AL-BAQARAH (7)
FIQIH KEHIDUPAN DAN HUKUM-HUKUM
[SURAH AL-BAQARAH 34]
TUHAN MEMULIAKAN ADAM DENGAN MEMERINTAHKAN PARA MALAIKAT BERSUJUD KEPADANYA
Surah al-Baqarah Ayat 34
Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah ini adalah bahwa Adam dan keturunannya tidak pantas mendurhakai perintah-perintah Allah. Semestinya mereka menyembah-Nya semata, tanpa berlambat-lambat dan melalaikan, karena Allah SWT telah memuliakan anak Adam dalam firman-Nya "Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam" (al-Israa': 70), menjadikan Adam sebagai khalifah di muka bumi, dan mengajarinya hal-hal yang sebelumnya tidak ia ketahui: "Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya;” (al-Baqarah: 31). Ath-Thabari menulis: Dengan menuturkan kisah Iblis, Allah Ta'ala bermaksud mencela anak cucu Adam yang bersikap serupa dengannya, yaitu orang-orang Yahudi yang ingkar kepada Nabi Muhammad saw. padahal mereka mengetahui kenabiannya dan mereka pun sejak dahulu kala telah mendapat banyak karunia Allah."
Malaikat dan setan adalah arwah yang punya hubungan dengan manusia. Kita tidak mengetahui hakikatnya, tetapi kita beriman kepada nash-nash yang menyebut tentangnya, tanpa membahas bagaimana keadaannya sekarang dan nasibnya kelak.
Sujud ada dua macam. Pertama, sujud ibadah dan penuhanan. Ini dilakukan hanya kepada Allah semata. Sujud ini ada dua bentuk: meletakkan dahi di atas tanah (inilah yang biasa dilakukan dalam shalat) dan tunduk kepada kehendak-Nya, sebagaimana firman-Nya:
"Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya.” (ar-Rahmaan: 6)
"Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri atau pun terpaksa.” (ar-Rad: 15)
Sujud ini, dengan kedua bentuknya, tidak boleh dilakukan kepada selain Allah.
Kedua, sujud salam dan pemuliaan tanpa unsur penuhanan. Misalnya, sujudnya para malaikat kepada Adam dan sujudnya Ya'qub dan putra-putranya kepada Yusuf. Sujud ini, menurut mayoritas ulama, berhukum mubah sejak zaman dulu hingga masa Rasulullah saw.. Para sahabat pernah berkata kepada beliau tatkala ada sebatang pohon dan seekor unta bersujud kepada beliau-, "Kami lebih patut untuk bersujud kepadamu daripada pohon dan unta yang terlepas.” Maka beliau bersabda kepada mereka:
"Tak seorang pun, selain Allah Tuhan alam semesta, yang pantas menerima sujud.”
Nabi saw. pernah melarang bersujud kepada sesama manusia dan memerintahkan berjabat tangan, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya dan al-Busti dalam Shahihnya dari Abu Waqid dari Mu'adz bin Jabal r.a.
Kesimpulan: Umat Islam sepakat bahwa sujud kepada Adam bukan sujud ibadah maupun pengagungan, melainkan sujud berupa salah satu dari dua bentuk: membungkuk sebagai pernyataan salam/sapaan, atau menjadikan Adam sebagai kiblat, seperti menghadap ke arah Ka'bah dan Baitul Maqdis, dan yang kedua ini lebih kuat menurut Ibnul Arabi, dengan dalil firman-Nya, "Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.”
Adapun tentang hakikat Iblis ada dua pendapat di kalangan para ulama.
Pertama, Iblis termasuk golongan jin, dan jin adalah salah satu suku di kalangan malaikat. Mereka diciptakan dari api, dan Iblis berasal dari mereka. Dalilnya jelas dari firman Allah Ta'ala:
"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: Sujudlah kamu kepada Adam', maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya." (al-Kahfi: 50)
Kedua, Iblis adalah salah satu malaikat, sebab perintah sujud ditujukan kepada para malaikat, juga karena lahiriah ayat ini dan ayat-ayat sejenis menunjukkan bahwa Iblis adalah salah satu dari mereka. Kata Ibnu Abbas: "Semula Iblis termasuk golongan malaikat. Karena dia mendurhakai Allah, dia dimurkai sehingga dilaknat dan akhirnya menjadi setan.” *Al-Baghawi* menulis: Inilah yang paling benar sebab perintah sujud ditujukan kepada para malaikat. Sedangkan maksud firman-Nya _"Dia adalah dari golongan jin”_ adalah dia termasuk golongan malaikat yang menjadi penjaga surga. Sa'id bin Jubair berkata, "Artinya, dia termasuk golongan malaikat yang bekerja di surga” Sebagian ulama berkata: "Artinya, dia termasuk malaikat yang membuat perhiasan Yagi penduduk surga.”
Menurut saya, yang lebih kuat adalah pendapat pertama, karena didasarkan pada ayat yang sharih "Dia adalah dari golongan jin”: juga karena Iblis telah mendurhakai perintah Tuhannya, padahal para malaikat tidak mendurhakai perintah Allah.
Kisah penolakan bersujud ini menunjukkan bahwa keengganan melaksanakan perintah-perintah Allah, sikap takabur, dan kebanggaan diri mengakibatkan kekafiran. Penjelasannya: karena Iblis menolak bersujud dan merasa sujud itu terlalu agung bagi Adam (dan menolak sujud kepada Adam berarti menghina perintah Allah dan hikmah-Nya), maka akhirnya dia termasuk golongan orang-orang kafir.
Ada perbedaan pendapat tentang apakah sebelum Iblis ada makhluk yang kafir atau tidak. Menurut sebuah pendapat, tidak ada, Iblis adalah makhluk pertama yang kafir. Menurut pendapat lain, sebelum dia sudah ada kaum yang kafir, yaitu golongan jin yang mendiami bumi. Ada pula perbedaan pendapat tentang apakah Iblis menjadi kafir karena tidak tahu atau karena membangkang. Dalam hal ini ada dua pendapat di kalangan Ahlus Sunnah. Namun tidak ada perbedaan pendapat bahwa Iblis mengetahui Allah Ta'ala sebelum dia kafir. Karena itu, pihak yang berpendapat bahwa dia kafir karena tidak tahu berkata, "Pengetahuannya (tentang Allah) dicabut ketika dia menjadi kafir” Sedangkan pihak yang berpendapat bahwa dia kafir karena membangkang berkata, "Dia kafir padahal masih mengetahui Allah.”
Dari kisah ini dan dari fakta bahwa Allah sebelumnya sudah mengetahui kekafiran Iblis, para ulama mazhab Maliki menarik kesimpulan bahwa siapa pun-yang bukan nabi-yang Allah perlihatkan pada dirinya kesaktian dan hal-hal yang luar biasa maka itu tidak menunjukkan bahwa dia adalah seorang wali. Alasannya, pengetahuan bahwa seseorang di antara kita adalah wali Allah tidak terhitung sah kecuali setelah diketahui bahwa orang itu mati dalam keadaan beriman. Jika belum diketahui bahwa dia mati dalam keadaan beriman, kita tidak dapat memastikan bahwa dia adalah wali Allah, sebab "wali Allah” adalah orang yang diketahui oleh Allah bahwa dia tidak mati kecuali dalam keadaan beriman.===
Tafsir Al Munir
KKTA Plus 4
2025/2026
