YUUSUF (2)
Surah Yuusuf Ayat 4 - 6
BAGIAN PERTAMA:
MIMPI NABI YUSUF DAN TA'BIR NABI YA'QUB TERHADAP MIMPI YUSUF
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Ayat-ayat ini menunjukkan hal-hal berikut:
1. Mimpi para nabi adalah mimpi yang haq dan mimpi para shalihin adalah sebagian dari kenabian. Maksud dari bintang-bintang adalah saudara-saudaranya Nabi Yusuf sedangkan matahari dan bulan adalah ayah dan ibunya, Inilah pendapat yang paling benar. Para ahli hikmah mengatakan bahwa mimpi yang buruk akan tampak takwilnya tidak lama kemudian, dan mimpi yang baik akan tampak takwilnya setelah waktu yang cukup lama.
Mimpi merupakan keadaan yang mulia dan kedudukan yang tinggi. *Imam Bukhari* meriwayatkan dari *Abu Hurairah*, *Rasulullah bersabda*: (لَمْ يَبْقَ بَعْدِي مِنَالمُبَشِّرَاتِ الرُّؤْيَا الصَّا لِحَةِ الصَّادِقَةِ يَرَاهَاالرَجُلُ الصَّا لَحُ أَوتُرَى لَهُ)
_"Tidak ada kabar gembira setelahku kecuali mimpi yang benar dan baik yang dimimpikan seorang yang shalih atau dimimpikan baginya."_ Rasulullah juga bersabda dalam riwayat dua _syekh_ *(Bukhari Muslim)* dari *Abu Hurairah*, _"Akulah yang paling benar diantara kalian dalam hal mimpi, dan akulah yang paling benar di antara kalian dalam perkataan."_ Rasulullah telah menghukumkan dalam riwayat *Bukhari* dari *Abu Sa'id al-Khudri* bahwa mimpi yang benar merupakan sebagian dari empat puluh enam bagian kenabian. Ini adalah riwayat yang paling shahih.
Dikatakan bahwa mimpi orang yang shalih merupakan sebagian dari kenabian karena di dalamnya terdapat suatu yang melemahkan dan mencegah, seperti suatu yang beterbangan, benda yang dibalik dan mengetahui suatu hal yang gaib.
Adapun mimpi orang kafir; orang yang suka bermaksiat fasiq dan pendusta, meskipun terkadang mimpi mereka benar dalam beberapa waktu, hal itu bukan berarti wahyu dan bukan juga kenabian. Karena tidak semua orang yang benar dalam bisikan gaibnya menjadikan kabarnya yang demikian itu sebagai kenabian. Sudah menjadi hal yang _ma'ruf_ bahwa seorang dukun dan siapa saja kadang-kadang mengabarkan sebuah perkataan yang benar; kemudian kabar tersebut benar terjadi, tetapi itu sangat jarang dan sedikit sekali, begitu pula mimpi mereka.
Hakikat mimpi adalah mengetahui hakikat sesuatu ketika sedang tidur. Kebanyakan terjadi ketika di akhir malam karena saat itu sedikitnya penguasaan kita terhadap tidur. Karena itu dinamakan dengan _ahlam al-yaqdzah_. Allah akan menciptakan bagi yang bermimpi ilmu yang berkembang. Tidaklah apa yang dilihat oleh orang yang bermimpi dalam tidurnya melainkan suatu yang benar yang dilihatnya dalam keadaan sadar dan bukan melihat suatu yang mustahil terjadi. Akan tetapi apa yang dilihatnya adalah suatu hal yang mungkin dan biasa saja terjadi. Allah pun memberi perumpamaan tentang mimpi dengan gambaran kejadian nyata dan semua itu terjadi pada kehidupan nyata, dan terkadang mimpi itu berupa makna-makna dalam akal dan bukan suatu yang nyata. Dari kedua macam mimpi ini terkadang menjadi kabar gembira atau sebagai peringatan.
