SURAH AL-A'RAAF: 199-202

AL-A'RAAF (62)

AL-A'RAAF: 199-202

DASAR-DASAR AKHLAK SOSIAL DAN PERLAWANAN MELAWAN SETAN

FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM

Ayat (خُذِ ٱلْعَفْوَ وَأْمُرْ) mengandung penjelasan tentang dasar-dasar akhlak mulia dan etika-etika sosial. Dasar-dasar akhlak ini berada di urutan kedua setelah dasar-dasar aqidah. Dalam berbagai interaksi, adat kebiasaan dan pergaulan sesama manusia akan tampaklah bagaimana akhlak manusia. Alangkah butuhnya manusia kepada dasar-dasar akhlak ini dalam hubungan mereka dengan orang lain.

Dari tafsiran ayat ini, kami berkesimpulan bahwa dasar-dasar akhlak ada tiga: bersikap pemaaf, artinya berinteraksi dengan toleran, menjelaskan sesuatu dengan lemah lembut dan tidak menimbulkan kesulitan ketika menerima, memberi, dan membebankan sesuatu, termasuk tidak bersikap kaku dan kasar dalam setiap hal yang berhubungan dengan haq-haq harta, bergaul dengan manusia dengan akhlak yang baik, tidak bersikap kasar dan keras, dan mengajak orang lain ke agama yang benar ini dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. Jenis haq-haq seperti ini terbuka untuk sikap toleran dan tidak terlalu kaku.

Kemudian, berbuat ma'ruf, yaitu sesuatu yang secara syari'at, akal, dan kebiasaan dikenal sebagai perbuatan yang baik dan mulia. Jenis haq seperti ini tidak menerima sikap toleran atau menganggap enteng. Masuk dalam kategori ini segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh agama, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Berbagai perintah dan larangan sudah jelas secara hukum dan posisinya yang kukuh dalam syari'at. Tidak ada yang tidak tahu tentang hukum-hukumnya. Individu dan masyarakat dituntut dalam hal ini untuk selalu menyebarkan yang ma’ruf dan mengajak orang lain untuk mengerjakannya serta melarang yang mungkar dan menyembunyikannya.

Kemudian, berpaling dari orang-orang bodoh yang tidak menggunakan akal sehat mereka. Dalam mengajak dan memotivasi orang lain berbuat ma'ruf atau melarang mereka dari perbuatan yang mungkar, boleh jadi ada gangguan dan bahkan siksaan dari beberapa orang yang jahil. Dalam hal ini, yang mesti dilakukan adalah berpaling dan menjauhi mereka guna menghindari gangguan-gangguan mereka dan untuk melindungi seorang da'i dari perilaku jahat mereka, sekaligus untuk menjaga wibawanya dengan tidak membalas kejahatan mereka. Hal ini memerlukan sikap toleran dan kesabaran yang tinggi.

Ketiga perintah akhlak ini, meskipun pada lahirnya ditujukan Allah SWT kepada Nabi-Nya, sesungguhnya hal itu untuk mengajarkan seluruh makhluk-Nya.

Menurut pendapat yang lebih shahih, sebagaimana yang disebutkan oleh *al-Qurthubi, ar-Razi, Ibnu Katsir* dan yang lain, ayat ini bersifat _muhkamah ghair mansukhah_ (ayat yang kukuh dan tidak dihapus), sebagaimana dikatakan oleh *Mujahid dan Qatadah.* Dalil atas hal ini adalah apa yang diriwayatkan oleh *Bukhari* dari *Ibnu Abbas*, ia berkata, "Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah bin Badar datang menemui keponakannya al-Hurr bin Qais bin Hishn. Keponakannya ini termasuk salah seorang yang dekat dengan Umar bin Chaththab.

Orang-orang yang sering berada dalam majelis Umar dan yang sering dimintai pendapatnya adalah para ulama atau ahli Al-Qur'an. Mereka ada yang sudah tua dan ada yang masih muda. Uyainah berkata kepada ponakannya al-Hurr, "Wahai ponakanku, apakah engkau dekat dengan pemimpin itu (maksudnya Umar)? Bisakah engkau mintakan izin agar aku bisa menemuinya?" al-Hurr berkata, "Aku akan mintakan izin untukmu.” Setelah al-Hurr berhasil memintakan izin untuk Uyainah, datang menemui Umar. Setelah berhadapan dengan Umar, Uyainah berkata dengan lantang, "Wahai Ibnu Chaththab, engkau tidak pernah memberi kami yang banyak, dan engkau tidak pernah menghukum secara adil di antara kami." Mendengar hal itu Umar marah, sampai ia berniat untuk menghukumnya. Akan tetapi al-Hurr berkata, "Wahai Amirul Mu'minin, sesungguhnya Allah SWT berfirman kepada Nabi-Nya, (خُذِ ٱلْعَفْوَ وَأْمُرْ بِٱلْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْجَـٰهِلِينَ). Orang ini (maksudnya Uyainah) termasuk seorang yang bodoh (jahil)" Ibnu Abbas melanjutkan, "Demi Allah, ketika Umar mendengar ayat itu dibacakan padanya, Umar langsung tertegun dan terdiam. Umar adalah seseorang yang selalu mengamalkan Kitabullah."

Demikian juga ketika *Isham bin Mushthaliq* mencela *Hasan bin Ali* dan juga ayahnya (*Ali bin Abi Thalib*), Hasan memandanginya dengan penuh lembut dan kasih. Kemudian ia berkata.

