Surah Yuusuf Ayat 54-57

YUUSUF (15)

Surah Yuusuf Ayat 54-57

_BAGIAN KESEMBILAN_: KISAH YUSUF SEBAGAI MENTERI KEUANGAN

وَقَالَ ٱلْمَلِكُ ٱئْتُونِى بِهِۦٓ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِى ۖ فَلَمَّا كَلَّمَهُۥ قَالَ إِنَّكَ ٱلْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌۭ ٥٤

*Artinya*: _Dan raja berkata, "Bawalah Yūsuf kepadaku agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku". Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata, "Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami"._

قَالَ ٱجْعَلْنِى عَلَىٰ خَزَآئِنِ ٱلْأَرْضِ ۖ إِنِّى حَفِيظٌ عَلِيمٌۭ ٥٥

*Artinya*: _Berkata Yūsuf, "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan"._

وَكَذَٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِى ٱلْأَرْضِ يَتَبَوَّأُ مِنْهَا حَيْثُ يَشَآءُ ۚ نُصِيبُ بِرَحْمَتِنَا مَن نَّشَآءُ ۖ وَلَا نُضِيعُ أَجْرَ ٱلْمُحْسِنِينَ ٥٦

*Artinya*: _Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yūsuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju ke mana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik._

وَلَأَجْرُ ٱلْـَٔاخِرَةِ خَيْرٌۭ لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَكَانُوا۟ يَتَّقُونَ ٥٧

*Artinya*: _Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih baik, bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa._

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Ayat di atas memberikan beberapa petunjuk sebagai berikut.

1. Dialog adalah sarana untuk saling memahami dan mengenal sesama manusia beserta ilmu pengetahuannya. Dialog juga membuat seorang yang berakal mampu menimbang kualitas keilmuan seseorang.

2. Penggabungan elemen yang sempurna dari ilmu, akhlak, adab, dan perilaku yang baik akan membawa seseorang pada ke dudukan tinggi dan kemuliaan.

3. Boleh hukumnya bagi seseorang untuk meminta kekuasaan dan menunjukkan kesiapannya dalam memimpin jika tujuannya untuk mengenalkan kepada orang yang belum tahu. Dengan catatan, orang tersebut benar-benar bisa dipercaya, agamanya kuat, dan sangat berkompeten dalam bidang yang ia minta. Adapun larangan Rasulullah terhadap *Abdurrahman bin Samrah* dalam hadits riwayat *Imam Bukhari dan Muslim*, “Janganlah kamu meminta kekuasaan!" Maksudnya, larangan bagi orang yang tidak yakin atas kemampuan memegang kekuasaan karena suatu alasan, baik karena lemah maupun karena hal lainnya. Adapun larangan memuji diri sendiri dalam *firman Allah*, _"janganlah kamu menganggap dirimu suci."_ *(an-Najm: 32)* Maksudnya, menganggap dirinya suci padahal ia tahu betul bahwa dirinya tidak suci.

Dua hal tersebut tidak relevan jika kita terapkan bagi Nabi Yusuf atau para nabi lainnya. Lagi pula, seorang nabi wajib menjaga kemaslahatan umat sekuat tenaga. Secara logika, memberikan manfaat kepada orang lain serta menghindarkan bencana termasuk perbuatan yang baik. Dalam kisah ini. Nabi Yusuf tahu betul bahwa tidak ada orang yang mampu untuk menegakkan keadilan, memberikan pencerahan, dan menjaga hak-hak kaum fakir kecuali dirinya sehingga ia berkata kepada raja yang belum mengenalnya ( إِنِّى حَفِيظٌ عَلِيمٌۭ)

4. Boleh hukumnya bagi seorang alim bekerja pada seorang fasiq ataupun raja yang kafir jika memang tidak ada jalan lain untuk menegakkan kebenaran kecuali melalui orang atau raja tersebut. Akan tetapi, jika tindakannya sejalan dengan keinginan dan hawa nafsu raja kafir atau orang fasik tersebut, hukumnya tidak boleh. Jika raja berbuat zalim, ulama mempunyai dua pendapat. _Pertama_, membolehkan bekerja pada raja zalim tersebut jika ia tetap berada dalam kebenaran. Nabi Yusuf juga bekerja pada Fir’aun dan yang dihitung adalah tindakannya, bukan tindakan orang lain. _Kedua_, tidak membolehkan, karena dianggap membantu kezaliman. Adapun Fir’aun yang menjadi raja pada masa Nabi Yusuf termasuk orang saleh karena menurut *Mujahid*, fir’aun tersebut mengikuti agama yang diajarkan Nabi Yusuf, sedangkan fir'aun yang kafir adalah fir’aun pada masa Nabi Musa. Sedangkan Yusuf, hanya melihat kemaslahatan umat dan negara bukan tindakan sang raja. Jadi, ia tidak dianggap mengikuti raja.

5. Seseorang boleh mengenalkan dirinya kepada orang lain tentang ilmu, kemampuan, dan keahlian lainnya yang dimiliki jika memang keadaan mengharuskannya, seperti untuk melamar pekerjaan dan sejenisnya.

6. *Firman Allah* ( وَلَا نُضِيعُ أَجْرَ ٱلْمُحْسِنِينَ) adalah kesaksian dari Allah bahwa Nabi Yusuf termasuk orang-orang yang berbuat baik.

7. Allah melimpahkan rahmat, kebaikan, dan kemuliaan kepada Yusuf karena kesabaran dan ketakwaannya. Allah tidak menyia-nyiakan kesabaran Yusuf ketika berada di dalam sumur, ketika menjadi budak, ketika di dalam penjara, dan ketika dizalimi oleh saudaranya sendiri, serta kesabarannya ketika diajak perbuatan maksiat oleh perempuan cantik.

8. Pahala di akhirat dan pemberian Allah di surga lebih banyak dan lebih besar dibandingkan dengan kenikmatan dunia dan seisinya bagi orang Mukmin dan bertakwa. Alasannya jelas, karena di surga kekal selamanya, sedangkan kenikmatan dunia terbatas. Ayat (وَلَأَجْرُ ٱلْـَٔاخِرَةِ) bersifat umum untuk setiap Mukmin yang bertakwa. Ayat tersebut memberikan isyarat khusus atas anugerah Allah kepada Nabi Yusuf a.s. bahwa apa yang akan diterimanya di akhirat lebih baik dan lebih mulia daripada pemberian Allah kepadanya di dunia berupa kekuasaan dan kedudukan tinggi. Secara khusus, ayat ini juga menunjukkan bahwa Yusuf termasuk orangorang yang beriman dan bertakwa, karena ayat tersebut adalah pernyataan langsung dari Allah SWT.

*Kesimpulan*

Ayat-ayat di atas mengandung dua kesaksian dari Allah atas Nabi Yusuf a.s.. _Pertama_, kesaksian bahwa Nabi Yusuf termasuk orang yang baik. _Kedua_, kesaksian bahwa Nabi Yusuf termasuk orang Mukmin yang bertakwa. Selain itu, ada ayat lain yang menunjukkan bahwa Yusuf termasuk hamba-hamba Allah yang terpilih,

_"Sungguh, dia (Yusuf) termasuk hamba Kami yang terpilih.”_ *(Yuusuf: 24)*

Dengan ayat ini, ada tiga kesaksian dari Allah untuk Nabi Yusuf; ia termasuk orang yang baik, bertakwa, dan terpilih. Predikat ini diperoleh Nabi Yusuf karena beberapa alasan; sabar atas kehendak dan takdir Allah, taat dalam beribadah, ikhlas dalam beramal, dan hatinya bersih dari iri dengki.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi 
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login