AL-BAQARAH (10)
FIQIH KEHIDUPAN DAN HUKUM-HUKUM
[SURAH AL-BAQARAH 35 - 39]
ADAM DAN HAWA TINGGAL DI SURGA DAN SIKAP SETAN TERHADAP MEREKA
Surah al-Baqarah Ayat 35 - 39 (Bagian 3)
KISAH ADAM A.S.
Nama Adam a.s. disebutkan dalam Al-Qur'anul Karim sebanyak 25 kali. Surah al-Baqarah berbicara tentangnya dalam ayat 31-37, surah Ali Imran dalam ayat 33 dan 59, surah al-Maa'idah dalam ayat 27, surah al-Araaf dalam ayat 11 & 172, surah al-Israa' dalam ayat 61 dan 70, surah al-Kahfi dalam ayat 50, surah Maryam dalam ayat 58, surah Thaahaa dalam ayat 115-121, dan surah Yaasiin dalam ayat 60. Pengungkapan kisahnya beraneka ragam. Terkadang disebutkan nama dan sifatnya, seperti dalam surah al-Baqarah, al-'Araaf, al-Israa', dan al-Kahfi. Adakalanya disebutkan sifatnya saja, seperti dalam surah al-Hijr dan Shaad. Hal ini membuktikan kemukjizatan Al-Qur'anul Karim.
==>> Kisah Ini mengandung enam topik.
Pertama : Penciptaan Adam dari tanah liat. Al-Qur'anul Karim menjelaskan bahwa asal mula penciptaan Adam a.s. adalah dari tanah liat, yakni dari lumpur hitam yang berubah-ubah. Setelah ia berubah menjadi tanah liat kering, Allah meniupkan ruh ciptaan-Nya ke dalamnya, sehingga ia menjadi manusia yang dapat bergerak dan mempunyai kemampuan-kemampuan fisik, akal, dan maknawi (yang berkaitan dengan akhlak). Adam dan Hawa merupakan cikal bakal jenis/spesies manusia, sebagaimana diberitakan Al-Qur'an. Para ulama telah membuktikan kepalsuan teori Darwin yang menjadikan kera sebagai asal muasal dan nenek moyang manusia.
Kedua : Sujud kepada Adam. Allah Ta'ala memerintahkan Iblis dan para malaikat untuk bersujud kepada Adam sebagai bentuk pemuliaan, bukan sebagai ibadah. Seluruh malaikat langsung bersujud, kecuali Iblis, yang termasuk golongan jin. Ia mendurhakai perintah Tuhannya. Ia enggan bersujud. Ia bersikap takabur.
Ketiga : Sebab pelanggaran Iblis dan hukumannya. Iblis berdalih bahwa dirinya lebih afdhal daripada Adam. Katanya, "Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah liat. Api yang bersifat meninggi lebih mulia daripada tanah liat yang merupakan unsur ketenangan.” Maka Allah mengusirnya dari surga lantaran ia bersikap takabur dan menganggap Allah berlaku zalim. Akan tetapi ia meminta ditangguhkan ajalnya sampai hari Kiamat, dan Allah bersedia menangguhkannya. Iblis mengancam Adam bahwa ia akan menyesatkan keturunannya. Maka Allah menyanggahnya bahwa hamba-hamba Allah yang mukhlis tidak dapat disesatkan olehnya. Allah mengancamnya dan orang-orang yang mengikutinya dengan api neraka.
Keempat : Pemilihan Adam menjadi khalifah di bumi. Allah Ta'ala memberi tahu para malaikat bahwa Dia akan menjadikan Adam sebagai khalifah-Nya di bumi dan dia diberi kekuasaan untuk mempergunakan sumbersumber daya bumi. Para malaikat lantas bertanya-karena ingin mengetahui hikmahnya-, "Bagaimana Engkau menjadikan para perusak dan penumpah darah itu sebagai penghuni bumi, padahal mereka (yakni para malaikat) adalah makhluk yang senantiasa taat dan menjauhi maksiat?” Allah SWT menjawab bahwa Dia mengetahui rahasia-rahasia dalam diri makhluk ini yang tidak diketahui para malaikat, dan Dia secara khusus memberinya ilmu pengetahuan yang tidak diketahui para malaikat.
