SURAH AL-AN'AAM: 161-164

AL-AN'AAM (50)

AL-AN'AAM: 161-164

MENGIKUTI AGAMA NABI IBRAHIM DALAM TAUHID, IBADAH, DAN KEPRIBADIAN

FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM

Dalam kehidupan, ada dua sisi yang berlawanan, yaitu perpecahan dan persatuan. Agama Allah tidak lepas dari pengaruh dua sisi ini. Ketika menjelaskan bahwa orang-orang kafir berpecah belah, Allah menjelaskan bahwa Dia telah memberi hidayah kepada para nabi dan juga Rasulullah saw. kepada agama yang lurus, yakni agama Nabi Ibrahim.

Agama yang benar dan lurus menghendaki agar semua aktivitas keagamaan untuk tunduk kepada Allah SWT. Hamba hanya mengarahkan shalat, ibadah, manasik, sembelihannya, dan semua kurban dan amal perbuatannya dalam hidup dan wasiatnya setelah dia mati kepada Aliah semata. Pasalnya, Allah SWT adalah pencipta alam, pengatur. Tuhan semua alam dan makhluk. Setiap manusia yang berakal mengesakan Allah dengan mendekatkan diri melalui amal perbuatan dan ketaatan-ketaatan, bukan kepada yang lain sebab Dia adalah Tuhan yang berhak disembah karena Zat-Nya. Dia adalah sumber kebaikan dan maslahat bagi manusia dan pelindung dari bahaya dan mudharat.

*Firman Allah SWT (قُلْ إِنَّنِى هَدَىٰنِى رَبِّىٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍۢ مُّسْتَقِيمٍۢ) sampai pada (إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ)* dijadikan *Imam Syafi'i* sebagai _dalil doa iftitah_ dalam shalat. Allah SWT memerintahkan hal itu kepada Nabi-Nya dan menurunkannya dalam kitab-Nya. *Dalam hadits Ali:*

عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قَالَ:
"وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ- وَاَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ.

_"Bahwa Nabi Muhammad saw. ketika mulai shalat membaca "wajjahtu wajhiya lilladzi fatharassamaawati wal ardha hanifan wa maa ana minal musyrikin. Inna sholaati wa nusuuki wa mahyaaya wa mamaati lillahi rabbil alaamin,* sampai firman-Nya, "wa ana awwalul Muslimin!**_

*Muslim* juga meriwayatkan hadits ini dari Ali, tersebut dalam hadits itu setelah kalimat (وَاَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ.) ada kalimat:

اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ، ظَلَمْتُ نَفْسِي وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا، إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ. وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ. لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ.
أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

_"Ya Allah, Engkau adalah sang raja, tidak ada Tuhan selain Engkau. Engkau adalah Tuhanku dan aku hamba-Mu. Aku menzalimi diriku, aku mengakui dosaku, maka ampunilah semua dosaku. Sesungguhnya, tidak ada yang mengampuni dosa-dosa selain Engkau. Tunjukilah aku akhlak yang paling bagus, tidak ada yang menunjukkan pada akhlak yang paling bagus kecuali Engkau, palingkanlah dariku akhlak yang buruk, tidak ada yang memalingkan akhlak yang buruk dariku kecuali Engkau. Aku menyambut panggilanmu, kebahagiaan atas-Mu. Semua kebaikan di tangan-Mu. Keburukan tidak kepada-Mu. Mahasuci Engkau dan Maha Luhur. Aku memohon ampu kepadaMu dan bertobat kepada-Mu.**_ *(HR Muslim)*

*Ad-Daruquthni* juga meriwayatkan di akhir riwayat, dia mengatakan "Sampai kepadaku dari an-Nadhr bin Syumail, dia termasuk ulama bahasa dan lainnya, dia berkata, 'Makna sabda Nabi bahwa keburukan tidak kepada-Mu adalah bahwa keburukan tidak termasuk yang bisa dijadikan untuk mendekatkan diri kepadamu." 

