IBRAAHIIM (7)
PERUMPAMAAN KALIMAT YANG BAIK DARI GOLONGAN YANG BERBAHAGIA, DAN GAMBARAN KALIMAT YANG BURUK DARI GOLONGAN YANG CELAKA
Surah Ibraahiim Ayat 24-27
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Ayat-ayat di atas menunjukkan sejumlah hal sebagai berikut.
1. Kalimat _thayyibah_, yaitu keimanan, atau *kalimat tauhid* _laa ilaaha illallaahu Muhammadur Rasuulullaahi_ atau orang Mukmin itu sendiri, adalah kalimat yang kukuh, baik, dan bermanfaat. *Anas* meriwayatkan dari *Rasulullah saw.*, beliau bersabda:
مَثَلُ الإِيمَانِ كَشَجَرَةٍ ثَابِتَةٍ، فَالإِيمَانُ أَصْلُهَا، وَالصَّلَاةُ جِذْعُهَا، وَالزَّكَاةُ أَغْصَانُهَا، وَالصِّيَامُ فُرُوعُهَا وَأَفْنَانُهَا، وَالصَّبْرُ عَلَى الْأَذَى فِي سَبِيلِ اللَّهِ نُمُوُّهَا، وَحُسْنُ الْخُلُقِ أَوْرَاقُهَا، وَاجْتِنَابُ الْمُحَرَّمَاتِ ثِمَارُهَا.
_“Perumpamaan iman adalah seperti sebuah pohon yang kukuh . Keimanan adalah ibarat akar-akarnya, shalat adalah batangnya, zakat adalah cabang-cabangnya, puasa adalah dahan dan ranting-rantingnya, tabah dan tegar menghadapi berbagai gangguan dan tekanan di jalan Allah SWT adalah pertumbuhannya, akhlak yang baik adalah daun-daunnya, menghindari hal-hal yang diharamkan Allah SWT adalah buahnya."_
Pohon yang baik dalam ayat ini maksudnya adalah pohon kurma menurut pendapat yang lebih shahih. *Ghaznawi* dan *Thabrani* menuturkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh *Ibnu Umar* dari *Rasulullah saw.,*
مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَالنَّخْلَةِ، كُلُّ أَجْزَائِهَا نَافِعَةٌ، ثَابِتَةٌ لَا تَتَزَعْزَعُ، تُعْطِي خَيْرَهَا فِي كُلِّ حِينٍ
_“Perumpamaan seorang mukmin adalah seperti pohon kurma; seluruh bagiannya bermanfaat, kokoh tidak mudah goyah, dan senantiasa memberikan kebaikan setiap waktu.”_
2. Perumpamaan-perumpamaan dan ilustrasi, terutama mengilustrasikan sesuatu yang bersifat rasional dengan sesuatu yang bersifat materil dan indrawi. Di dalamnya terkandung peringatan, dan nasihat, yang lebih efektif dalam memahamkan, menggugah hati, dan menarik perhatian.
3. Kalimat yang buruk, yaitu kalimat kekafiran, sama sekali tidak memiliki kekuatan, keteguhan, sama sekali tidak berguna, dan tidak memiliki manfaat apa pun. Sama sekali tidak memiliki landasan hujjah yang dapat diterima atau dalil yang benar. Menurut pendapat yang lebih shahih, yang dimaksudkan dengan pohon yang buruk adalah pohon _hanzhal (citrullus colocynthis),_ sebagaimana keterangan yang terdapat dalam hadits *Anas*. Ini adalah pendapat *Ibnu Abbas, Mujahid*, dan yang lainnya.
Demikian pula halnya dengan orang kafir, ia sama sekali tidak memiliki hujjah, tidak memiliki kekukuhan dan keteguhan, tidak mengandung kebaikan apa pun, dan tidak pula memiliki fondasi yang benar yang bisa menjadi dasar landasan dirinya beramal.
4. Maksud dan tujuan dari ayat ini adalah menyeru kepada keimanan dan menolak kemusyrikan.
5. Allah SWT meneguhkan orang-orang Mukmin di atas kebenaran dan keimanan sewaktu di dunia, sehingga mereka pun tidak pernah sedikit pun mundur dari kebenaran dan keimanan. Juga meneguhkan jiwa mereka. Dia pun mengilhamkan kepada mereka ketepatan dalam menyatakan keimanan sewaktu di dalam kubur. Orang-orang mati posisinya tetap di dunia sampai mereka dibangkitkan kembali pada hari Kiamat. Demikian juga di akhirat, Allah SWT mengilhamkan kepada mereka ketepatan dan kebenaran ketika menjalani proses hisab.
6. Allah SWT menyesatkan orang-orang kafir dari hujjah mereka ketika dalam kubur, sebagaimana mereka sesat di dunia dengan kekafiran mereka. Allah SWT pun tidak mengajari mereka kalimat kebenaran sehingga ketika ditanya dalam kubur, mereka menjawab, "Kami tidak tahu." Malaikat berkata kepadanya dengan bentakan kasar, "Tidak tahu, tidak tahu!!" Ketika itu, si kafir pun dihantami dengan cemeti atau tongkat dari besi yang ujungnya melengkung, sebagaimana hal ini dijelaskan dalam sejumlah riwayat.
7. Allah SWT berbuat apa yang Dia kehendaki, seperti mengadzab dan menyesatkan suatu kaum. Ada keterangan menyebutkan, sebab turunnya ayat ini adalah sebagaimana keterangan yang diriwayatkan dari Rasulullah saw., tatkala beliau menggambarkan pertanyaan Malaikat Mungkar dan Nakir berikut jawaban si mayit, maka *Umar bin Khathab* bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah ketika itu aku memiliki kesadaran akal pikiran?" Beliau menjawab, "Ya." Umar bin Khathab r.a. pun berkata, "Jika begitu, itu cukup bagiku." Allah SWT pun menurunkan ayat 27.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
