SURAH AL-BAQARAH 87 - 96

AL-BAQARAH (17)

FIQIH KEHIDUPAN DAN HUKUM-HUKUM
[SURAH AL-BAQARAH 87 - 96]

SIKAP KAUM YAHUDI TERHADAP PARA RASUL DAN KITAB-KITAB YANG DITURUNKAN ALLAH
Surah al-Baqarah Ayat 87-89

Ini adalah gambaran yang jelas, yang menerangkan pendirian sekelompok manusia terhadap hukum-hukum Tuhan. Siapa pun yang berpaling dari hukum-hukum-Nya, ingkar kepadanya, dan bersikap takabur untuk menerimanya, maka pasti kelak ia akan mendapat adzab dan dijauhkan dari rahmat Allah Ta'ala.



Rombongan para rasul yang datang kepada Bani Israel secara susul menyusul ini menunjukkan betapa besar perhatian Allah kepada kelompok manusia yang paling sombong ini, betapa Dia ingin memberi peluang kepada mereka untuk kembali ke jalan kebenaran. Maka kalau manusia yang sombong dan takabur ini dihukum, hukuman itu adalah pantas dan adil.

Allah Ta'ala tidak pernah menzalimi seorang pun. Firman Allah Ta'ala dalam ayat 88: (بَل لَّعَنَهُمُ ٱللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَقَلِيلًۭا) menjelaskan sebab musabab menjauhnya mereka dari iman, yaitu karena mereka telah dilaknat lantaran kekafiran dan kelancangan mereka sebelumnya. Inilah yang disebut dengan membalas dosa dengan hukuman yang lebih berat darinya.

Semua hal yang telah disebutkan ini (tentang kisah kaum Yahudi, keburukan-keburukan mereka, kecaman terhadap kezaliman dan kekafiran mereka, serta pemberitahuan kepada Nabi saw. mengenai apa yang mereka tutup-tutupi dari syariat Taurat) menjadi bukti kenabian Nabi Muhammad saw..

KAUM YAHUDI MENGINGKARI KITAB YANG DITURUNKAN ALLAH DAN MEMBUNUH PARA NABI
Surah al-Baqarah Ayat 90-91

Orang yang berakal sehat, yang ingin mendapatkan maslahat yang hakiki bagi dirinya, tentu tidak akan mengutamakan sesuatu yang fana atas sesuatu yang kekal, tak akan memilih sesuatu yang sepele dan murah daripada sesuatu yang mahal dan berharga, sebab nikmat yang kekal pasti lebih menjamin manfaat dan lebih memuliakan jiwa. Oleh sebab itu Al-Quran mengecam perbuatan kaum Yahudi, dengan menyatakan: "Alangkah buruknya sesuatu yang mereka pilih untuk diri mereka sendiri: mereka menukar kebatilan dengan kebenaran, dan kekafiran dengan iman.”

Kalau kaum Yahudi tidak beriman secara sempurna kepada Taurat yang diturunkan Allah kepada nabi mereka (Musa a.s.), mereka pun tidak dapat diharapkan untuk beriman kepada Al-Qur'an.

Kesinambungan mereka dijalan kekafiran, dulu maupun sekarang, dengan menyembah anak lembu, menyusahkan Musa dan ingkar kepadanya, mendustakan Nabi Muhammad saw., dan ingkar kepada Al-Qur'an... menempatkan mereka pada adzab yang menghinakan, yang berarti mereka akan kekal selama-lamanya di dalam neraka Jahanam. Adapun penyiksaan kaum beriman yang berbuat maksiat di dalam neraka bersifat temporer (untuk sementara waktu saja), dan penyiksaan itu menjadi pembersihan dan penyucian bagi mereka, sebagaimana pelaku dosa disucikan di dunia dengan hukuman, misalnya hukuman rajam bagi pelaku zina dan hukuman potong tangan bagi pencuri.