*Imam Malik* tidak mewajibkan _tawajjuh_ dalam shalat (sebagaimana Imam Syafi'i). Tidak pula ucapan _"subhanakallahumma wa bihamdika.”_ Yang wajib adalah takbir kemudian membaca surah, dengan dalil sabda Nabi Muhammad saw. kepada seorang badui yang diajari shalat:

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ، ثُمَّ اقْرَأْ 

_“Jika kamu shalat, bacalah takbir kemudian membaca surah.”_

Nabi tidak bersabda, bacalah tasbih, sebagaimana pendapat *Abu Hanifah*, tidak pula ucapkan _"wajjahtu wajhi,"_ sebagaimana yang dikatakan *asy-Syafi'i*. *Nabi Muhammad saw. berkata kepada Ubay,* _“Bagaimana kamu membaca ketika mulai shalat?”_ Dia berkata, "Aku mengucapkan, _“Allahu akbar wal hamdu lillahi rabbil ‘alamin."_ *Ubay* tidak menyebut _tawajjuh_ atau _tasbih_.

Nabi Muhammad saw. adalah yang pertama kali berislam. Jika ada ada yang mengatakan bukankah Nabi Ibrahim dan nabi-nabi sebelumnya telah berislam lebih dahulu? *Al-Qurthubi* menjawab dengan tiga jawaban.

_Pertama,_ dia adalah makhluk pertama kali dari sisi makna, sebagaimana tersebut dalam hadits *Abu Hurairah* dari *sabda Nabi Muhammad saw.:*

"نَحْنُ الْآخِرُونَ الْأَوَّلُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، نَحْنُ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ."

_"Kita adalah orang-orang hidup terakhir, yang pertama pada hari Kiamat. Kita adalah orang yang pertama masuk surga!'_

Dalam hadits *Hudzaifah:*

"نَحْنُ الْآخِرُونَ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا، الْأَوَّلُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، الْمَقْضِيُّ لَهُمْ قَبْلَ الْخَلَائِقِ."

_“Kita adalah yang terakhir dari penduduk bumi, yang diadili pertama kali pada hari Kiamat sebelum kaum-kaum yang lain.”_

_Kedua,_ dia adalah yang pertama karena dia lebih dulu dalam penciptaan daripada yang lain. *_Allah SWT berfirman:_*

_“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari para nabi dan dari engkau (sendiri), dari Nuh.”_ *(al-Ahzaab: 7)*

*Qatadah* berkata, "Sesungguhnya Nabi Muhammad saw., sebagaimana diriwayatkan oleh *Ibnu Sa’ad* bersabda:

"أَنَا أَوَّلُ النَّاسِ خَلْقًا، وَآخِرُهُمْ بَعْثًا."

_“Aku adalah manusia pertama yang diciptakan, yang paling akhir diutus.”_

Oleh karena itu dia disebut lebih dulu daripada Nabi Nuh dan lainnya.

_Ketiga_, maksudnya ialah yang berislam pertama kali dari umatnya, sebagaimana pendapat *Qatadah, Ibnu al-Arabi,* dan lainnya.

Adapun *firman Allah SWT (قُلْ أَغَيْرَ ٱللَّهِ أَبْغِى رَبًّۭا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَىْءٍۢ ۚ)* sebab turunnya adalah orang-orang kafir berkata kepada Nabi Muhammad saw., "Kembalilah kamu wahai Muhammad kepada agama kami, sembahlah tuhan-tuhan kami, tinggalkanlah apa yang ada padamu. Kami akan menjamin untukmu semua pengikut yang kamu harapkan di dunia dan akhiratmu." Turunlah ayat tersebut. Ini adalah pertanyaan yang menunjukkan penegasan dan celaan.

*Firman Allah SWT (وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلَّا عَلَيْهَا ۚ)* menunjukkan bahwa seseorang tidak ditindak kecuali kemaksiatan yang dilakukan, kesalahan yang diperbuat.

Ayat ini dijadikan oleh *Imam Syafi'i* sebagai dalil bahwa jual beli yang dilakukan oleh orang yang tidak mempunyai hak atas barang adalah tidak boleh.

