HUD (12)
Surah Huud Ayat 42 - 47
BERAKHIRNYA BADAI TOPAN, DISELAMATKANNYA KAPAL NUH SERTA DIBINASAKANNYA PUTRA NUH MESKIPUN DIA TELAH MEMINTA PERTOLONGAN UNTUK ANAKNYA
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Ayat-ayat ini mengandung ibrah dan nasihat-nasihat berikut ini:
1. Berlayarnya kapal di lautan adalah dengan kekuasaan dan kehendak Allah SWT dan dengan perlindungan serta pengawasan-Nya.
2. Pembangkangan dan kesombongan tidak mendatangkan manfaat dan kemaslahatan bagi pelakunya. Allah SWT telah menenggelamkan anaknya Nuh yang bernama Kan'an, dan ada yang bilang namanya Yaam karena anak itu kafir. Kepergiannya ke gunung yang tinggi untuk mencari perlindungan tidak membuahkan hasil apa-apa karena sesungguhnya jika terjadi adzab secara umum terhadap orang-orang yang kafir, tak ada yang bisa menghadangnya.
Karena itu merupakan hari yang telah ditetapkan adzab Allah SWT atas mereka, kecuali orang yang dirahmati Allah SWT karena Dia-lah yang melindunginya.
3. Ayat (وَقِيلَ يَٰٓأَرْضُ ٱبْلَعِى مَآءَكِ) adalah ungkapan yang mempunyai nilai _balaaghah,_ kefasihan yang sangat tinggi, karena di dalamnya terkandung ungkapan tentang permasalahan yang banyak sekali yang butuh keterangan tambahan, dengan ungkapan ringkas dan sederhana, mengena berbagai tujuan dan bentuk keterangan balaaghah yang bermacam-macam.
4. Sesungguhnya apa yang diminta dan dimohonkan Nuh kepada Tuhannya untuk menyelamatkan anaknya, adalah karena janji Allah SWT kepadanya akan menyelamatkan keluarganya dalam firman Allah SWT (وَأَهْلَكَ) dan keluargamu dan meninggalkan firman-Nya (إِلَّا مَن سَبَقَ عَلَيْهِ ٱلْقَوْلُ) kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya, dengan dalil perkataan Nuh kepada anaknya dalam firman Allah SWT (وَلَا تَكُن مَّعَ ٱلْكَٰفِرِينَ) dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir atau janganlah kamu menjadi bagian dari mereka; karena anaknya itu dalam anggapan Nuh adalah seorang yang beriman; karena itu suatu hal yang mustahil jika dia meminta untuk dibinasakan orang-orang yang kafir, kemudian di pihak lain dia minta untuk diselamatkan sebagian mereka; dan anaknya memang menyembunyikan kekafiran sementara yang diperlihatkan adalah keimanan. Di sini Allah SWT memberitakan kepada Nuh sesuatu yang hanya Allah Yang Maha Mengetahui hal yang gaib yaitu Aku Maha Mengetahui tentang keadaan anakmu apa yang kamu tidak mengetahuinya. *Imam Hasan al-Bashri* mengatakan, _"Anaknya itu adalah seorang munafik maka dari itu Nuh pun meminta dibolehkan untuk memanggilnya. Dia adalah anak tirinya, dengan dalil bacaan *Imam Ali*: _*wa naadaa nuuhun ibnahaa*_ akan tetapi bacaan ini adalah bacaan yang _syaadzah_ (buruk) dan ini tidak sejalan dengan apa yang telah menjadi sepaka! dan yang benar adalah dia adalah anaknya Nuh, namun tidak dalam manhaj ayahnya, dalam agama, keimanan, dan istiqamah."_
5. Nuh tidak durhaka kepada Allah SWT pada apa yang dia mintakan yaitu penyelamatan anaknya, melainkan itu adalah sebuah kesalahan dalam berijtihad dengan niat yang baik namun ini dihitungnya sebagai sebuah dosa karena sesungguhnya orang semisal dia yang termasuk ahlul ilmu yang benar tidak pantas jatuh dalam kesalahan yang tidak dimaksud sehingga meninggalkan yang lebih mulia dan lebih sempurna, dan "kebaikan _al-abraar_ [orang-orang yang berbuat baik] adalah dosa _al-muqarrabin_ [orang-orang yang dekat kepada Allah SWT" maka dari itu Allah SWT mencelanya dan memerintahkannya untuk beristighfar.
