Surah Huud Ayat 8 - 11

HUD (4)

Surah Huud Ayat 8 - 11

SIKAP ORANG MUKMIN DAN KAFIR KETIKA MENDAPAT NIKMAT DAN ADZAB

وَلَئِنْ أَخَّرْنَا عَنْهُمُ ٱلْعَذَابَ إِلَىٰٓ أُمَّةٍۢ مَّعْدُودَةٍۢ لَّيَقُولُنَّ مَا يَحْبِسُهُۥٓ ۗ أَلَا يَوْمَ يَأْتِيهِمْ لَيْسَ مَصْرُوفًا عَنْهُمْ وَحَاقَ بِهِم مَّا كَانُوا۟ بِهِۦ يَسْتَهْزِءُونَ ٨

*Artinya*: _Dan sesungguhnya jika Kami undurkan azab dari mereka sampai kepada suatu waktu yang ditentukan, niscaya mereka akan berkata, "Apakah yang menghalanginya?" Ingatlah, pada waktu azab itu datang kepada mereka tidaklah dapat dipalingkan dari mereka dan mereka diliputi oleh azab yang dahulunya mereka selalu memperolok-olokkannya._

وَلَئِنْ أَذَقْنَا ٱلْإِنسَـٰنَ مِنَّا رَحْمَةًۭ ثُمَّ نَزَعْنَـٰهَا مِنْهُ إِنَّهُۥ لَيَـُٔوسٌۭ كَفُورٌۭ ٩

*Artinya*: _Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut darinya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih._

وَلَئِنْ أَذَقْنَـٰهُ نَعْمَآءَ بَعْدَ ضَرَّآءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ ذَهَبَ ٱلسَّيِّـَٔاتُ عَنِّىٓ ۚ إِنَّهُۥ لَفَرِحٌۭ فَخُورٌ ١٠

*Artinya*: _Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata, "Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku"; sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga,_

إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ أُو۟لَـٰٓئِكَ لَهُم مَّغْفِرَةٌۭ وَأَجْرٌۭ كَبِيرٌۭ ١١

*Artinya*: _kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar._

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Ayat-ayat ini berisi hal-hal berikut:

1. Allah SWT bersumpah bahwa setiap adzab yang telah dijanjikan Allah dan Rasulullah saw. kepada orang-orang kafir pasti datang dan tidak ada keraguan di dalamnya, tak ada seorang pun yang dapat memalingkan dari mereka. Adzab itu akan turun dan akan meliputi mereka sebagai balasan apa yang telah mereka perolok-olok. Yang dimaksud dengan adzab di sini baik adzab dunia yaitu adzab pembinasaan atau kekalahan yang fatal dalam peperangan yang dahsyat seperti peristiwa Perang Badar dan bisa juga yang dimaksud adalah adzab akhirat. Dan Allah SWT memberitakan keadaan yang terjadi di hari Kiamat dengan lafal _maadhi_ yang dahulu (وَحَاقَ1) sebagai bentuk berlebihan dalam penegasan dan kenyataannya.

2. Allah Azza wa jalla bersumpah bahwa manusia (yaitu nama yang dikenal untuk jenis semua manusia atau orang kafir) apabila mendapatkan sedikit saja kebaikan yang sangat singkat dan hanya merasakan atau mencicipi (lebih sedikit apa yang ada dalam rasa) dia kufur dan dan zalim, dan bila dia mendapatkan yang tersedikit dari musibah dan cobaan, dia langsung putus asa dan kufur. Sangat putus asa _al-ya'uus_ dari rahmat Allah SWT dan _al-kafuur_ (sangat kufur) dari nikmat adalah mengingkarinya dan keduanya diungkapkan secara berlebihan dengan tujuan memberikan pengertian banyak seperti kalimat _fakhuur_ (sangat sombong) untuk mengungkapkan sesuatu yang berlebihan. Tafsir fenomena ini bahwa orang yang kafir yakin bahwa sebab datangnya nikmat adalah secara kebetulan dan tiba-tiba. Adapun orang yang Muslim, dia yakin bahwa nikmat itu dari Allah SWT merupakan karunia dan ihsan dari-Nya. Tak ada kata putus asa pada dirinya, dan dia berharap kebaikan darinya, dia akan bersabar ketika kehilangan nikmat itu, sebagaimana yang difirmankan Allah SWT:  