*Kalangan Malikiyyah* menolak pendapat itu dan mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ayat ini bukan menanggung pahala dan dosa di dunia. Dengan dalil *firman-Nya (وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌۭ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۚ)* jual beli yang dilakukan oleh orang yang tidak berhak atas barang menurut Malikiyyah dan Hanafiyyah tergantung izin pemilik. Jika dia mengizinkan, boleh dengan dalil bahwa Urwah al-Barqi menjual kepada Nabi Muhammad saw., membeli, dan membelanjakan dengan tanpa melalui perintahnya, lalu beliau membolehkannya. Dalam hadits ini, ada petunjuk mengenai kebolehan wakalah yang disepakati oleh para ulama, sebagaimana menunjukkan bahwa al-Wakil (orang yang mewakili) kalau membeli barang dengan uang yang diberikan kepadanya-misalnya satu dinar atau satu dirham untuk satu rithl daging, tetapi dia membeli empat rithl daging dengan jenis yang sama, semuanya berpendapat mengharuskan orang yang mewakilkan menerima jika barang yang dibeli sesuai dengan sifat dan jenis yang disyaratkan. Pasalnya, orang yang mewakili melakukan perbuatan baik. Ini adalah pendapat Malikiyyah dan dua murid Abu Hanifah. Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa tambahan adalah untuk pembeli. Hadits Urwah adalah hujjah bagi yang membantahnya.

*Firman Allah SWT (وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌۭ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۚ)* menunjukkan penetapan prinsip tanggung jawab pribadi. Ini adalah salah satu kemuliaan agama Islam yang agung. Ayat ini mempunyai kemiripan-kemiripan dengan ayat-ayat lain, seperti,

_“Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya."_ *(ath-Thuur: 21)*

_“Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya."_ *(al-Muddatstsir: 38)*

_“Katakanlah, ‘Kamu tidak akan dimintai tanggung jawab atas apa yang kami kerjakan dan kami juga tidak akan dimintai tanggung jawab atas apa yang kamu kerjakan."_ *(Saba': 25)*

Prinsip yang ditetapkan dalam ayat-ayat ini adalah bantahan terhadap apa yang ada pada orang-orang Arab jahiliyyah tentang pengambilalihan seseorang atas dosa ayah, anak, dan sekutunya. Hal itu diperkuat dengan hadits yang diriwayatkan oleh *Abu Dawud* dari ayahnya, *Ramtsah*, dia berkata, "Aku pergi bersama ayahku ke tempat Nabi Muhammad saw., lalu aku berkata kepadanya, ‘Ini anakmu?’ Dia menjawab, ‘Ya, demi Tuhan Ka'bah’. Nabi bertanya, ‘Benar?’ Dia menjawab, ‘Aku bersaksi’. Dia berkata, ‘Lalu, Nabi tersenyum lebar karena bukti kemiripanku dengan ayahku dan karena sumpah ayahku kepadaku. Kemudian, Nabi bersabda, ‘Ketahuilah, sesungguhnya dia tidak berbuat dosa atasmu, tidak pula kamu berbuat dosa atas dia’, lalu *Rasulullah saw. membaca (وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌۭ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۚ)*

Adapun *firman Allah SWT*:

_“Dan mereka benar-benar akan memikul dosa-dosa mereka sendiri, dan dosa-dosa yang lain bersama dosa mereka."_ *(al-'Ankabuut: 13)*

Itu menjelaskan ayat lain, yakni *firman Allah SWT,*

_“Mereka pada hari Kiamat memikul dosa-dosanya sendiri secara sempurna, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan)."_ *(an-Nahl: 25)*

Maksudnya, orang yang menyesatkan juga menanggung dosa para pengikut kesesatan. Orang yang menjadi pemimpin kesesatan serta menyeru kepada kesesatan dan diikuti oleh orang-orang, dia menanggung dosa orang yang disesatkan tanpa ada pengurangan dosa orang yang menyesatkan.====

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login