2. Jangan pernah menceritakan mimpi kepada orang yang tidak berilmu dan bukan pula pemberi nasihat. Juga jangan pernah menceritakannya kepada orang yang tidak bisa menakwil mimpi. *Imam Tirmidzi* meriwayatkan,
_"Mimpi itu tetap tergantung di kaki burung selama si pemimpi itu tidak menceritakannya, dan apabila dia menceritakannya, mimpi itu akan terjadi. Maka janganlah kamu menceritakannya kecuali kepada orang yang baik akalnya atau yang memiliki cinta atau pemberi nasihat."_
3. Perintah agar merahasiakan nikmat di hadapan orang yang ditakutkan akan dengki, berbuat kerusakan dan tipuan, sampai benar-benar mimpi itu ada dan terjadi. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan *ath-Thabrani* dan *Baihaqi* dan selainnya dari *Umar* : _"Minta tolonglah untuk dimudahkan segala kebutuhan dengan merahasiakan (nikmat), karena semua yang memiliki nikmat itu akan didengki."_
4. Dibolehkan bagi seorang Muslim memberi peringatan kepada sesama saudaranya yang Muslim dari suatu hal yang ditakutkan akan terjadi kepadanya, Hal tersebut tidak termasuk katagori _ghibah_ karena *Nabi Ya'qub* (Israa'iil) telah memberi peringatan kepada *Nabi Yusuf* agar tidak menceritkan mimpinya kepada saudara-saudaranya karena ditakutkan mereka akan melakukan tipu daya kepadanya.
5. Dalam ayat juga terdapat dalil yang jelas bahwa Nabi Ya'qub mengetahui takwil mimpi. Nabi Ya'qub mengetahui bahwa anaknya, Yusuf, akan menjadi orang besar di antara saudara-saudaranya. Dia merahasiakan hal tersebut. Hal ini juga menjadi dalil bahwa kecintaan Ya'qub kepada Yusuf didasari pengetahuannya tentang kedudukan Yusuf. Karena seseorang sangat mengharapkan anaknya kelak akan menjadi lebih baik darinya. Adapun saudaranya tidak menginginkan hal tersebut terjadi kepada Yusuf. Ayat ini juga merupakan dalil bahwa Nabi Ya'qub sangat mengetahui bahwa anak-anaknya dengki dan membenci Yusuf sehingga Ya'qub melarang Yusuf untuk menceritakan mimpinya kepada saudara-saudaranya karena takut tipu daya dan kedengkian serta perbuatan mereka untuk membinasakan Yusuf. Hal ini dan apa yang mereka lakukan terhadap Nabi Yusuf juga menjadi dalil bahwa mereka bukan paranabi karena para nabi terpelihara dari sifat dengki duniawi, durhaka terhadap orang tua, menjerumuskan seorang Mukmin ke dalam kebinasaan dan merencanakan untuk membunuhnya.
6. Perkataan Nabi Ya'qub kepada Nabi Yusuf mencakup beberapa kabar gembira. Di antaranya, Nabi Ya'qub memberi kabar kepada Nabi Yusuf sebagaimana Allah memuliakannya dengan mimpi, Allah juga telah memilihnya dan berbuat baik kepadanya dengan merealisasikan mimpinya, yaitu dengan bersujud kepadanya.
_Al-ijtibaa'_ adalah memilih suatu perkara yang besar untuk seorang _mujtaba_ (yang dipilih). Allah juga mengajarkan kepadanya cara menakwil mimpi dan menakwil kejadian umat-umat. Juga mengajarkan kitab-kitab serta petunjuk-petunjuk tauhid. Hal ini merupakan isyarat kenabian. Kemudian Allah menyempurnakan nikmat-Nya dengan menjadikannya seorang nabi, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada kakek-kakeknya, Nabi Ishaq dan Nabi lbrahim, dengan menjadikan Ibrahim sebagai _khalil_ (yang dicintai) dan nabi-Nya serta menyelamatkannya dari kobaran api. Juga menjadikan *Ishaq* sebagai nabi. Dalam sebuah perkataan yang tidak _raajih_ bahwa Yusuf adalah _adz-dzabiih_ (yang disembelih) dan kata _an-ni'mah_ adalah sembelihan.
Ringkasnya, bahwa perkataan yang benar tentang tafsir kata _an-ni'mah_ terhadap Nabi Yusuf dan selainnya adalah _an-nubuwwah_ (kenabian). Karena nikmat yang paling sempurna bagi manusia tidak lain adalah nikmat kenabian. Semua kenikmatan akan terlihat rendah jika dibandingkan dengan nikmat kenabian tersebut. Sungguh *Nabi Ya'qub* telah menjanjikan kepada *Nabi Yusuf* dengan tiga derajat.
*Pertama* _Al-ijtibaa_' atau _al-ishthifaa_' (orang yang terpilih). *Kedua,* takwil mimpi. *Ketiga,* kenabian.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
