, masuklah ke dalam gua itu niscaya rahmat Allah akan menaungi kalian. Allah juga akan mencukupkan kebutuhan dan segala yang bermanfaat bagi kehidupan kalian."

7. Di antara rahmat dan kasih sayang yang diberikan Allah kepada mereka saat tertidur adalah sinar matahari menjauh dari mereka dan condong ke sebelah kanan dan kiri atau condong ke sebelah kanan dan kiri gua. Sinar matahari tersebut tidak pernah mengenai mereka langsung sejak pagi hingga terbenam. Selain itu, siapa pun yang menyaksikan mereka, langsung akan menduga mereka dalam keadaan terjaga karena mata mereka yang selalu terbuka padahal mereka sebenarnya tertidur. Juga anjing mereka yang duduk menjulurkan kedua lengannya persis di depan pintu gua untuk menjaga mereka, padahal ia juga sedang tidur persis seperti mereka. Kasih sayang Allah kepada mereka juga ditunjukkan dengan membolak-balikkan badan mereka ke sebelah kanan dan ke sebelah kiri agar tanah tempat mereka berbaring tidak memakan daging mereka. Yang membolak-balikkan tubuh mereka tersebut ialah Allah, bisa juga malaikat atas perintah Allah sehingga dinisbahkan kepada Allah.

8. Diperbolehkannya memelihara anjing jika ada keperluan, untuk berburu dan menjaga. Dalam sebuah hadits di dalam Shahih Muslim yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar r.a. dari Nabi saw., beliau bersabda.

مَنِ اتَّخَذَ كَلْبًا إِلَّا كَلْبَ صَيْدٍ أَوْ مَاشِيَةٍ، فَإِنَّهُ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطَانِ

_“Siapa yang memelihara anjing selain anjing untuk berburu dan penggembala, maka pahalanya setiap hari berkurang sebanyak dua qiraath.”_ *(HR Muslim)*

Anjing penggembala yang dibolehkan (mubah) menurut Imam Malik ialah anjing yang ikut serta pergi menggembala ternak, bukan anjing yang menjaga ternak tersebut dari pencuri. Anjing pertanian adalah anjing yang menjaga lahan pertanian dari binatang buas di malam atau di siang hari, bukan yang menjaganya dari pencuri. Para imam selain Imam Malik memperbolehkan memelihara anjing untuk menjaga hewan ternak dan lahan pertanian dari pencuri.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login