SURAH AT-TAUBAH: 117-119

AT-TAUBAH (46)

SURAH AT-TAUBAH: 117-119

TOBAT DAN KEJUJURAN ORANG-ORANG YANG IKUT PERANG TABUK DAN TIGA ORANG YANG TIDAK IKUT PERANG TERSEBUT

SEBAB TURUNNYA AYAT

*Imam Bukhari* dan lainnya meriwayatkan dari *Ka'b bin Malik* berkata, "Aku tidak pernah enggan ikut Nabi dalam peperangan yang beliau lakoni kecuali Perang Badr, dan Perang Tabuk yang menjadi peperangan terakhir, dan beliau memberitahukan orang-orang untuk pergi, maka Allah menurunkan tobat kami dalam ayat (لَّقَد تَّابَ ٱللَّهُ عَلَى ٱلنَّبِىِّ وَٱلْمُهَـٰجِرِينَ ) sampai firman Allah (إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ) Dia berkata. Dan pada kami juga diturunkan ayat (ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَكُونُوا۟ مَعَ ٱلصَّـٰدِقِينَ)

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Topik ayat-ayat ini adalah tobat dan kejujuran.

Adapun tobat, itu diberikan menyeluruh kepada setiap orang yang ikut dalam Perang 'Usrah atau Perang Tabuk, hal itu sebagai karunia dan rahmat dari Allah setelah mereka mengalami kesulitan berat selama perang tersebut. Jabir berkata, "Terkumpul pada mereka, kesulitan kendaraan unta, kesulitan perbekalan makanan, dan kesulitan air bersih."

*Zamakhsyari* mengatakan dalam hal firman Allah SWT (لَّقَد تَّابَ ٱللَّهُ عَلَى ٱلنَّبِىِّ) adalah firman Allah,

_"Agar Allah memberikan ampunan kepadamu (Muhammad) atas dosamu yang lalu dan yang akan datang."_ *(al-Fath: 2)*

Dan firman-Nya _"dan mohonlah ampunan untuk dosamu. "_ *(al-Mu’min: 55)*

Hal itu sebagai sugesti dan dorongan bagi orang-orang Mukmin untuk bertobat, sesungguhnya tak ada seorang Mukmin pun kecuali dia butuh pada tobat dan istighfar sampai Nabi, orang-orang golongan Muhajirin dan Anshar, dan sebagai keterangan atas kemuliaan tobat serta tingginya nilainya di sisi Allah SWT. Se¬ sungguhnya sifat orang-orang tobat yang pertama merupakan sifat para nabi.

Tobat ini juga mencakup tiga orang yang enggan dari Perang Tabuk, yaitu mereka yang perkara ditangguhkan dari orang-orang munafik, tak ada keputusan tentang perkara mereka. Hal itu karena orang-orang munafik mereka tobatnya tidak diterima, dan ada beberapa kaum yang mengajukan uzur dan uzur mereka diterima, Rasulullah saw. menangguhkan status mereka sampai akhirnya turun ayat Al-Qur’an tentang mereka. Inilah yang benar seperti yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Bukhari dan lainnya, Ka’b berkata seperti dalam riwayat Muslim, "Kami bertiga yang telah ditangguhkan dari perkara mereka yang diterima oleh Rasulullah saw. pada saat mereka datang untuk bersumpah pada beliau. Beliau pun membaiat mereka dan memohon ampum bagi mereka, sementara beliau menangguhkan perkara kami sampai ada keputusan dari Allah, maka dari itu Allah Azza wa jalla berfirman (وَعَلَى ٱلثَّلَـٰثَةِ ٱلَّذِينَ خُلِّفُوا۟) dan apa yang Allah sebutkan tentang penangguhan kami karena kami enggan dari perang itu, melainkan memang beliau meninggalkan kami dan menangguhkan perkara kami daripada orang-orang yang bersumpah pada beliau dan meminta maaf, beliau pun mereka hal itu.

Sifat-sifat yang tiga yang telah Al-Qur'an sifati bagi mereka merupakan dalil atas kejujuran dan kebenaran mereka dalam bertobat. Allah pun memerintahkan untuk jujur dan benar setelah tiga sifat ini, dan perintah ini menjadi umum bagi seluruh Mukmin yang di sana Allah memerintahkan untuk selalu dan tetap berada bersama golongan orang-orang yang jujur dan benar dan selalu berjalan di jalan mereka.

Ayat ini mewajibkan kita untuk berlaku jujur dan benar. Ini adalah perintah yang baik setelah tiga kisah ini dimana kejujuran dan kebenaran membawa manfaat bagi mereka dan menjauhkan mereka dari golongan orangorang munafik dan menjadi bukti betapa mulianya kejujuran serta kebenaran dan betapa tinggi derajatnya di sisi Allah.

Tidak diragukan lagi bahwa tobat nasuha menjadi ciri dan kriteria paling menonjol dalam hal kejujuran dan kebenaran. Tak ada pilihan bagi seorang yang berakal dan bertakwa kecuali terus berpegang pada kejujuran dan kebenaran dalam kata dan ucapan, dan selalu ikhlas dalam perbuatan, suci dalam segala keadaan. Barangsiapa yang mempunyai sifat-sifat seperti, dia akan bersama orangorang baik dan akan mendapat keridhaan Allah Yang Maha Pengampun.

Dua sikap kejujuran dan keimanan sebagai perbandingan dengan orang-orang yang enggan.

*Pertama*

"Dari Abu Dzar al-Ghiffary bahwa untanya berjalan sangat lamban, maka diapun membawa barang-barangnya di atas punggungnya, dan dia berjalan mengikuti jejak langkah Rasulullah saw. maka ketika Rasulullah saw. melihat rombongannya beliau berkata Jadilah Abu Dzar! Maka orang-orang berkata Itu dia orangnya, dan beliau berkata "Allah merahmati Abu Dzar, dia berjalan sendirian, dia akan meninggal dunia sendirian dan akan dibangkitkan sendirian."

*Kedua*

Bahwa pernah Abu Khaitsamah al-Anshari mendatangi kebunnya. Istrinya yang cantik dan jelita pun menghamparkan tikar di bawah teduhan untuknya, kemudian sang istri membawakannya buah kurma dan air yang dingin. Dia melihatnya seraya berkata, "Tempat yang teduh, kurma yang masak, air yang dingin, dan istri yang cantik jelita, sementara Rasulullah saw. dalam suasana panas dan berangin, tentunya hal ini tidak baik. Dia pun segera pergi dengan untanya dengan membawa pedang dan tombaknya, lalu berjalan bagaikan angin. Rasulullah saw. membentangkan surban beliau ke jalan dan ternyata ada seseorang di atas hewan tunggangannya yang terbayang-bayangi metamorgana. Beliau berkata, "Jadilah Abu Khaitsamah!” Ternyata memang dia dan Rasulullah saw. pun senang dengannya dan beristighfar memohon ampun baginya.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login