Surah Yuusuf Ayat 50-52

YUUSUF (13)

Surah Yuusuf Ayat 50-52

_BAGIAN KEDELAPAN_: RESPON RAJA TERHADAP TAKWIL YUSUF DAN PERINTAH MENGELUARKANNYA DARI PENJARA SERTA PENOLAKAN YUSUF UNTUK KELUAR DARI PENJARA SEBELUM TERBUKTI KEBENARAN PERKARANYA

وَقَالَ ٱلْمَلِكُ ٱئْتُونِى بِهِۦ ۖ فَلَمَّا جَآءَهُ ٱلرَّسُولُ قَالَ ٱرْجِعْ إِلَىٰ رَبِّكَ فَسْـَٔلْهُ مَا بَالُ ٱلنِّسْوَةِ ٱلَّـٰتِى قَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ ۚ إِنَّ رَبِّى بِكَيْدِهِنَّ عَلِيمٌۭ ٥٠

*Artinya*: _Raja berkata, "Bawalah dia kepadaku". Maka tatkala utusan itu datang kepada Yūsuf, berkatalah Yūsuf, "Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhan-ku, Maha Mengetahui tipu daya mereka"._

قَالَ مَا خَطْبُكُنَّ إِذْ رَٰوَدتُّنَّ يُوسُفَ عَن نَّفْسِهِۦ ۚ قُلْنَ حَـٰشَ لِلَّهِ مَا عَلِمْنَا عَلَيْهِ مِن سُوٓءٍۢ ۚ قَالَتِ ٱمْرَأَتُ ٱلْعَزِيزِ ٱلْـَٔـٰنَ حَصْحَصَ ٱلْحَقُّ أَنَا۠ رَٰوَدتُّهُۥ عَن نَّفْسِهِۦ وَإِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلصَّـٰدِقِينَ ٥١

*Artinya*: _Raja berkata (kepada wanita-wanita itu), "Bagaimana keadaanmu1# ketika kamu menggoda Yūsuf untuk menundukkan dirinya (kepadamu)?" Mereka berkata, "Maha Sempurna Allah, kami tiada mengetahui sesuatu keburukan darinya". Berkata istri Al-‘Azīz, "Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku) dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar"._
1#- Maksud "keadaanmu" ialah pendapat wanita-wanita itu tentang Yūsuf ‘Alaihissalām apakah dia terpengaruh oleh godaan itu atau tidak.

ذَٰلِكَ لِيَعْلَمَ أَنِّى لَمْ أَخُنْهُ بِٱلْغَيْبِ وَأَنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى كَيْدَ ٱلْخَآئِنِينَ ٥٢

*Artinya*: _(Yūsuf berkata), "Yang demikian itu agar dia ( Al-‘Azīz) mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak berkhianat kepadanya di belakangnya dan bahwasanya Allah tidak meridai tipu daya orang-orang yang berkhianat._

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Dari ayat-ayat di atas, dapat diambil pelajaran sebagai berikut.

1. Permintaan sang raja agar Yusuf menghadapnya merupakan penguat tentang keutamaan ilmu dan kelebihan yang dimiliki oleh Yusuf di antara pendeta-pendeta dan ahli takwil di kalangan pemerintahan Mesir ketika itu.

2. Ilmu yang disertai dengan amalan yang baik merupakan penyebab terlepasnya dari belenggu ujian dunia dan akhirat. Sebagaimana Allah telah menyelamatkan Nabi Yusuf dari penjara dan menjadikannya termasuk orang-orang baik yang Dia pilih di akhirat kelak.

3. Tidak mengapa jika menggunakan kesempatan untuk menetapkan suatu kebenaran dan kesucian. Sebagaimana Nabi Yusuf memperlambat dan mengakhirkan permintaan sang raja kepadanya (untuk menghadapnya).

4. Berpegang teguh dengan sifat sabar, bijaksana, keteguhan hati, dan memelihara kemuliaan dan harga diri merupakan dasar akhlak para nabi. Sungguh, Nabi Yusuf adalah orang yang selalu menjunjung tinggi kesabaran dan sangat ingin mengungkap kebenaran dan ke _iffah_ annya serta senantiasa memelihara harga diri dan nama baiknya di mata masyarakat. Dalam dua kitab Shahih menyebutkan bahwa.

