AT-TAUBAH (23)
SURAH AT-TAUBAH: 56-59
SUMPAH PALSU ORANG-ORANG MUNAFIK DAN TINDAKAN MEREKA MEMANFAATKAN SEMUA KESEMPATAN UNTUK MELECEHKAN NABI SAW.
*Sebab Turunnya Ayat (58)*
*Al-Bukhari dan an-Nasa’i* meriwayatkan dari *Abu Sa’id al-Khudri r.a.*, dia mengatakan bahwa, "Ketika Rasulullah saw. membagi-bagi harta rampasan, tiba-tiba datang *Dzul Khuwaishirah at-Tamimi* namanya adalah Harqudh bin Zuhair, pembesar Khawarij seraya mengatakan bahwa. Bersikap adillah wahai Rasulullah. *Rasulullah saw. bersabda*. _Celakalah kamu!. Siapa lagi yang akan bersikap adil kalau saya tidak bersikap adil?._ Maka *Umar bin Khathab* mengatakan bahwa. Izinkanlah saya untuk memenggal lehernya. *Maka Rasulullah saw. bersabda:*
دَعْهُ فَإِنَّ لَهُ أَصْحَابًا يَحْقِرُ أَحَدُكُمْ صَلَاتَهُ مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصِيَامَهُ مَعَ صِيَامِهِمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ
_“Biarkan dia. Sesungguhnya dia memiliki teman-teman yang seseorang dari kalian akan meremehkan shalatnya jika dibandingkan dengan shalat mereka dan meremehkan puasanya jika dibandingkan dengan puasa mereka. Mereka keluar dari agama ini, seperti keluarnya anak panah dari sasarannya."_ *(HR Bukhari dan an-Nasa’i)*
Lalu turunlah ayat (وَمِنْهُم مَّن يَلْمِزُكَ ) dan seterusnya Ibnu Abi Hatim meriwayatkan hadits di atas dari Jabir dengan redaksi yang serupa. Ibnu Jarir meriwayatkan dari Dawud bin Abi Ashim, dia mengatakan bahwa, "Nabi saw. datang membawa harta sedekah lalu membagi-bagikannya hingga habis. Hal itu diperhatikan oleh seorang laki-laki dari Anshar, lalu dia mengatakan bahwa, Ini tidak adil! Lalu turunlah ayat di atas.
Seluruh riwayat tentang sebab turunnya ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang yang menegur dan melecehkan Rasulullah saw. tersebut adalah dari kalangan orangorang munafik.
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Dari ayat-ayat di atas dapat disimpulkan beberapa hal berikut ini.
1. Di antara perilaku orang-orang munafik adalah bersumpah bahwa mereka adalah orang-orang beriman dan suka bersumpah palsu. Hal ini sebagaimana *firman Allah SWT,*
_"Apabila orang-orang munafik datang kepadamu [Muhammad), mereka mengatakan bahwa, "Kami mengakui, bahwa engkau adalah Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar Rasul-Nya; dan Allah menyaksikan bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta,”_ *(al-Munaafiquun: 1)*
2. Orang-orang munafik adalah golongan yang bingung, kacau dan gelisah, serta tidak suka dengan hidup dalam kenyataan bersama orang-orang Mukmin. Hal itu karena mereka takut jika kondisi dan hakikat mereka terbongkar sehingga mereka akan dibunuh. Oleh karena itu mereka berharap dapat menyelamatkan diri dan berlindung ke tempat-tempat yang buruk, seperti benteng-benteng, gua-gua di gunung, dan terowongan yang digali di bawah tanah.
3. Di antara sikap dan kejahatan orang-orang munafik yang paling buruk adalah mencela Nabi saw. karena beliau mengambil sedekah yang wajib (zakat) dari orang-orang kaya. Orang-orang munafik tersebut mengatakan, "Sesungguhnya dia mengutamakan sedekah itu untuk para kerabat dan orang-orang dekatnya saja,” atau karena masalah pembagian _ghanimah_ [harta rampasan perang]. Seperti ghanimah perang Hunain yang digunakan oleh Nabi saw. untuk membujuk hati para muallafah guluubuhum [orang-orang yang dibujuk hatinya agar kukuh keislamannya] dari penduduk Mekah. Namun, orang-orang munafik tersebut menuduh beliau tidak berlaku adil.
4. Ayat di atas menunjukkan bahwa orang yang hanya mencari dunia akan menjadi orang munafik, sedangkan orang yang mencari dunia dengan kadar yang diizinkan oleh Allah dan tujuannya adalah menjadikannya sebagai sarana untuk kebaikan agama, dia berada di jalan yang benar. Pijakan yang menjadi dasar dalam hal-hal yang bersifat materi adalah ridha dengan qadha dan qadar Allah setelah berusaha.
Oleh karena itu, Allah SWT berfirman (وَلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوا۟ مَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَقَالُوا۟ حَسْبُنَا ٱللَّهُ سَيُؤْتِينَا ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ وَرَسُولُهُۥٓ إِنَّآ إِلَى ٱللَّهِ رَٰغِبُونَ ٥٩),
5. Ayat (َلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوا) Ridha ini mencakup empat tingkatan.
_Pertama,_ ridha dengan apa yang diberi oleh Allah dan Rasul-Nya, karena Allah SWT Mahabijaksana dan Mahasuci dari sesuatu yang bersifat main-main dan dari kesalahan maka keputusan-Nya adalah hak dan benar.
_Kedua,_ efek dari keridhaan tersebut tampak di lisan. Hal ini ditunjukkan dalam firman Allah (حَسْبُنَا ٱللَّهُ), maksudnya kami ridha dengan hukum dan keputusan Allah.
_Ketiga,_ apabila seseorang tidak mengatakan (سَيُؤْتِينَا ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ وَرَسُولُهُۥٓ)(حَسْبُنَا ٱللَّهُ), maksudnya dapat berlaku di dunia atau di akhirat.
_Keempat,_ Mengatakan (إِنَّآ إِلَى ٱللَّهِ رَٰغِبُونَ ), maksudnya kami tidak mencari keuntungan dunia berupa harta dan kekuasaan dari keimanan kami, akan tetapi kami ingin mendapatkan kebahagiaan akhirat.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
