YUUNUS (27)
Surah Yuunus Ayat 68-7O
MENYEKUTUKAN ALLAH SWT DENGAN MENISBAHKAN ANAK KEPADA-NYA
قَالُوا۟ ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ وَلَدًۭا ۗ سُبْحَـٰنَهُۥ ۖ هُوَ ٱلْغَنِىُّ ۖ لَهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۚ إِنْ عِندَكُم مِّن سُلْطَـٰنٍۭ بِهَـٰذَآ ۚ أَتَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ ٦٨
*Artinya*: _Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata, "Allah mempuyai anak". Maha Suci Allah; Dia-lah Yang Maha Kaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. Kamu tidak mempunyai hujah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?_
قُلْ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ ٦٩
*Artinya*: _Katakanlah, "Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak beruntung"._
مَتَـٰعٌۭ فِى ٱلدُّنْيَا ثُمَّ إِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ ثُمَّ نُذِيقُهُمُ ٱلْعَذَابَ ٱلشَّدِيدَ بِمَا كَانُوا۟ يَكْفُرُونَ ٧٠
*Artinya*: _(Bagi mereka) kesenangan (sementara) di dunia, kemudian kepada Kami-lah mereka kembali, kemudian Kami rasakan kepada mereka siksa yang berat, disebabkan kekafiran mereka._
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Ayat-ayat ini mengandung dua hal.
_Pertama,_ kesalahan pernyataan dengan menisbahkan anak kepada Allah SWT dengan dalil-dalil yang kuat dan tak terbantahkan dan dengan tidak adanya dalil serta hujjah atas kebenaran pernyataan seperti ini.
_Kedua,_ timbulnya aliran keyakinan ini hanyalah sebatas mengada-ada terhadap Allah SWT dan penisbahan yang tidak pantas ditujukan kepada-Nya.
Adapun dalil-dalil tentang kesalahan pernyataan yang menisbahkan anak kepada Allah SWT, maka seperti yang disebutkan oleh ayat yang pertama ada lima.
1. (سُبْحَٰنَهُۥ) Yaitu penyucian Allah SWT dari segala bentuk teman dan anak serata sekutu dan merupakan ungkapan keheranan yang mendalam dari pernyataan bodoh ini karena sesungguhnya Allah SWT tidak membutuhkan kepada yang lain melainkan Dia adalah sumber untuk memenuhi segala kebutuhan,
2. (هُوَ ٱلْغَنِىُّ) Allah SWT adalah Yang Mahakaya dan secara mutlak tidak membutuhkan apa pun dari segala yang ada selain Dia, sementara segala sesuatu selain Dia butuh kepada-Nya.
Jika Dia Yang Mahakaya, Dia tidak mungkin mempunyai bapak dan ibu, kalau Dia Mahasuci dari bapakdan ibu maka Dia-pun Mahasuci dari anak. Tidak mungkin terpisah dari-Nya satu bagian dari bagian-bagian-Nya, dan anak itu adalah cerminan dari keterpisahan satu bagian dari bagian-bagian manusia. Tidak mungkin Dia mempunyai sifat syahwat dan kenikmatan, maka Dia tidak mempunyai teman dan tidak pula anak. Tidak mungkin dia mengangkat dan mengambil anak karena tidak adanya kebutuhan untuk menolong-Nya atas kemaslahatan yang ada dan yang akan terjadi.
Bagi Zat Yang Mahakaya, maka Dia adalah Mahaqadim Yang tidak berawal, Maha Azali Yang tidak berakhir, Mahakekal Selama-lamanya, tidak terdetik atas-Nya keberakhiran dan kepunahan, dan anak itu di dapat bagi sesuatu yang berakhir dan punah.
Bagi Zat Yang Kaya secara mutlak maka Dia keberadaan-Nya _waajibul wuiub_ secara Zat-Nya, dan Dia mempunyai anak maka anak-Nya itu sama dengan-Nya atau keberadaan anak itu menjadi _waajibul ujud_ seperti Dia. Jika Dia mempunyai sifat seperti ini, tidak mungkin Dia terlahir dari yang lain selain Dia, dan jika Dia tidak terlahir dari selain Dia, Dia-pun tidak mempunyai anak.
Dengan penetapan bahwa Allah SWT Mahakaya, ini merupakan dalil yang sangat kuat bahwa Allah SWT tidak mempunyai anak.
3. (لَهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ) sebagai milik, ciptaan, dan hamba bagi-Nya, maka bagaimana mungkin Dia mempunyai anak dari apa telah diciptakan, padahal segala sesuatu itu menjadi milik dan hamba-Nya?
4. (إِنْ عِندَكُم مِّن سُلْطَٰنٍۭ بِهَٰذَآ) yaitu bahwa kalian tidak mempunyai dalil dan hujjah atas kebenaran apa yang kalian katakan ini, dan mengakut kebenaran dengan tanpa adanya dalil adalah batil.
5. (أَتَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ) berupa penisbahan anak kepada-Nya, dan anak itu membutuhkan kesejenisan dan keserupaan, sesungguhnya Allah SWT tidak ada kesejenisan dengan apa pun, dan tidak serupa dengan apa pun. Ini selain sebagai penegasan dari apa yang telah lalu, juga merupakan pengingkaran yang tegas dan ancaman yang pasti, penghinaan dan cacian atas kesembronohan pernyataan menisbahkan anak kepada Allah SWT.
Adapun tentang timbulnya aliran keyakinan ini sebagai bentuk pengada-adaan kebohongan terhadap Allah SWT hal itu jelas dengan batilnya pengakutan adanya anak bagi Allah SWT Firman Allah SWT telah menunjukkan ( أَتَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ ) bahwa dalam penetapan aqidah dan keyakinan khususnya yang berkenaan dengan penetapan kepercayaan kepada Allah SWT Sang Pencipta harus dengan dalil yang pasti dan yakin, dan tidak dengan taklid buta atau warisan keyakinan dan dengan mengikuti aqidah orang-orang Islam yang Mukmin dengan benar. Dan firman-Nya ( لَا يُفْلِحُونَ ) menunjukkan kebangkrutan dan kerugian orang yang kafir yang benar-benar terjadi di hari Kiamat nanti dan menunjukkan juga ketidakselamatan mereka dari adzab Allah SWT Begitu juga firman Allah SWT ( مَتَٰعٌ فِى ٱلدُّنْيَا ثُمَّ إِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ ) menunjukkan bahwa kenikmatan di dunia sangatlah sedikit dan sangat hina dina ketimbang dengan kenikmatan yang ada di akhirat nanti. Sesungguhnya tempat kembalinya semua makhluk kepada Allah SWT dan sesungguhnya orang-orang kafir dan musyrik mereka akan disiksa dengan adzab yang berat dan pedih disebabkan kekafiran mereka.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
