Surah Yuunus: 31-33

YUUNUS (16)

Surah Yuunus: 31-33

PENETAPAN TAUHID _ULUHIYYAH_ MELALUI TAUHID _RUBUBIYAH_ BAGI ORANG-ORANG MUSYRIK

FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM

Ini adalah sebuah dialog rasional dan _confidently_ bersama orang-orang musyrik bahwa mereka ketika ditanya tentang yang memberi mereka rezeki, yang menciptakan, yang menghidupkan, yang mematikan, yang mengatur alam ini, tak ada jawaban bagi mereka kecuali mengakui bahwa Dia-lah Allah SWT Tuhan semesta alam ini.

Pengakuan ini disampaikan secara terus terang oleh mereka akan tauhid _rububiyah_, namun kenapa mereka tidak mengakui tauhid _uluhiyah_, melainkan mereka menyekutukan penyembahan mereka kepada Allah dengan tuhan selain Dia?! Padahal logika menuntut kesamaan antara dua hal yaitu pengakuan tauhid _rububiyah_ dan _uluhiyah_, makanya ayat ini merupakan dalil atas penetapan dua tauhid tersebut.

Ayat-ayat ini menunjukkan hal berikut ini:

1. Allah SWT adalah Pemberi rezeki, Pencipta alam ini, Yang menghidupkan dan Yang mematikan, Pengatur urusan alam ini dengan sendiri-Nya dan tanpa yang lain. 

2. Kalau yang kekuasaannya dan rahmatnya sedemikian rupa, dia yang melakukan itu semua, maka tak lain Dia adalah Tuhan kalian Yang Mahahak yang rububiyah-Nya pasti tanpa ada keraguan sedikit pun, tidak dan bukan apa yang kalian sekutukan bersama-Nya (فَذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمُ ٱلْحَقُّ). Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya dan sebagaimana bahwa Allah adalah Yang Mahahak, selain Dia adalah sesat karena dua hal yang berlawanan tidak mungkin bersatu, dan jika salah satu dari keduanya itu adalah Yang Hak maka yang lainnya adalah batil dan sesat (فَمَاذَا بَعْدَ ٱلْحَقِّ إِلَّا ٱلضَّلَٰلُ) maksudnya yaitu tak ada setelah penyembahan kepada llah Yang Hak kalau ditinggalkan kecuali kesesatan?

Berdasarkan atas hal tersebut, para ulama mengatakan: "Ayat ini menetapkan bahwa diantara yang hak dan yang batil tidak ada posisi ketiga dalam masalah ini yaitu masalah tauhid Allah SWT dan ini bisa dianalogikan dengan masalah-masalah ushul (pokok-pokok agama) bahwa yang hak hanyalah satu, kebalikan dengan masalah-masalah furu' sebagaimana yang telah Allah SWT Firmankan:

_"Untuk setiap umat di qntqro kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang."_ *(al-Maa'idah: 48)*

Dan juga sabda Rasulullah saw. dalam hadits shahih

(أَلحَلَالً بَيْنٌ وَال؛َرَمُ بَيْنٌ وَمَا بَيْنَهُمَا أُ مُورٌ مُشْتَبِهَا تٌ)

_"Yang halal jelas dan yang haram pun jelas, antara keduanya adalah perkara musy-tabihat (samar-samar)."_

Juga *Aisyah* meriwayatkan bahwa Nabi saw. apabila bangun untuk shalat tahajjud beliau membaca (اَللّهُمَّلَكَالحَمدُ) Ya Allah .. untuk-Mu segala pujian dan dalam hadits lain beliau membaca (أنتَالحَقُّوَوَعدُكَلاحَقُّ)  Engkau Yang Maha hak dan janjiMu hak.. dan sabda beliau lأنتَالحَقُّi; yaitu waajibul wujuud (wajib keberadaan-Nya) dan ini adalah sifat Allah SWT dengan zat dan hakikat; dimana keberadaan-Nya tidak melalui ketidakadaan sebelumnya, kebalikan dari selain Dia, seperti firman Allah SWT: 

_"Setiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah."_ *(al-Qashash: 88)*

Dalam istilah bahasa dan agama, lawan dari yang hak adalah kesesatan seperti yang disebutkan dalam ayat ini, begitu juga seperti yang Allah SWT firmankan dalam ayat lain,

_"Demikianlah (kebesaran Allah) karena Allah, Dialah (Tuhan) yang Hak. Dan apa saja yang mereka seru selain Dia, itulah yang batil."_ *(al-Hajj: 62)*

Dan hakikat kesesatan adalah meninggalkan yang hak.

3. Imam Malik mengharamkan permainan catur dan kartu dengan hujjah firman Allah SWT (فَمَأ بَعْدَالحَقَّإِلَا اضَّلَلُ) dia berkata, 

_"Bermain asy-syathrant (catur) dan annarj (kartu) termasuk kesesatan."_

Para ulama berselisih pendapat tentang hukum bermain catur dan jenis permainan lainnya jika dilakukan bukan untuk judi, para jumhur ulama mengatakan, "Sesungguhnya bagi orang yang memainkannya bukan untuk judi dan dia bermain dengan keluarganya di dalam rumahnya secara tersembunyi, sekali dalam satu bulan atau dalam setahun, tidak diketahui orang lain, sesungguhnya itu dimaafkan dan tidak diharamkan baginya juga di tidak makruh, dan jika itu diketahui orang banyak maka jatuhlah kesucian dan keadilan dirinya serta kesaksiannya ditolakl'

*Imam Syafi'i* berpendapat bahwa kesaksian orang yang bermain kartu dan catur tidak jatuh apabila orang itu memang adil dalam hal selain itu, tidak tampak pada dirinya safah (bodoh) dan tidak pula keraguan serta dia tidak melakukan dosa besar kecuali jika dia bermainnya untuk berjudi. Apabila dia bermainnya untuk berjudi maka jatuhlah keadilannya dan dirinya dianggap kurang ajar karena dia telah memakan harta yang haram dan batil.

Abu Hanifah berkata, "Bermain catur dan kartu serta semua permainan hukumnya makruh, apabila pada diri orang yang bermainnya tidak terlihat perbuatan dosa besar,, dan kebaikannya lebih banyak dari keburukannya, maka syahadah atau kesaksiannya diterima."

4. Orang yang berakal identik dengan rasionalis, maka dari itu Allah menolak orang-orang musyrik keluar dari lingkup rasional dengan firman-Nya (فَأَنِّىتُصْرَفُونَ) bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran) atau bagaimana kalian tidak menerima kebenaran yang nyata ini, dan bagaimana kalian memalingkan akal kalian untuk ibadah kepada yang tidak memberikan rezeki, tidak menghidupkan dan tidak mematikan!

5. Ilmu Allah adalah ilmu qadim yang mencakup seluruhnya, dan adzab itu adalah benar adanya, adil dan telah diketahui sejak dahulu dalam ilmu Allah SWT atas orang-orang yang tetap dalam kekafiran dan mati dalam keadaan kafir; dengan firman Allah SWT, (كَذَلِكَ حَقَّتْ كَلِمَتُ رَبَّكَعَلَى الَذينَفَسَقُواَنهُم لَا يُؤمِنُونَ) maksudnya yaitu telah tetap hukum dan keputusan serta ilmunya sejak dahulu atas orang-orang yang keluar dari ketaatan kepada Allah SWT mereka yang kafir dan dusta dan mereka sesungguhnya orang-orang yang yakin, atau telah tetap atas mereka mendapatkan adzab dan ancaman adzab itu karena mereka adalah orang-orang yang tidak beriman.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login