SURAH AL-ANFAAL: 50-54

AL-ANFAAL (17)

AL-ANFAAL: 50-54

PENGHANCURAN ORANG-ORANG KAFIR DAN MUSYRIK KARENA PERBUATAN MEREKA YANG BURUK SEPERTI HALNYA PENGHANCURAN TERHADAP PENGIKUT FIR'AUN

FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM

Alangkah celakanya nasib orang-orang kafir. Meskipun mereka bergelimang kekayaan dan harta melimpah sedemikian rupa, pada akhirnya, mereka akan mendapat tempat kembali yang paling buruk. Jadi, kebahagiaan itu bukan dengan harta dan anak-anak seperti yang dibayangkan oleh orang-orang yang berpikiran dangkal. Kebahagiaan sebenarnya adalah dengan keimanan, hati yang tenang, dan memakmurkan dunia dengan amal saleh untuk akhirat. Alangkah celakanya orang-orang kafir itu di setiap tempat dan setiap masa. Andaikan saja mereka mau mengambil pelajaran dari kondisi orang-orang sebelum mereka yang telah dicatat sejarah. Orang-orang Musyrik begitu sering menyakiti Nabi saw. dan orang-orang beriman, memerangi mereka tanpa kenal lelah, dan menyita harta mereka di Mekah. Namun, apa hasilnya? Apakah mereka mendapatkan kebaikan dari semua itu atau malah keburukan dan kebinasaan? Mereka akhirnya terbunuh secara sangat mengenaskan di Badar. Mereka dipukul sejadi-jadinya sebelum nyawa mereka dicabut dengan sangat keras. Kalau kondisi mereka ketika disiksa oleh para malaikat diperlihatkan pada kita, tentu kita akan melihat sesuatu yang sangat mengerikan dan tak dapat digambarkan.

*Hasan al-Bashri* mengatakan, "Ada seseorang yang mengatakan bahwa kepada Rasulullah, ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya aku melihat di punggung *Abu Jahal* ada sesuatu seperti jejak sandal.’ Rasulullah saw. bersabda, 'Itulah bekas pukulan malaikat.”'

Kemudian mereka akan merasakan adzab neraka yang sangat pedih nantinya. Merasakan itu bersifat lahir dan batin. Penyiksaan di dunia dan akhirat bukanlah sesuatu yang zalim karena Allah tidak pernah zalim kepada para hamba setelah Allah menjelaskan jalan-jalan kebenaran, mengutus para rasul, memberi mereka nikmat akal, kemampuan dan menyingkirkan segala penghalang menuju kebenaran.

Jadi sebenarnya tugas mereka hanyalah menyibukkan diri dengan ibadah dan bersyukur serta meninggalkan kekafiran. Kalau mereka tetap berada dalam kekafiran dan kefasikan, berarti mereka telah mengubah nikmat Allah kepada mereka sehingga dengan demikian layak kalau nikmat yang diturunkan pada mereka diganti dengan bencana. Ini bukti yang sangat jelas bahwa Allah tidak pernah memulai untuk menyiksa atau menurunkan bencana kepada seseorang. Yang Dia lakukan hanyalah balasan terhadap kemaksiatan yang mereka lakukan sendiri. Kalau Allah SWT menciptakan mereka, jasad, dan akal mereka sejak semula untuk neraka sebagaimana yang dikatakan sebagian orang tentu hal itu tidak sejalan dengan keadilan, kebijaksanaan, dan kasih sayang Allah SWT. Mereka sebenarnya serupa dengan kaum Fir'aun dalam kekufuran, kemaksiatan, dan pengingkaran terhadap eksistensi dan keesaan Allah, pendustaan terhadap para rasul dan mengganti nikmat yang berhak disyukuri dengan pengingkaran dan pembangkangan.

Sesungguhnya bentuk perubahan nikmat Allah yang dilakukan oleh pengikut Fir'aun dan kaum Musyrikin Mekah adalah dengan membalas nikmat tersebut dengan pengingkaran dan penyembahan terhadap berhala. Dengan demikian, nikmat dan kemakmuran yang dicurahkan pada mereka seperti buahbuahan yang dilimpahkan di Mesir untuk kaum Fir'aun dan rezeki yang melimpah untuk penduduk Mekah akhirnya dicabut dari mereka. Kondisi itu bisa jadi berubah menjadi sesuatu yang lebih buruk lagi. Ketika Allah mengutus para rasul kepada mereka, mereka mendustakannya, memusuhi dan bahkan berniat untuk membunuhnya. Akhirnya, Allah mengubah kondisi mereka kepada yang lebih buruk dari sebelumnya. Nikmat tempo waktu yang diberikan-Nya kepada mereka diganti dengan penyegeraan adzab dan siksaan.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login