6. Sesungguhnya ikatan agama lebih kuat ketimbang ikatan keturunan, dan tak ada hubungan bagi kesalehan dan ketakwaan dengan warisan dan keturunan, maka dari itu Allah SWT menyelamatkan orang-orang yang Mukmin dari kaum Nuh, dan membinasakan anak dan istrinya bersama orang-orang yang kafir. Yang benar adalah dia adalah anaknya, akan tetapi berbeda dalam hal niat, perbuatan, dan agama, maka dari itu Allah SWT ( إِنَّهُۥ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ) sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu.
7. Ayat ini merupakan hiburan bagi manusia tentang kerusakan anak-anak mereka walaupun mereka adalah orang-orang yang saleh. Juga ayat ini merupakan dalil bahwa anak itu adalah termasuk keluarga secara _etimologi_ dan agama, maka barangsiapa yang mewasiatkan kepada keluarganya, masuk dalam wasiat itu adalah anaknya, dan orang yang ada di bawah naungan rumahnya, maka dia termasuk keluarganya. Allah SWT berfirman dalam ayat lain,
_"Dan sungguh, Nuh telah berdoa kepada Kami, maka sungguh, Kamilah sebaik-baik yang merperkenankan doa. Kami telah menyelamatkan dia dan pengikutnya dari bencana yang besor."_ *(ash-shaffaat: 75-76)*
8. Keadilan Ilahi adalah mutlak tak ada nepotisme bagi seorang nabi atau wali, dan sesungguhnya Allah SWT memberikan ganjaran kepada manusia di dunia dan di akhirat sesuai dengan keimanan mereka dan bukan karena keturunan mereka,
_"Apabila sangkakala ditiup, maka tidak ada lagi pertalian keluarga di antara mereka pada hari itu (hari Kiamat), dan tidak (pula) mereka saling bertanya."_ *(al-Mu'minuun: 101)*
Barangsiapa yang membanggakan keturunannya sementara dia tidak berbuat apa yang diridhai Tuhannya, maka orang itu adalah bodoh tentang syari'at Allah SWT dan agama-Nya, Rasulullah saw bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh *Imam Tirmidzi*:
(يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ لَا يَأْ تِيْنِي النَّسُ بِا لْأَعْمَالِ وَتَأْ تُوْ نِي بِا لْأَ نْسَا بِ)
_"Wahai ma'syara Quraisy, manusia tidak mendatangi aku dengan membawa amal perbuatan, dan kalian mendatangi aku dengan nasab (garis keturunan)"_ *(HR Tirmidzi)*
9. Sesungguhnya kecemburuan Allah SWT terhadap _hurumat_ -Nya menuntut pemberian peringatan para nabi dari kesalahan walau kesalahan itu tidak dimaksud. Ibnu Arabi berkata tentang ayat (إِنِّىٓ أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ ٱلْجَٰهِلِينَ) Sesungguhnaya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan dan ini adalah sebuah tambahan dari Allah SWT dan nasihat, yang dapat mengangkat Nuh dari _maqam_ (derajat) orang-orang yang bodoh ke derajat dan maqam ulama dan orang yang berpengetahuan, maka Nuh pun berkata ( رَبِّ إِنِّىٓ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْـَٔلَكَ مَا لَيْسَ لِى بِهِۦ عِلْمٌ ) Ya tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakikat)nya dan ini adalah sebuah dosa para nabi, maka bersyukur kepada Allah SWT adalah kerendahan dan kepatuhannya.
10. Permintaan maaf Nuh merupakan sebagai tobat yang sempurna yang mengandung dua unsur hakikat tobat. _Pertama,_ di masa yang akan datang tekadnya untuk meninggalkannya, yaitu seperti yang diisyaratkan dengan kata-katanya ( إِنِّىٓ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْـَٔلَكَ مَا لَيْسَ لِى بِهِۦ عِلْمٌ ) sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakikat)nya. _Kedua,_ di masa yang lalu yaitu penyesalan terhadap apa yang terjadi seperti yang diisyaratkan dengan kata-katanya (وَإِلَّا تَغْفِرْ لِى وَتَرْحَمْنِىٓ أَكُن مِّنَ ٱلْخَٰسِرِينَ) Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.
11. Badai topan terjadi secara umum di semua permukaan bumi seperti yang disebutkan dalam pendapat ulama tafsir dan Ahlul Kitab, dan didukung oleh pendapat ulama geografi dengan adanya beberapa kulit kerang dan ikat yang membatu di beberapa puncak gunung, padahal semuanya benda itu semestinya adanya di dasar laut. Hal yang wajib untuk diyakini adalah topan itu memang terjadi secara umum terhadap kaum Nuh yang mana saat itu belum ada orang lain di atas bumi ini kecuali mereka, dan itu adanya di kawasan Timur Tengah, adapun bagian lain dari bumi ini, tak ada nash yang pasti dalam Al-Qur'an yang menyebutkan kalau daerah itu pun terkena badai topan.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
