AT-TAUBAH (14)
SURAH AT-TAUBAH: 30-33
AQIDAH AHLI KITAB (YAHUDI DAN NASRANI)
SEBAB TURUNNYA AYAT (30)
*Ibnu Abi Hatim* meriwayatkan dari *Ibnu Abbas*, dia mengatakan bahwa, *Sallam bin Misykam, Nu'man bin Abi Aufa, Muhammad bin Dihyah, Syas bin Qais, dan Malik bin Ash-Shaif* mendatangi Rasulullah saw., mereka mengatakan bahwa, "Bagaimana kami mengikutimu sementara kamu sudah meninggalkan kiblat kami?, dan kamu tidak menyangka bahwa Uzair adalah putra Allah. Maka Allah menurunkan ayat (وَقَالَتِ ٱلْيَهُودُ عُزَيْرٌ ٱبْنُ ٱللَّهِ ),
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Ayat-ayat di atas membuktikan bahwa kebanyakan orang Yahudi dan Nasrani adalah orang-orang Musyrik sebab mereka menisbatkan adanya putra kepada Allah. Dalam hal itu mereka meniru orang-orang kafir sebelum mereka, seperti orang-orang Musyrik Arab yang mengatakan bahwa, malaikat adalah putri-putri Allah. Pengingkaran orangorang Yahudi terhadap hal yang berkenaan dengan mereka tidak bisa dianggap sebab cerita Allah mengenai mereka lebih jujur. Barangkali madzhab ini populer di kalangan mereka kemudian redup.
*Ibnul Arabi* mengatakan bahwa, "Di sini ada dalil dari firman Allah SWT, yang menunjukkan bahwa orang yang mengabarkan kekufuran orang lain yang tidak boleh seorang pun memulainya. Sebab Dia mengucapkan hal itu untuk maksud menganggap besar masalah itu dan menyanggahnya. Jadi, itu tidak bisa dihalangi. Kalau saja Tuhan kita menghendaki, tak seorang pun yang mengucapkannya. Ketika Dia membuat orang lain mampu untuk mengucapkan hal itu. Dia telah memberi izin untuk mengabarkannya dengan maksud mengingkarinya di hati dan lisan. Penyanggahannya adalah dengan hujjah dan bukti kuat.
Allah telah mendustakan mereka dengan firman-Nya (ذَٰلِكَ قَوْلُهُم بِأَفْوَٰهِهِمْ ۖ), Artinya, itu adalah ucapan yang tak berdasar, batil, tidak lebih dari ucapan belaka. Allah melaknat mereka dengan firman-Nya ( قَـٰتَلَهُمُ ٱللَّهُ ۚ) Ibnu Abbas mengatakan bahwa, "Setiap sesuatu dalam Al-Qur’an yang menggunakan kata (َقَتْلَِ) artinya melaknat."
Kemudian Allah menyifati mereka dengan macam lain dari kemusyrikan dengan firman-Nya (ٱتَّخَذُوٓا۟ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَـٰنَهُمْ أَرْبَابًۭا مِّن دُونِ ٱللَّهِ).
Mereka menjadikan orang-orang alim dan pendeta mereka serta al-Masih bin Maryam sebagai Tuhan-tuhan selain Allah. Mayoritas mufassir berpendapat bahwa, yang dimaksud Tuhan di sini bukanlah mereka meyakini bahwa mereka adalah Tuhan-Tuhan semesta. Yang dimaksudkan adalah mereka menaati perintah dan larangan para pendeta itu, padahal Taurat dan Injil dan juga kitab-kitab Ilahi mengatakan agar mereka tidak menyembah kecuali Tuhan Yang Maha Esa dan Bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia.
Dia suci dari mempunyai sekutu baik dalam perintah, pembebanan maupun penetapan hukum, juga bebas dari mempunyai sekutu yang disujudi dan disembah. Serta bebas untuk mempunyai sekutu yang berhak untuk diagungkan dan dimuliakan. Kemudian, Allah SWT mengabarkan macam ketiga dari perbuatan-perbuatan buruk yang muncul dari pembesar-pembesar Yahudi dan Nasrani, yakni upaya mereka untuk membatalkan dakwah Nabi Muhammad saw., dan pengakuan mereka untuk menyembunyikan dalil-dalil kebenaran syari'at dan kekuatan agama Nabi.
Yang dimaksud dengan cahaya adalah dalil-dalil yang menunjukkan kebenaran tentang kenabian.
_Pertama,_ mukjizat-mukjizat yang menaklukkan yang tampak pada tangan nabi.
_Kedua,_ Al-Qur'an yang muncul dari lisan Nabi Muhammad saw. padahal dia adalah ummi (buta huruf).
_Ketiga,_ hasil dari syari'at Allah adalah pengagungan dan pujian kepada-Nya, tunduk menaati-Nya, memalingkan diri dari mencintai dunia, yakni rakus terhadap dunia, bukan akhirat, membuat suka untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat. Akal menunjukkan bahwa tidak ada jalan kepada Allah, kecuali melalui cara ini.
_Keempat_, syari'at Allah bebas dari semua cela. Di dalamnya, tidak ada ajakan kepada selain Allah, tapi ajakan untuk memperbaiki kehidupan manusia. Kemudian, Allah SWT menjanjikan kepada Nabi Muhammad saw. tambahan kemenangan, kekuatan dan peningkatan kedudukan. Allah SWT berfirman (يُرِيدُونَ أَن يُطْفِـُٔوا۟ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفْوَٰهِهِمْ وَيَأْبَى ٱللَّهُ إِلَّآ أَن يُتِمَّ نُورَهُۥ وَلَوْ كَرِهَ ٱلْكَـٰفِرُونَ). Kemudian, Allah menjelaskan setelah kegagalan mereka untuk membatalkan dakwah Islam bagaimana Dia menyempurnakan agama-Nya dengan firman-Nya: (هُوَ ٱلَّذِىٓ أَرْسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلْهُدَىٰ وَدِينِ ٱلْحَقِّ)
Dalam ayat terakhir ini ada petunjuk bahwa risalah Nabi Muhammad saw. mempunyai keistimewaan dengan banyaknya dalil-dalil dan mukjizat-mukjizat mengenai kebenarannya, yakni hidayah. Islam adalah agama haq yang mencakup kebenaran, kebaikan, kesesuaian dengan hikmah kebijaksanaan, dan kecocokan manfaat di dunia dan akhirat. Agama Allah di atas semua agama, mengalahkan semua agama. Tidak ada agama yang bisa kukuh menghadapi debatan ilmiah dan rasio selain agama Islam. Sejarah sepanjang zaman menegaskan keberlangsungan janji-janji ini dengan terang-terangan dalam bentuk penerimaan pembesar ilmuan dalam semua spesialisasi kemanusiaan atau ilmiah mengenai keberhakan Islam sebagai agama, aqidah, dan memperbaiki kehidupan manusia. Islam menang atas semua agama di masa lampau. Orang-orang Yahudi terusir dan dikeluarkan dari Jazirah Arab. Orang-orang Muslim mengalahkan orang-orang Nasrani di negeri Syam dan yang lainnya, serta mengalahkan orang-orang Majusi dan para penyembah berhala di banyak negara seperti Turki dan India.
*Kesimpulan:* ayat-ayat ini mengandung sifat-sifat buruk orang-orang Yahudi dan Nasrani; penisbatan anak kepada Allah menaati para pemimpin bukan kepada Allah, upaya mereka untuk membatalkan dakwah Islam dan menyembunyikan suara kebenaran.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
