AL-BAQARAH (8)
FIQIH KEHIDUPAN DAN HUKUM-HUKUM
[SURAH AL-BAQARAH 35 - 39]
ADAM DAN HAWA TINGGAL DI SURGA DAN SIKAP SETAN TERHADAP MEREKA
Surah al-Baqarah Ayat 35 - 39 (Bagian 1)
Ayat-ayat ini memunculkan beberapa masalah sebagai berikut.
Pertama : Tentang istri Adam yang disebutkan dalam firman-Nya: “Diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini”. Para ahli tafsir membahas cara penciptaan Hawa. Kata mereka: "Ia diciptakan dari tulang rusuk Adam.” Ini didasarkan atas lahiriah firman Allah,
"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya.” (an-Nisaa': 1)
dan firman-Nya :
"Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya.” (al-A'raaf: 189)
Hal ini juga didasarkan atas hadits Abu Hurairah yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, bahwa Nabi saw. pernah bersabda:
"Berbuat baiklah kepada kaum wanita, sebab sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok.”
Dalam sebuah riwayat yang disebutkan oleh Muslim:
"Wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah bagian atasnya. Wanita tidak akan menjadi lurus bagimu tanpa kebengkokan. Kalau engkau menggaulinya, engkau menggaulinya sementara pada dirinya ada kebengkokan. Tetapi kalau engkau hendak meluruskannya, engkau akan mematahkannya, dan mematahkannya adalah menceraikannya.”
Para ulama berkata: Oleh karena itu, wanita bersifat bengkok, sebab ia diciptakan dari benda yang bengkok, yaitu tulang rusuk.''
Argumen dengan kedua ayat di atas dibantah. Banyak di antara ahli tafsir, misalnya ar-Razi, berkata: Yang dimaksud dengan firman-Nya (مِنْهَا) adalah "dari jenisnya”, agar sesuai dengan firman-Nya dalam surah ar-Ruum ayat 21: "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.” Maksudnya, Dia menciptakan istri-istri dari jenis kalian sendiri: Dia bukan menciptakan setiap istri dari badan suaminya.
Adapun hadits di atas diucapkan sebagai perumpamaan keadaan wanita dan kebengkokan perangainya, keadaan tersebut diumpamakan dengan bengkoknya tulang rusuk. Cara demikian mirip dengan firman Allah Ta'ala :
"Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa.” (al-Anbiyaa': 37)
Demikianlah.... Konteks ayat ini menunjukkan bahwa Hawa diciptakan sebelum Adam masuk ke surga. Tetapi ada yang mencuplik perkataan as-Suddi bahwa penciptaan Hawa terjadi setelah masuknya Adam ke surga.
Kedua : Tentang al-jannah (surga). Dalam bahasa Arab, al-jannah artinya taman. Para ulama berbeda pendapat tentang "taman” yang pernah ditinggali Adam, apakah di langit atau di bumi.!!” Mayoritas berpendapat bahwa taman ini adalah surga yang ada di langit, yaitu negeri keabadian dan ganjaran yang disediakan Allah bagi orang-orang beriman pada hari Kiamat, sebab surga ini telah disebutkan sebelumnya di dalam surah ini. Sedangkan mazhab Mu'tazilah dan Qadariyyah berpendapat bahwa ia adalah taman di bumi-bukan surga keabadian-yang diciptakan oleh Allah untuk menguji Adam, terletak di daerah Aden, atau di Palestina, atau di antara Persia dan Kirman. Ini juga pendapat Abu Hanifah, Abu Manshur al-Maturidi, serta mazhab salaf. Dalil mereka: Jika jannah ini adalah surga keabadian, tentu Iblis tak bisa menjangkaunya, sebab *Allah berfirman:*
"Di dalam surga mereka saling memperebutkan piala (gelas) yang isinya tidak (menimbulkan) kata-kata yang tidak berfaedah dan tiada pula perbuatan dosa.” (ath-Thuur: 23)
"Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula perkataan) dusta.” (an-Naba': 35)
"Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa, akan tetapi mereka mendengar ucapan salam.” (al-Waaqi'ah: 25-26)
Alasan lainnya, karena penghuni surga tidak keluar dari sana, sebab Allah berfirman :
"Dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya." (al-Hijr: 48)
Selain itu, surga keabadian adalah tempat kesucian, telah disucikan dari segala kesalahan dan maksiat, padahal Iblis telah berbicara yang tidak-tidak dan berdusta di tempat itu serta Adam dan Hawa telah dikeluarkan dari sana lantaran maksiat mereka. Lagipula bagaimana mungkin Adam, dengan kedekatannya kepada Allah dan akalnya yang waras, meminta syajaratul khuldi (pohon keabadian) sementara dia berada di negeri keabadian dan kerajaan yang tidak akan binasa? Al-Alusi mentarjih pendapat ini.