_“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Ambillah sikap pemaaf, perintahkanlah yang ma’ruf dan berpalinglah dari orang-orang yang jahil.”_

Konsistensi *Umar dan Hasan bin Ali* pada ayat tersebut adalah bukti bahwa ayat itu muhkamah. Ketika seseorang sengaja berlaku kasar dan merendahkan seorang penguasa, ia berhak untuk dihukum _ta’zir_ (hukuman ringan yang ditentukan oleh penguasa). Namun jika tidak masuk dalam kategori itu, cukup berpaling darinya dan memaafkannya sebagaimana yang dilakukan *Umar*.

Ayat-ayat berikutnya membagi manusia menjadi dua bagian; kelompok beriman yang bertakwa dan kelompok teman-teman setan. Orang-orang beriman yang bertakwa ketika mereka terkena godaan setan atau rayuannya—untuk mengajak mereka melakukan kemaksiatan—mereka segera teringat perintah dan larangan Allah SWT serta pahala dan siksaan-Nya. Dengan demikian, mereka segera dapat melihat kebenaran dengan jelas serta selalu berlaku waspada. Akhirnya, mereka bisa selamat dari godaan tersebut. Kalau seandainya mereka sempat terpeleset ke jurang maksiat, mereka segera menyesali hal itu, bertobat, dan kembali kepada Allah SWT.

Berlindung kepada Allah dari waswas setan dan rayuannya untuk berbuat maksiat adalah dengan cara selalu ingat atas nikmat-nikmat yang Allah limpahkan dan adzab pedih yang Dia siapkan. Kedua hal ini akan membuat seseorang bisa berpaling dari bisikan hawa nafsu dan bersemangat untuk menaati segala perintah syari'at.

Meskipun pembicaraan dalam ayat ini ditujukan kepada Rasul, sebenarnya ia adalah pelajaran dan didikan untuk seluruh manusia. Rasulullah saw. juga terkadang terkena _annazagh_ dari setan. _Nazagh_ adalah awal dari waswas. Terapinya adalah berlindung kepada Allah SWT sebagaimana dijelaskan dalam ayat pertama. Orang-orang yang bertakwa mengalami sesuatu yang lebih berat daripada _nazagh_, yaitu _tha'if_ (godaan) yang ditiupkan oleh setan, sebagaimana dijelaskan oleh ayat (إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟) dan seterusnya.

*Firman Allah SWT (إِنَّهُۥ سَمِيعٌ عَلِيمٌ)*, menunjukkan bahwa meminta perlindungan dengan lisan tidak akan berguna, kecuali jika hadir di dalam hatinya makna meminta perlindungan, seolah-olah Allah mengatakan, _"Bacalah lafal isti'adzah (meminta perlindungan) itu dengan lidahmu karena Aku Maha Mendengar, dan hadirkanlah maknanya dalam pikiran dan hatimu karena Aku Maha Mengetahui apa yang ada di dalam jiwamu._

Senada dengan ayat ini, hadits yang terdapat di dalam *Shahih Muslim* dari *Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda.*

_“Akan datang setan pada kalian lalu ia akan membisikkan, “Siapa yang menciptakan ini dan itu?” Sampai akhirnya ia akan membisikkan, “Siapa yang menciptakan Tuhanmu?” Kalau ia sudah sampai ke tahap ini, hendaklah kalian berlindung kepada Allah dan berhentilah (mendengar bisikan itu)”_ *(HR Bukhari dan Muslim)*

Penafsiran (seperti) ini mengombinasikan dua pendapat dalam membahas maksud dari teman-teman setan dalam ayat di atas. Pendapat pertama—dan ini yang kuat menurut *ar Razi*—mengatakan bahwa setan-setan manusia berusaha menyesatkan manusia. Sementara pendapat kedua—ini yang lebih kuat menurut *Zamakhsyari* karena penyebutan katakata 'teman-teman setan’ adalah lawan dari penyebutan ‘orang-orang yang bertakwa'— bahwa setan-setan dari kalangan jin menjadi bantuan bagi setan-setan dari kalangan manusia. Kedua pendapat ini berdasarkan pendapat bahwa setiap orang kafir memiliki seorang saudara dari kalangan setan.

Intinya, setan berhasil menguasai para pelaku kemaksiatan. Setan membantu dan menyokong mereka untuk melakukan berbagai kesesatan dan kemaksiatan. Mereka tidak pernah berhenti melakukan itu, sehingga Anda bisa menyaksikan mereka selalu saja berada dalam kejahatan, kekafiran, dan perbuatan dosa. Ayat di atas sebelumnya ditafsirkan dengan menggunakan pendapat kedua, yang dimaksud dengan 'bantuan' setan dalam hal ini adalah penguatan rasa waswas dan selalu berada dalam kondisi tersebut.

Teman-teman setan—yang dimaksud di dalam ayat ini—adalah setan yang berwujud manusia, orang-orang durjana dari jenis manusia yang sesat, kaum kafir, atau kaum musyrik. Mereka dibantu oleh setan dalam kesesatan dan kedurjanaan. Mereka juga berusaha menyesatkan manusia secara tidak langsung ini merupakan bantuan dari mereka kepada para setan dan jin dalam usaha mereka untuk selalu menyesatkan dan menjerumuskan manusia. Jadi, di antara dua kelompok ini terjadi saling tolong menolong dalam dosa dan kesesatan. Mereka disebut sebagai teman-teman setan karena mereka menerima setiap ajakan dan bisikan setan.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login