_"Jikalau aku tinggal di dalam penjara seperti tinggalnya Yusuf, niscaya aku akan memenuhi ajakan orang yang mengajak (untuk keluar dari penjara)"_

Dalam sebuah riwayat,

_“Semoga rahmat Allah tercurah kepada saudaraku Nabi Yusuf Andaikan aku berada di dalam penjara seperti dipenjarakannya (Yusuf), niscaya aku akan memenuhi permintaan orang yang mengajak (untuk menghadap raja) dan aku tidak memberikan alasan”_

Dan pada riwayat Ahmad

لَوْ كُنْتُ أَنَا لَأَجَبْتُ الدَّاعِي وَلَمْ أَلْتَمِسِ الْعُذْرَ

_“Kalaulah aku (pada posisi Yusuf), niscaya aku akan memenuhi permintaan (raja) dan tidak menghendaki untuk beralasan”_

Dan dalam riwayat *ath-Thabari*,

_“Semoga rahmat Allah tercurahkan kepada Nabi Yusuf. Kalaulah aku yang dipenjarakan, kemudian diutus kepadaku (seorang utusan raja), niscaya aku akan keluar dengan segera. Karena dia (Yusuf) adalah seorang yang bijaksana dan memiliki kesabaran yang tinggi.”_

5. Tidak segera menuduh buruk dan mencela serta menghukum seseorang, merupakan sebuah kewajiban menurut syar’i. Karena Nabi Yusuf menjaga diri dari tuduhan buruk istri al-Aziz sampai sang raja benar-benar mengungkap kebenaran dari tuduhan tersebut. Bahkan, Yusuf memandang baik kemuliaan tuannya (istri al-Aziz) dan tidak pernah mengatakan hal buruk tentangnya. Karena sebagai bentuk penghormatan atas kebaikan dan pemeliharaan suaminya, juga sebagai penghormatan terhadap istri al-Aziz dan agar terjaga nama baiknya. Karena perkataan yang benar dan jujur akan tampak kebaikannya di masa yang akan datang.

6. Di antara akhlak terpuji adalah keberanian dalam mengakui kebenaran dan secara jelas menyatakan suatu yang benar serta tidak ragu-ragu dalam membebaskan orang yang suci dan membenarkan orang yang bertakwa. Karena istri al-Aziz telah menyatakan dan mengakui kebenaran Yusuf di hadapan perempuan-perempuan yang diundangnya. Istri al-Aziz berkata, "Sungguh akulah yang telah menggodanya." Dia mengulang-ngulang pengakuannya tersebut dengan benar setelah beberapa tahun dari kejadian itu, yaitu setelah menjerumuskan Yusuf ke dalam sel tahanan. Istri al-Aziz berkata, "Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggoda dan merayunya." Kemudian juga diperkuat dengan perkataannya, "Yang demikian itu agar dia (Yusuf) mengetahui bahwa aku benar-benar tidak mengkhianatinya ketika dia tidak ada." Maksudnya, aku menyatakan kebenaran ini agar Yusuf mengetahui bahwa aku tidak mendustainya dan tidak mengatakan sedikit pun keburukan tentangnya ketika dia tidak ada, bahkan aku ingin mengungkap kebenaran dan membuka pengkhianatanku ini.

7. Seorang Mukmin yang benar adalah yang selalu mencari keridhaan Allah dan menjunjung tinggi agama dalam setiap langkah hidupnya di dunia ini. Nabi Yusuf adalah seorang yang sangat berpegang teguh pada agama dan selalu mencari keridhaan Allah dalam setiap ujian yang dilaluinya seperti ketika diuji dengan perempuan.

8. Sesungguhnya tempat akhir bagi pengkhianatan dan tipu daya adalah kegagalan dan tidak didapatnya tujuan dan hasil. Allah berfirman (وَأَنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى كَيْدَ ٱلْخَآئِنِينَ ) _"Dan bahwa Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat."_ Maknanya, bahwa Allah tidak memberi petunjuk dan tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat. Bahkan, Allah akan menyia-nyiakan perkara mereka, tidak memberikan jalan, dan tidak menjadikannya berhasil. Akibat dari tipu daya mereka hanyalah cela dan kesiasiaan.===

Selesai Juz 12: 
Segala puji hanya bagi Allah

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi 
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login