AL-A'RAAF (61)
AL-A'RAAF: 194-198
REALITAS PATUNG-PATUNG DAN BERHALA-BERHALA YANG DISEMBAH
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Ayat-ayat di atas merupakan bantahan terhadap para penyembah berhala dan penegasan terhadap ayat-ayat sebelumnya tentang tidak berguna dan bermanfaatnya menyembah patung-patung tersebut. Ayat-ayat tersebut menunjukkan beberapa hal.
1. Sangat memalukan bagi seorang yang berakal sehat menyembah patung-patung yang sama sekali tidak memiliki kekuatan karena mereka tidak memiliki kaki, tangan, mata, dan telinga. Padahal, sesuatu yang disembah seharusnya memiliki sifat-sifat yang sempurna. Justru manusia itu sendiri yang lebih mulia dari pada patung-patung yang mereka sembah dan hal itu sebenarnya tidak bisa dibanding-bandingkan. Jadi, apakah layak, seorang makhluk yang lebih mulia dan sempurna menyembah sesuatu yang jauh lebih rendah dan hina yang tidak bisa diharapkan memberi keuntungan apa-apa, tidak bisa memberi manfaat dan juga tidak dapat menolak bahaya? Patung-patung tersebut bukanlah makhluk yang sama seperti manusia. Akan tetapi, ia hanyalah batu dan kayu. Jadi, kalian telah menyembah sesuatu yang kalian (sendiri) lebih mulia darinya.
2. Manusia lebih utama dan lebih sempurna dari patung-patung tersebut karena manusia memiliki kaki untuk berjalan, tangan untuk memegang, mata untuk melihat, dan telinga untuk mendengar. Sementara patung-patung tersebut, sama sekali tidak memilikinya.
3. Apakah pantas menyembah sesuatu yang tidak mampu memberikan manfaat maupun mudharat? Patung-patung tersebut tidak memiliki kemampuan untuk memberikan manfaat atau mudharat, tidak untuk dirinya sendiri dan tidak pula untuk orang lain, la juga tidak mampu membantu siapa pun.
4. Sesungguhnya ancaman yang diberikan kaum musyrikin terhadap Rasul saw. dengan menggunakan Tuhan-tuhan mereka adalah sesuatu yang percuma dan sia-sia. Beliau bahkan menantang mereka untuk ditimpakan bahaya kepadanya tanpa perlu memberi tempo waktu. Akan tetapi, mereka tidak mampu berbuat apaapa, baik mereka maupun tuhan-tuhan mereka.
5. Sesungguhnya yang melindungi dan mengatur seluruh urusan Nabi saw. di dunia dan akhirat dengan menjaga dan memeliharanya adalah Allah SWT, yang juga melindungi dan menjaga hamba-hamba-Nya yang saleh. Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Amru bin al-Ash, ia berkata. Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda dengan lantang tanpa sembunyi-sembunyi,
"أَلَا إِنَّ آلَ فُلَانٍ وَفُلَانٍ لَيْسُوا لِي بِأَوْلِيَاءَ، إِنَّمَا وَلِيِّيَ اللَّهُ وَصَالِحُو الْمُؤْمِنِينَ."
_“Ketahuilah, sesungguhnya kaum fulan dan fulan bukanlah para pelindungku. Pelindungku hanyalah Allah dan orang-orang beriman yang saleh"_ *(HR Bukhari dan Muslim)*
6. Yang semestinya dilakukan oleh seorang yang berakal adalah menyembah Allah SWT karena Dia yang mampu mewujudkan manfaat agama dengan menurunkan Al-Qur'an yang mengandung berbagai macam ilmu dalam agama dan manfaat dunia dengan menjaga, memelihara dan membantu hamba-hamba-Nya yang saleh sehingga mereka tidak peduli dengan permusuhan dari setiap orang-orang yang memusuhi mereka.
Alangkah luar biasanya, contoh nyata, yang ditampakkan oleh seorang Khalifah yang sangat adil, yaitu *Umar bin Abdul Aziz* dalam mengamalkan ayat tersebut, la tidak pernah menyimpan harta apa pun untuk anak-anaknya. Ketika hal itu ditanyakan padanya, ia berkata, "Anak-anakku boleh jadi nanti menjadi orang-orang yang saleh atau orang-orang yang jahat. Kalau mereka menjadi orang-orang yang saleh, pelindung dan penolong mereka adalah Allah, dan siapa yang Allah menjadi penolongnya ia tidak butuh kepada hartaku. Namun seandainya mereka adalah orang-orang jahat, *Allah SWT berfirman*,
_"Aku tidak akan menolong orang-orang yang jahat."_ *(al-Qashash: 17)*
Siapa yang ditolak oleh Allah, aku tidak perlu menyibukkan diri untuk memperbaiki kondisinya."
7. Allah SWT sering mengulang-ulang penyebutan patung-patung tersebut bahwa ia tidak mampu menolong para penyembahnya dan juga dirinya sendiri. Tujuan pengulangan ini adalah untuk menjelaskan bahwa yang pertama disebutkan dalam bentuk taqri’ (menjelaskan bodohnya mereka) dan yang kedua disebutkan sebagai penjelasan tentang perbedaan antara siapa yang layak untuk disembah dan siapa yang tidak layak. Tuhan yang layak disembah adalah yang bisa memberi perlindungan dan bantuan terhadap hamba-hamba yang saleh. Sementara itu, patung-patung tersebut sama sekali tidak bisa membantu siapa pun, jadi ia tidak layak dianggap sebagai tuhan.
8. Patung-patung tersebut hanyalah benda-benda mati yang dibuat, lalu diberi mata dari tembaga atau perhiasan yang mengkilat agar seolah-olah ia melihat, padahal sebenarnya ia adalah benda mati yang tidak dapat melihat. Oleh karena itu Allah berfirman dalam ayat di atas (وَتَرَىٰهُمْ يَنظُرُونَ ), Allah SWT menggunakan ungkapan yang seolah-olah mereka adalah makhluk yang berakal dan dengan kata ganti untuk manusia karena ia dibentuk seperti manusia. *Imam as-Sudi dan Mujahid* mengatakan, "Yang dimaksud di sini adalah orang-orang musyrik." *Ibnu Katsir* berkata, "Pendapat yang pertama tadi lebih tepat. Itu adalah pendapat *Qatadah*, dan dipilih oleh *Ibnu Jarir*."===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