Namun al-Qurthubi menyanggah dalil-dalil ini. Menurutnya, kata al-jannah yang disebutkan dalam bentuk ma'rifah dengan alif dan lam tidak dipahami selain surga keabadian dalam pengertian masyarakat. Secara logika tidak mustahil Iblis masuk surga untuk menggoda Adam. Adapun ciri-ciri al-jannah, yang disebutkan dalam ayat-ayat yang mereka pakai sebagai argumen, baru terwujud setelah masuknya penghuninya ke sana pada hari Kiamat. Tidak ada halangannya surga menjadi negeri keabadian bagi orang yang dikehendaki Allah untuk hidup kekal di dalamnya sementara orang yang ditakdirkan akan mengalami kematian dikeluarkan dari sana, Para malaikat pun masuk surga dan keluar darinya. Pada malam Isra' Mi'raj Nabi saw. juga memasukinya lalu keluar lagi. Penyucian surga bukanlah faktor yang menghalangi terjadinya maksiat di dalamnya.
Ahlus-Sunnah berijmak bahwa surga keabadian itulah tempat yang semula didiami Adam a.s. lalu ia diturunkan dari sana. Bagaimana mungkin Adam, dengan akalnya yang waras, meminta pohon keabadian sementara dia berada di dunia yang fana? Hal ini bolehboleh saja terjadi, sebagai bentuk keinginan untuk mendapatkan perkara yang paling afdhal dan paling sempurna, sebagaimana sekarang kita di dunia ini berharap hidup kekal di surga.
Ketiga : Tentang pohon. Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan pohon yang terlarang dimakan bagi Adam tetapi akhirnya dimakan juga olehnya. Menurut sebagian ulama, ia adalah pohon anggur, dan oleh karena itulah khamar diharamkan bagi kita. Menurut sebagian yang lain, ia adalah tanaman _as-sunbulah._ Ada pula yang berpendapat bahwa ia adalah pohon tin (ara). Yang benar, sebagaimana dikatakan olah al-Qurthubi, adalah meyakini bahwa Allah Ta'ala telah melarang Adam memakan dari sebatang pohon, tetapi kemudian dia melanggar larangan ini dan memakan buah pohon tersebut.
Mereka juga berbeda pendapat tentang bagaimana dia tetap memakan buah pohon itu padahal larangan itu sudah disertai dengan ancaman yang mengiringi "mendekati pohon itu”, yakni firman-Nya, "yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang lalim” (al-Baqarah: 35) Jawabnya, menurut sebagian ulama, mereka berdua memakan dari pohon selain pohon yang telah ditunjuk. Jadi, mereka tidak menakwilkan larangan tersebut berlaku untuk semua jenis pohon itu. Tampaknya Iblis membujuk mereka agar berpegang kepada lahiriah larangan itu. Artinya, mereka menyangka bahwa yang dimaksud oleh larangan itu adalah sebatang pohon yang khusus, padahal yang dimaksud sebenarnya semua pohon yang berjenis sama. Ini pendapat yang bagus, sebagaimana kata al-Qurthubi. Sebelumnya, ath-Thabari juga mentarjih pendapat ini.
Konon, yang pertama memakan buah pohon itu adalah Hawa, setelah ia dibujuk oleh Iblis. ===
Tafsir Al Munir
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