Kelima : Pengajaran Adam tentang nama benda-benda yang kasat mata. Allah memberi keistimewaan kepada Adam daripada malaikat dengan mengajarinya nama-nama semua benda materiil yang ia lihat di sekelilingnya (tanaman, pepohonan, buah-buahan, wadah, hewan, benda mati...) karena ia perlu mengambil faedah dari benda-benda itu untuk kebutuhan makan-minumnya: berbeda dengan para malaikat yang tidak membutuhkan apa-apa. Kemudian Allah menghadirkan benda-benda ke hadapan para malaikat lalu Dia meminta mereka menyebutkan nama bendabenda yang terlihat itu, tetapi ternyata mereka tidak mengetahui nama-namanya. Kebutuhan anak cucu Adam kepada berbagai benda mendorong mereka untuk bekerja dan berpikir, mencari benda-benda itu, menghuni alam, dan meningkatkan sarana-sarana kehidupan dalam berbagai bidang, seperti pertanian, industri, dan perdagangan.
Keenam : Tinggalnya Adam dan istrinya di surga dan keluarnya mereka dari sana. Allah menjadikan Adam tinggal di surga dan menciptakan Hawa untuknya. Dia mengizinkan mereka menikmati buah-buahan surga kecuali sebatang pohon yang ditunjuk oleh-Nya. Kemudian Iblis membisiki dan menggoda mereka agar memakan buah pohon itu. Kata Iblis, "Tuhan kalian melarang kalian memakan buah pohon ini tidak lain karena memakan buahnya akan membuat kalian jadi malaikat, atau membuat kalian kekal, takkan mati selamanya.” Pada awalnya Adam menolak memakan buah itu. Dia melawan bisikan-bisikan setan. Akan tetapi Iblis terus melancarkan bisikannya.
"Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua.” (al-'Araaf: 21)
Hingga akhirnya Adam lupa bahwa Iblis adalah musuhnya yang enggan bersujud kepadanya. Adam dan Hawa akhirnya memakan buah dari pohon itu.
"Lalu tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga.” (Thaahaa: 121)
Maka Allah mencela Adam karena melanggar perintah-Nya dengan memakan buah pohon itu. Adam pun menyesal, memohon ampun kepada Allah, dan bertobat. Allah menerima tobatnya, tetapi Dia juga memerintahkannya beserta Hawa untuk keluar dari surga dan menetap di bumi.
PELAJARAN DARI KISAH ADAM
1. Allah Ta'ala adalah satu-satunya yang mengetahui berbagai rahasia, ilmu, dan hikmah, yang tidak diberitahukan-Nya kepada seorang makhluk pun, termasuk malaikat. Buktinya, mereka (para malaikat) tidak mengetahui hikmah dari penunjukan Adam sebagai khalifah, dan mereka pun bertanya-tanya tentang sebab pemilihan ini.
2. Apabila perhatian Allah Ta'ala telah tertuju kepada sesuatu, sesuatu tersebut bisa berubah menjadi sangat agung. Misalnya, perhatian-Nya telah tertuju kepada debu sehingga diciptakan-Nya manusia yang sempurna dari debu tersebut, serta dilimpahkan-Nya ilmu pengetahuan dan lain-lain kepadanya yang tidak dapat dijangkau oleh malaikat.
3. Meskipun telah dimuliakan Allah, manusia itu lemah, gampang lupa. Contohnya, Adam lupa akan perintah-perintah dan larangan-larangan Allah sehingga ia mematuhi Iblis, musuhnya, dengan memakan buah dari pohon yang telah dilarang oleh Allah untuk dimakan.
4. Tobat adalah jalan untuk mendapatkan rahmat Allah yang luas. Buktinya, Adam yang telah mendurhakai Tuhannya bertobat dan Allah pun menerima tobatnya. Jadi, orang yang berbuat maksiat atau melalaikan kewajiban mesti cepat-cepat bertobat dan memohon ampunan tanpa merasa putus asa akan rahmat, keridhaan, dan ampunan Allah.
5. Sikap takabur, membangkang, dan ketetapan hati untuk terus membuat kerusakan adalah sebab-sebab turunnya murka ilahi, laknat, dan pengusiran dari rahmat Allah. Buktinya, Iblis-yang menolak bersujud, bertekad untuk tetap pada pendiriannya, menentang Allah, dan menantang kekuasaan-Nya dengan menggoda manusia dan memalingkannya agar tidak menaati Allah-telah dimurkai Allah, diusirNya dari surga untuk selama-lamanya, dan diancam-Nya dengan neraka Jahanam.==
Tafsir Al Munir
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
