AL-A'RAAF (8)
AL-A'RAAF: 28-30
PENETAPAN HUKUM ORANG-ORANG MUSYRIK ADALAH MENGIKUTI NENEK MOYANG, PENETAPAN HUKUM ALLAH ADALAH WAHYU KEPADA RASUL-NYA
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Ayat-ayat tersebut menunjukkan hal-hal berikut:
1. Taklid kepada nenek moyang dan para pendahulu adalah tertolak secara akal dan tabiat kemanusiaan sebab Allah memberikan keistimewaan kepada manusia dengan akal yang dengannya dia bisa membedakan antara yang haq dan yang batil, jika nenek moyang dalam kebenaran dan kebaikan, boleh diikuti dan ditiru, jika mereka dalam kesesatan dan kejelekan, wajib menjauhi metode dan jalan mereka. Kalau tidak demikian, mereka ada dalam kebodohan dan kesalahan.
2. Allah tidak memerintahkan, kecuali keadilan dan istiqamah. Dia bebas dari perintah perbuatan keji, mungkar, dan maksiat.
3. Yang wajib dilakukan oleh Mukmin dalam ibadahnya kepada Tuhannya adalah dua perkara, yaitu hendaklah perbuatannya itu sesuai dengan kebenaran yang ditetapkan oleh syari'ah dan hendaklah bebas dari syirik. Maksudnya, hendaklah hanya memurnikan ibadah dan ketaatan karena Allah, serta menjauhi sisi-sisi kesalahan dan penyimpangan.
4. Pengembalian makhluk dengan membangkitkan seperti halnya mulai diciptakan, bahkan ini lebih mudah, sebagaimana *firman-Nya:*
_“Dan Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya."_ *(ar-Ruum: 27)*
5. *Ar-Razi* berkata, "Sesungguhnya Allah SWT dalam ayat (قُلْ أَمَرَ رَبِّى بِٱلْقِسْطِ ۖ) memerintahkan tiga hal. _Pertama_, Dia memerintahkan keadilan, yaitu ucapan _Laa Ilaha Illallah_. Ini mencakup pengetahuan tentang Allah pada Zat-Nya, perbuatan dan hukum-hukum-Nya. Kemudian, mengetahui bahwa Dia Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. _Kedua_, Dia memerintahkan shalat, yakni *firman-Nya (وَأَقِيمُوا۟ وُجُوهَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍۢ)*. _Ketiga,_ Dia memerintahkan untuk menyembah-Nya dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya.
6. Semua manusia, ketika diciptakan, tercipta dalam keadaan fitrah tauhid dan mengetahui Allah SWT. Kemudian, keadaan sebagian dari mereka berubah karena pengaruh lingkungan, pendidikan dan orientasi di rumah, sekolah, dan masyarakat.
Allah SWT menambahi orang-orang Mukmin hidayah dan taufik mendapatkan kebaikan setelah memberinya hidayah, pokok tauhid, dan mengetahui Allah, serta bukti kesesatan pada orang kafir karena mendengarkan bisikan-bisikan setan.
- ( إِنَّهُمُ ٱتَّخَذُوا۟ ٱلشَّيَـٰطِينَ أَوْلِيَآءَ مِن دُونِ ٱللَّهِ) *Ibnu Jarir ath-Thabari* mengatakan "Ini adalah dalil paling jelas yang menunjukkan kesalahan orang yang menyangka bahwa Allah SWT tidak menyiksa seseorang karena maksiat yang dilakukan atau kesesatan yang diyakini, kecuali jika dia melakukannya setelah mengetahui kebenaran pendapatnya. Lalu, dia melakukan maksiat karena kesombongannya kepada Tuhannya sebab kalau demikian halnya, maka tidak ada perbedaan antara kelompok sesat yang sesat, sementara dia menduga mendapatkan petunjuk dan kelompok hidayah. Padahal, Allah telah membedakan antara nama-nama-Nya dan hukum-hukum-Nya dalam ayat ini.” Artinya siksa Allah bukan hanya terjadi untuk kondisi kesombongan dan mengetahui yang benar, tetapi bisa jadi siksa terjadi dalam pada kondisi ketidaktahuan, penyimpangan, dan kesalahan dalam menjelaskan kebenaran.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
