YUUSUF (26)
Surah Yuusuf Ayat 109-111
BAGIAN KEDUA PULUH:
PELAJARAN DARI KISAH-KISAH DALAM AL-QUR'AN
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Ayat-ayat di atas memuat sejumlah hukum seperti berikut.
1. Para nabi selalu berasal dari kalangan seorang laki-laki, tidak ada seorang nabi pun yang berasal dari kalangan kaum perempuan, bangsa jin, dan malaikat. Ini menyanggah dan mementahkan sebuah hadits lemah yang menyatakan, _"Sesungguhnya di kalangan kaum perempuan ada empat nabi perempuan; Hawa', Asiyah, ibu Nabi Musa dan Maryam."_
2. Para nabi berasal dari kalangan penduduk kota. Allah SWT tidak pernah mengutus seorang nabi yang berasal dari kalangan penduduk pedalaman, karena karakter mereka keras dan kasar.-Juga karena penduduk perkotaan memiliki tingkat intelektualitas, kelembutan, kesantunan, keutamaan, pengetahuan, dan wawasan lebih tinggi dari penduduk pedalaman. *Hasan Bashri* menuturkan, Allah SWT tidak pernah mengutus seorang nabi pun yang berasal dari kalangan penduduk pedalaman, dari kalangan kaum perempuan dan tidak pula dari bangsa jin. Para ulama mengatakan, di antara syarat seorang rasul adalah laki-laki keturunan Adam yang berasal dari penduduk perkotaan. Di sini, ulama tidak hanya menyebutkan syarat laki-laki, tetapi juga menambahkan syarat "keturunan Adam" supaya tidak muncul persepsi keliru, karena yang disebutkan dalam ayat,
_"Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin."_ *(al-Jin: 6)*
3. Semua manusia sudah semestinya untuk memerhatikan nasib akhir dan kesudahan umat-umat yang mendustakan para nabi mereka, sehingga mereka dapat memetik pelajaran.
4. Ayat, (حَتَّىٰٓ إِذَا ٱسْتَيْـَٔسَ ٱلرُّسُلُ وَظَنُّوٓا۟ أَنَّهُمْ قَدْ كُذِبُوا۟) memuat sebuah pengertian tentang kesucian dan kemaksuman para nabi dari halhal yang tidak pantas bagi mereka.
Makna ayat ini berdasarkan bacaan ringan (tanpa _tasydid_ pada huruf _dzalnya_), _kudzibuu_ menurut jumhur ulama adalah kaum mereka mengira bahwa para rasul telah berdusta terkait dengan adzab. Mereka tidak membenarkan dan tidak memercayainya. Atau, mereka mengira bahwa para rasul telah berdusta menyangkut pertolongan dan kemenangan yang telah dijanjikan.
Sedangkan jika berdasarkan dengan _tasydid_, _kudzdzibuu_, maknanya adalah para rasul merasa yakin bahwa kaum mereka telah mendustakan mereka. Atau, para rasul mengira bahwa di antara orang-orang yang beriman ada yang mendustakan mereka, bukan kaum para rasul yang mendustakan, tetapi para nabi mengira bahwa orang-orang itu mendustakan mereka.
5. Di dalam kisah umat-umat terdahulu termasuk di antaranya kisah keluarga Nabi Yusuf terdapat pelajaran dan nasihat bagi orang-orang yang berakal.
6. Al-Qur’an sekali-kali bukanlah cerita yang dibuat dan dikarang oleh yang berasal dari selain Allah SWT. Al-Qur’an adalah mukjizat, yang siapa pun tidak akan pernah mampu untuk mendatangkan atau membuat yang semisal dengannya walaupun seorang nabi sekalipun.
Begitu juga kisah Nabi Yusuf, ini bukanlah cerita yang dibuat dan dikarang oleh yang berasal dari selain Allah SWT.
7. Al-Qur’an membenarkan kitab-kitab samawi sebelumnya seperti Taurat, Injil dan kitab-kitab Allah SWT lainnya untuk menjadi pengontrol dan pengawas kitab-kitab samawi tersebut.
8. Al-Qur’an menjelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh para hamba berupa perkara halal dan haram, syari’at dan hukum.
Al-Qur’an juga sebagai hidayah, dan rahmat dari Allah SWT untuk para hambaNya dan untuk orang-orang Mukmin. AlQur’an Juga sebagai penyelamat umat manusia dari kesesatan menuju cahaya, dari kerusakan kepada kebaikan, keteraturan.
_"Kitab ( Al-Qur'an ) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,"_ *(al-Baqarah: 2)*
9. Yang dimaksud dalam ayat, (مَا كَانَ حَدِيثًۭا يُفْتَرَىٰ ) memungkinkan untuk dipahami dalam konteks kisah Nabi Yusuf saja. Dengan begitu, Allah SWT mendiskripsikan kisah Nabi Yusuf dengan lima kriteria,
a. Kisah tersebut sebagai pelajaran bagi orang-orang yang berakal.
b. Kisah tersebut bukanlah cerita yang dibuat-buat. Maksudnya, Nabi Muhammad saw. tidak mungkin membuat kisah tersebut, karena beliau tidak pernah membaca kitab-kitab, tidak pernah berguru kepada siapa pun, dan tidak pernah berinteraksi serta berbaur dengan para ulama. Beliau juga tidak berbohong karena tidak mungkin ada kebohongan dari beliau. Keberadaan kisah tersebut dipertegas oleh Allah SWT dengan ayat (يُفْتَرَىٰ وَلَـٰكِن تَصْدِيقَ ٱلَّذِى بَيْنَ يَدَيْهِ) Kisah ini sesuai dan cocok dengan apa yang terdapat dalam Taurat dan segenap kitab-kitab Ilahi lainnya.
c. Kisah tersebut membeberkan detail kisah keluarga Nabi Yusuf.
d. Kisah tersebut sebagai petunjuk di dunia.
e. Kisah tersebut bisa menjadi sebab menggapai rahmat pada hari Kiamat * bagi orang-orang yang beriman. Di sini, yang disebutkan secara khusus adalah orang-orang yang beriman, karena merekalah orang-orang yang memanfaatkan Al-Qur’an, sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat,
_"Petunjuk bagi mereka yang bertakwa"_ *(al-Baqarah: 2)* ====
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
