YUUSUF (22)
Surah Yuusuf Ayat 94-98
BAGIAN ENAMBELAS:
INFORMASI YA’QUB TENTANG BAU YUSUF DAN PEMBUKTIANNYA DENGAN DATANGNYA KABAR GEMBIRA
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Ayat-ayat di atas memberikan beberapa petunjuk sebagai berikut.
1. Keistimewaan para nabi dibanding orang biasa adalah mukjizat yang Allah berikan kepada mereka. Mukjizat yang membuat Ya'qub mengetahui kabar Yusuf dari bau pakaian yang dibawa oleh saudara-saudaranya sebelum mereka sampai di rumah dengan membawa kabar gembira. *Ibnu Abbas* berkata, "Angin bertiup membawa aroma pakaian Yusuf kepada Ya'qub yang jarak antara keduanya sekitar delapan hari perjalanan." Meskipun *Ibnu Abbas* berpendapat demikian, namun penciuman yang tajam ini juga tetap membutuhkan pertolongan dari Allah SWT.
2. Mukjizat lainnya, kesembuhan Ya'qub dari penyakitnya dengan didatangkannya baju milik Yusuf ke hadapannya. Kesembuhan itu tentu saja berkat izin dan kehendak Allah SWT yang jika berkehendak hanya mengucapkan, _"Kun fayakun."_
3. Ungkapan orang-orang yang hadir di majelis Nabi Ya’qub sangatlah kasar dan bernada mengejek yang tidak pantas untuk diucapkan kepada Nabi.
4. Ya'qub tidak mempunyai apa-apa untuk diberikan kepada pembawa kabar gembira kecuali hanya untaian do'a, "Semoga Allah mempermudahmu dalam menghadapi sakaratul maut.” Do'a ini adalah sebaik-baik pemberian dan hadiah. Ayat di atas menunjukkan bolehnya memberi imbalan atau hadiah kepada orang yang memberi kabar gembira. *Imam Ka’ab bin Malik* berkata, "Ketika aku mendengar kabar gembira perihal diriku, aku langsung melepas baju yang aku kenakan untuk aku hadiahkan kepada pembawa kabar gembira."
Ayat di atas juga menunjukkan diperbolehkannya menunjukkan kegembiraan setelah hilangnya kesusahan dengan berbagi kebahagiaan bersama anak-anak, membagikan makanan, dan amal kebaikan lainnya. Umar menyembelih hewan karena telah hafal Surah al-Baqarah.
5. Allah menolong Nabi Ya’qub mengalahkan anak-anak dan orang-orang di sekitarnya sebagaimana Allah menolong para Nabi-Nya. Dari sini jelas terlihat bahwa suatu kaum dengan para Nabi bagaikan orang yang rendah dan hina disandingkan dengan pembesar. Tidak ada jalan lain bagi anak-anak Ya’qub kecuali meminta maaf kepada sang ayah, seraya memohon agar dimintakan ampunan dari Allah. Mereka sadar telah berbuat dosa yang tidak akan diampuni kecuali mendapatkan maaf dari sang ayah sebagaimana Yusuf memaafkan mereka.
Hukum ini sampai sekarang masih berlaku bagi seseorang yang menyakiti atau berbuat zalim terhadap seorang Muslim baik itu dirinya maupun hartanya. Ia meminta maaf kepada orang yang dizalimi dengan mengatakan kezaliman serta kadar kezaliman yang dilakukannya. Namun itu saja tidak cukup. Pelaku kezaliman juga harus menjelaskan penyebab terjadinya kezaliman itu. Karena meminta maaf dengan menyebutkan kezaliman dan kadar kezaliman yang dilakukannya itu, bisa jadi membuat orang yang dizalimi masih merasa kurang puas (belum ridha). *Imam Bukhari* dan Imam lainnya meriwayatkan dari *Abu Hurairah*, ia berkata, *Rasulullah saw. bersabda*,
_“Siapa saja yang berbuat zalim terhadap saudaranya, baik berkaitan dengan kehormatan atau hal lainnya, hari itu juga ia harus meminta maaf kepadanya sebelum datangnya hari dimana dinar dan dirham tidak ada harganya lagi. Jika ia mempunyai amal kebaikan, pahala kebaikannya diambil dan diberikan kepada orang yang ia zalimi sesuai kadar kezalimannya. Jika ia tidak mempunyai kebaikan, ia dibebani dosa-dosa milik orang yang ia zalimi.”_
Dari kalimat "sesuai kadar kezalimannya" berarti kezaliman itu harus di jelaskan.
6. Nabi Ya'qub tidak terburu-buru dan langsung memintakan ampunan bagi anak-anaknya, akan tetapi menurut *Ibnu Abbas*, permohonan dan do'a itu dipanjatkan pada waktu sahur. *Imam Thawus* menambahkan, "Pada waktu sahur malam Jum’at bertepatan dengan malam asyura'.' Pendapat ini diterima oleh mayoritas ulama.
Sikap Nabi Ya’qub ini berbeda dengan sikap Nabi Yusuf karena do'a yang pertama diakhirkan sedangkan do'a yang kedua dipanjatkan langsung. Alasannya, karena posisi seorang ayah adalah sebagai pembimbing bagi anak-anaknya, ia ingin mereka merasakan betapa besar dosa-dosa yang mereka lakukan. Dosa mereka tidak secara langsung berkaitan dengannya, namun berkaitan dengan Yusuf. Perbuatan mereka terhadap Yusuf menimbulkan banyak musibah sehingga membutuhkan _taubatan nasuuha_ dan penyesalan yang mendalam, serta dosa mereka tidak cukup dihapus dengan _istighfar_. Kemudian, Yusuf sebenarnya mampu untuk menghukum mereka atas kesalahan masa lalu. Semua itu dilakukan agar mereka merasa aman dan agar manusia mengetahui betapa mulianya memaafkan, ketika ia mampu untuk balas dendam sehingga hal tersebut menjadi _uswatun hasanah_ bagi umat manusia.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
