Surah al-lsraa’ Ayat 66-70

AL-ISRAA' (14)

SEJUMLAH NIKMAT ALLAH SWT KEPADA MANUSIA

Surah al-lsraa’ Ayat 66-70

FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM

Dari ayat-ayat di atas dapat disimpulkan beberapa hal berikut ini.

1. Allah SWT memberikan banyak keutamaan dan nikmat kepada manusia selain rezeki dan kehidupan. Di antaranya adalah ditundukkannya kapal-kapal di lautan agar dapat dinaiki, dimudahkannya sarana transportasi, dan dimudahkannya pengangkutan barang-barang dagangan. Hal ini mengharuskan manusia untuk bersyukur kepada Allah atas limpahan nikmat tersebut dan tidak menyekutukanNya dengan selain Allah.

2. Di antara nikmat dan rahmat Allah SWT ialah menyelamatkan manusia dari berbagai bahaya dan kesulitan di lautan ketika ombak mengalir deras dan airnya berguncang sehingga orang yang sedang dilanda kesulitan tidak mendapatkan tempat kembali selain Allah untuk menghilangkan kesulitannya. Berdasarkan fitrah, setiap orang mengetahui dengan pasti bahwasanya berhala-berhala tidak memiliki daya dan upaya apa pun ketika terjadi berbagai kesulitan yang besar. Akan tetapi, manusia selalu saja berbuat zalim dan banyak kufur terhadap nikmatnikmat Allah kecuali yang Allah lindungi. Yang dimaksud dengan "manusia" di dalam firman-Nya, adalah seluruh manusia mencakup orang Mukmin dan orang kafir.

Allah Mahakuasa untuk membinasakan manusia di daratan walaupun mereka selamat ketika di lautan. Mereka tidak akan mendapatkan penjaga dan penolong selain Allah yang dapat melindungi mereka dari murka-Nya. Dan Allah SWT terkadang membinasakan manusia dengan gempa bumi atau dengan mengirim angin kencang yang dapat menerbangkan batubatu kecil.

Ketika manusia diselamatkan dari bahaya tenggelam ketika di lautan, bisa jadi dia kembali naik kapal di lautan, lalu ditenggelamkan dengan angin topan disebabkan kekafiran dan kesesatan, sedangkan manusia tidak memiliki siapa pun untuk membalas apa yang menimpa mereka atau mendatangkan penolong yang dapat diminta untuk membalaskan bencana yang telah mereka rasakan.

3. Di antara nikmat Allah SWT yang agung bagi manusia, yaitu empat perkara yang dianugerahkan kepada manusia melebihi makhluk yang lain. Keempat perkara tersebut adalah dimuliakannya Bani Adam dengan menciptakan mereka dalam bentuk terbaik yang dibekali akal dan pemikiran, di daratan diangkut dengan kuda, bighal, keledai, unta dan berbagai sarana modern lain, seperti di laut dengan kapal, di udara dengan pesawat. Juga diberi rezeki dari hal-hal yang baik, serta diutamakan melebihi banyak makhluk yang lain, meski bukan atas semua makhluk.

Beda antara _takriim_ (pemuliaan) dan _tafdhiil_ (pengutamaan) adalah sebagai berikut.

_Takriim_ adalah perkara-perkara bawaan yang alami, seperti memiliki akal, memiliki kemampuan berbicara, merencanakan sesuatu, memiliki rupa yang bagus dan memiliki bentuk tubuh yang bagus.

_Tafdhil_ adalah memberinya kemampuan berpikir dan memahami untuk mendapatkan aqidah yang benar dan akhlak yang mulia.“

*Apakah manusia lebih utama dari malaikat, atau sebaliknya?*

Kemungkinan malaikat lebih utama, kemungkinan juga sebaliknya. Ada juga kemungkinan bahwa keduanya mempunyai keutamaan yang sama. Pada ayat di atas, tidak ada pernyataan tentang pengutamaan, salah satunya dari yang lain sebagaimana ayat yang menyatakan diutamakannya sebagian nabi melebihi sebagian yang lain.

Sebagian ulama berpendapat bahwa orang-orang Mukmin lebih utama dari para malaikat. Mereka berhujjah (argumen] dengan hadits di atas, yaitu riwayat Abdullah bin Amr, Anas, atau Zaid bin Aslam. Mereka juga berhujjah dengan perkataan Abu Hurairah, "Orang yang beriman lebih mulia bagi Allah daripada para malaikat yang ada di sisi-Nya.”

Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa para malaikat lebih utama dari manusia secara mutlak berdasarkan ayat ini,

_“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna."_ *(al-Israa’: 70)*

Ini adalah kesimpulan berdasarkan dalil _al-khithab_ (sesuatu yang dipahami dari makna implisit suatu nash), bahwa penyebutan "kebanyakan” secara khusus di dalam ayat ini menunjukkan bahwa makhluk lain yang sedikit ialah sebaliknya, lebih utama dari manusia.

Pendapat yang benar adalah pendapat kedua karena firman Allah SWT *(عَلَىٰ كَثِيرٍۢ مِّمَّنْ خَلَقْنَا)* (Kami lebihkan) atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan, artinya selain para malaikat.

Az-Zamakhsyari berkata, "Cukup sebagai suatu keutamaan yang diberikan kepada anak cucu Adam, yaitu ditinggikannya para malaikat, pemilik derajat yang tinggi di atas mereka di sisi Allah."====

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login