Surah Ibraahiim Ayat 21-23

IBRAAHIIM (6)

DIALOG DI ANTARA ORANG-ORANG YANG CELAKA PADA HARI ADZAB, PERDEBATAN ANTARA SETAN DENGAN PARA PENGIKUTNYA, DAN KEBERUNTUNGAN MENDAPATKAN SURGA BAGI ORANG-ORANG YANG BAHAGIA

Surah Ibraahiim Ayat 21-23

FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM

Dari ayat-ayat di atas bisa dipahami sejumlah hal seperti berikut.

1. Mencela, menentang, dan saling menyalahkan terjadi di antara para penghuni neraka. Percakapan antara para pemuka dan pengikut menggambarkan para pemuka yang tidak kuasa sedikit pun untuk mewujudkan apa pun bagi para pengikut mereka di dunia. Mereka tidak mampu sedikit pun menyelamatkan diri mereka dari adzab Allah SWT dan tidak pula bisa mewujudkan satu manfaat pun bagi diri mereka, apalagi memberikan manfaat pada orang lain. Semua pelaku kekufuran dan maksiat tidak akan menemukan jalan untuk melarikan diri dan berlindung dari adzab dan hukuman Allah SWT. Baik mereka sabar dalam menjalani adzab, maupun mengeluh, sama saja bagi mereka, tidak ada bedanya.

2. Para pimpinan dan pemuka telah mengikrarkan bahwa diri mereka sesat. Oleh karenanya, mereka pun mengajak para pengikutnya pada kesesatan. Seandainya mereka diberi petunjuk dan dibimbing, niscaya mereka juga akan menunjuki dan membimbing orang lain. Ini adalah sebuah omong kosong dan kebohongan belaka dari mereka, sebagaimana firman *Allah SWT* yang mengisahkan orang-orang munafik,

_"(Ingatlah) pada hari (ketika) mereka semua dibangkitkan Allah, lalu mereka ber¬ sumpah kepada-Nya (bahwa mereka bukan orang musyrik) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu."_ *(al-Mujaadilah: 18)*

3. Setelah memaparkan perselisihan dan pertengkaran yang terjadi di antara para pimpinan kafir dan pengikut mereka, Allah SWT menyambungnya dengan perselisihan dan pertengkaran yang berlangsung antara setan dan para pengikutnya dari bangsa manusia. Topik perselisihan dan pertengkaran mereka sama. Pihak yang diikuti sama-sama berlepas diri dari pihak yang mengikuti. Akan tetapi, di sini setan lebih jujur daripada manusia dalam dialog tersebut. Setan secara terbuka dan terus terang menyatakan bahwa sesungguhnya Allah SWT telah menjanjikan janji yang benar dan pasti, yaitu janji adanya ba'ts dan pembalasan atas amal-amal perbuatan. Allah SWT pun memenuhi apa yang dijanjikan-Nya. Adapun setan, ia menjanjikan kepada manusia hal yang berlawanan dengan janji Allah SWT tersebut, bahwa tidak ada _ba’ts_ dan pembalasan, tetapi janjinya adalah janji palsu dan bohong belaka.

4. Tentang ayat *( إِلَّآ أَن دَعَوْتُكُمْ فَٱسْتَجَبْتُمْ لِىۖ)* ar-Razi menuturkan, ayat ini menunjukkan sebenarnya setan yang asli adalah hawa nafsu. Setan menyatakan secara terus terang bahwa ia tidak melakukan apaapa melainkan hanya bisikan dan godaan semata. Seandainya bukan karena adanya kecenderungan dan ketertarikan disebabkan oleh syahwat, khayalan, dan angan-angan, niscaya bisikan dan godaan setan tidak memiliki efek dan pengaruh apa-apa. Ini menunjukkan bahwa setan yang asli adalah hawa nafsu.

Sudah maklum bahwa malaikat dan setan adalah fisik yang halus. Allah SWT menciptakan dan menyusunnya dengan suatu bentuk konstruksi yang unik. Bukan merupakan hal yang tidak mungkin jika ada benda halus masuk menembus ke dalam benda padat, yakni ke dalam tubuh manusia.

5. Orang-orang yang zalim layak memperoleh adzab yang sangat menyakitkan dan memilukan tanpa ada yang bisa menolaknya, sebagai balasan kezaliman mereka. Karena kemaksiatan dan kekafiran adalah atas keinginan mereka dan usaha mereka sendiri.

6. Orang-orang bertakwa layak memperoleh taman-taman surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dengan perintah Tuhan mereka, kehendak-Nya, dan taufikNya. Di dalamnya, mereka mendapatkan salam dari Allah SWT dan dari para malaikat. Juga, mereka saling mengucapkan salam sesama mereka.

7. Janji-janji yang diberikan oleh setan adalah batil dan bohong. Sedangkan janji Allah SWT adalah pasti benar. Manusia mengikuti ajakan dan perkataan setan tanpa dalil dan bukti. Setan berlepas diri dari mereka dan perbuatan mereka, serta tidak mau dipersalahkan. Karena itu, mereka tidak bisa mencerca dan me¬ nyalahkan setan, tetapi mereka sendiri yang salah dan yang dipersalahkan. Setan pun menjadikan mereka putus asa tanpa memiliki harapan apa pun, dengan menyatakan bahwa ia tidak bisa memberikan pertolongan, bantuan, dan penyelamatan, bahkan diri sendiri juga membutuhkan orang yang bisa menolong dan menyelamatkannya. Setan mengingkari sikap mereka yang mempersekutukan dirinya. Ini mengingatkan dan menegaskan kepada mereka tentang adzab yang akan mereka terima.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login