_"Mudah-mudahan Tuhan memberikan ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada yang ini, sungguh, kita mengharapkan ampunan dari Tuhan kita."_ *(al-Qalam: 32)* 

dan *Allah SWT berfirman:*

_"Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir."_ *(Yuusuf: 87)*

3. Yang ketiga Allah SWT bersumpah bahwa manusia jika diberikan satu nikmat oleh-Nya seperti kesehatan, kesenangan hidup dan kelapangan rezeki setelah sebelumnya mengalami bencana seperti kemiskinan dan kesusahan, dia berkata, "Telah hilang bencana-bencana itu dariku." atau musibah yang bisa menyusahkan orang yang mengalaminya seperti marabahaya dan kemiskinan, dan ini adalah kesenangan yang berlebihan dan sombong terhadap orang lain dengan kelapangan yang dia terimanya, dia Iupa untuk bersyukur kepada Allah SWT.

Dalam ungkapan dengan lafal _al-idzaaqatu_ (merasa) dan _al-massu_ (menyentuh) merupakan peringatan bahwa apa yang didapat manusia di dunia ini, baik berupa nikmat atau cobaan musibah sebagai contoh apa yang tidak mereka dapati di akhirat, seperti yang dikatakan oleh *imam al-Baidhawi*.

4. Allah SWT memberi pengecualian dari sifat-sifat manusia yang tercela dan sikapnya yaitu sikap orang-orang yang beriman yang bersabar terhadap kesusahan dan musibah. Mereka adalah orang-orang yang pada saat dalam keadaan senang dan kelapangan rezeki mereka bersyukur dan mengerjakan amal saleh dan kebaikan di dunia. Mereka akan mendapat maghfirah dari Allah SWT karena telah bersabar untuk mengerjakan kebaikan dan pada saat sedang dalam mengalami musibah, mereka akan mendapat pahala yang sangat besar; paling kecilnya adalah surga.

Hal ini adalah gabungan dari dua tuntutan, yaitu hilangnya adzab dan selamat darinya dan itulah yang dimaksud dari firman-Nya ( لَهُم مَّغْفِرَةٌ ) dan kemenangan dengan mendapatkan pahala dan itulah yang dimaksud dari firman-Nya (وَأَجْرٌ كَبِيرٌ) dan ini adalah sebuah dalil atas kemukjizatan Al-Qur'an bukan dari segi lafalnya saja melainkan kandungan makna yang ada di dalamnya.

Adapun orang-orang kafir pada saat mendapat musibah, biasanya mereka tidak bersabar dan ketika mendapatkan nikmat mereka tidak mau bersyukur; karena syukur yang hakiki tidak akan ada kecuali adanya keimanan kepada yang memberi nikmat itu, dan tentunya kesabaran tidak akan mendapat pahala jika tidak tumbuh dari keimanan, dan keseringan dia lepas dan kehilangan kesabarannya bahkan dia bisa bunuh diri; hal itu karena dia tidak mendapatkan penghibur hatinya atau penabah hati akan musibah yang dialaminya yang akan menggantikannya di akhirat nanti karena dia tidak percaya kepada hari kebangkitan, hisab dan balasan yang hak dari Allah SWT semata.

Ringkasnya: Ayat-ayat ini merupakan perbandingan yang mendetail antara sifat-sifat manusia yang Mukmin dan sifat-sifat manusia yang kafir; dan sumber dari perbedaan itu adalah keimanan dan kekafiran.

5. Keadaan dunia tidak akan abadi, bahkan dia selalu berubah dan berganti dari nikmat ke musibah, dan kesenangan ke kesusahan dan sebaliknya keadaan dunia pun berubah dari kebencian ke kecintaan, dari keburukan ke kebaikan.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login