BANTAHAN ATAS KLAIM MEREKA BAHWA MEREKA BERIMAN KEPADA TAURAT
Surah al-Baqarah Ayat 92-93

Iman yang benar kepada sesuatu adalah yang menyeru kepada keselarasan yang bulat dengan segala tuntutan iman tersebut. Jadi, barangsiapa sungguh-sungguh beriman kepada Taurat, dia wajib mengamalkan isinya, melaksanakan perintah-perintahnya, dan menjauhi larangan-larangannya. Ini menyerunya pula untuk beriman kepada semua yang mendukung dan menguatkannya serta mengakui isinya: dan karena Al-Qur'an telah datang dengan membenarkan isi Taurat maka ia harus diimani dan diikuti petunjuknya.

Adapun kaum Yahudi pada masa silam dan pada zaman Nabi Muhammad sungguh aneh sikap mereka. Mereka mengaku beriman kepada Taurat, kitab yang memerintahkan untuk mengesakan Tuhan dan beribadah kepada-Nya semata, tetapi kemudian mereka menyembah anak sapi dan menjadikannya Tuhan. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, menentang para nabi, dan ingkar kepada Nabi Muhammad saw.. Yang terakhir ini adalah dosa paling besar bagi mereka: ingkar kepada penutup para rasul dan pemimpin para nabi dan rasul, yang diutus kepada seluruh umat manusia.

Bagaimana mereka mengaku beriman sementara mereka melakukan perbuatan-perbuatan keji ini: melanggar janji, ingkar kepada ayat-ayat Allah, dan menyembah anak sapibukan menyembah Allah-?

Walaupun begitu Allah memaafkan mereka dan menerima tobat mereka ketika mereka bertobat dari penyembahan anak sapi, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya dalam pembahasan tentang nikmat-nikmat Allah kepada mereka.

KESERAKAHAN KAUM YAHUDI TERHADAP KEHIDUPAN
Surah al-Baqarah Ayat 94-96

Ayat-ayat ini adalah ujian untuk mengetahui kebenaran iman kaum Yahudi, serta untuk membantah klaim-klaim batil mereka yang diceritakan Allah Azza wa Jalla di dalam kitab-Nya, misalnya dalam firman-Nya :

"Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.” (al-Baqarah: 80)

"Dan mereka (kaum Yahudi dan Nasrani) berkata: Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani” (al-Baqarah: 111)

"Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya." (al-Maa'idah: 18)

Bahan yang diujikan adalah mengingini kematian supaya mereka memperoleh kebahagiaan yang abadi, mengorbankan jiwa mereka di jalan Allah, dan membela agama dan kesuciannya. Hasil ujian ini adalah kegagalan yang pasti, sebab orang-orang Yahudi adalah kaum materialis, ingin tetap hidup di dunia dan tidak suka bertemu dengan Allah. Mereka sendiri pun tidak punya kepercayaan diri terhadap apa yang mereka klaim. Mereka senantiasa berada dalam kegelisahan, kebimbangan, dan gangguan mental yang terus-menerus, serta keraguan yang menakutkan mereka dan mengganggu jiwa mereka. Ayat yang mulia ini termasuk salah satu mukjizat yang berisi pemberitaan tentang perkara gaib, yang kemudian benar-benar terjadi: mereka ternyata tidak mau mengingini kematian pada masa Nabi saw.. Beliau pernah bersabda:

“Sekiranya kaum Yahudi mengingini kematian, niscaya mereka mati dan melihat tempat mereka di neraka”

Allah SWT, Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal, melihat dan mengetahui apa yang dilakukan orang-orang ini yang masing-masingnya berharap dapat hidup seribu tahun. Para ulama berkata: Allah 'Azza wa Jalla menyifati diri-Nya dengan kata bashiir (Maha Melihat) dalam arti bahwa Dia mengetahui semua perkara yang tersembunyi. Dalam bahasa Arab, kata bashiir artinya orang yang mengetahui dan mengenali sesuatu. Contohnya, bashiir bith-thibbi (tahu ilmu pertabiban), bashiir bil-fiqhi (tahu ilmu fiqih), bashiir bi-mulaaqaatir rijaal (tahu tata krama kepada orang lain).====

Tafsir Al Munir
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login