SURAH AN-NISAA': 131-134

AN-NISAA' (72)

AN-NISAA': 131-134

KEPUNYAAN ALLAH-LAH HAKIKAT KEPEMILIKAN DI ALAM SEMESTA SERTA KESEMPURNAAN KUASA DAN KEHENDAK, PAHALA DUNIA DAN AKHIRAT BAGI MUJAHID

FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM

Hal yang dapat dipetik dari ayat-ayat di atas adalah mengetahui dan memahami informasi-informasi yang pasti dan permanen dalam wahyu Ilahi sejak permulaan penciptaan, juga dalam setiap agama, dan bagi setiap orang yang beramal dan berjihad di jalan Allah SWT yaitu seperti berikut:

1. Segala apa yang ada di langit dan bumi adalah milik Allah SWT, makhluk ciptaan-Nya, berada di bawah otoritas dan kekuasaan-Nya.

2. Perintah bertakwa dengan menjalankan perintah-perintah Ilahi dan menjauhi larangan-larangan-Nya bersifat umum untuk semua umat. Ada sebagian orang arif bertutur, "Ayat (وَلَقَدْ وَصَّيْنَا) adalah poros ayat-ayat Al-Qur’an karena semua kandungan Al-Qur'an berkisar seputar ayat ini.

3. Kemaksiatan dan kekufuran para hamba sama sekali tidak menimbulkan mudharat sedikit pun terhadap Allah SWT. Begitu juga, ketaatan dan keimanan hamba sedikit pun tidak memberikan suatu kemanfaatan kepada-Nya.

Ayat (وَلِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ) disebutkan berulang, yaitu pada ayat 131 dan 132. Hal ini adakalanya berfungsi untuk mempertegas dan menguatkan, supaya para hamba tersadar dan memerhatikan apa yang ada di kerajaan dan kekuasaan Allah SWT dan bahwa Dia Mahakaya (sama sekali tidak butuh suatu apa pun) dari alam semesta. Adakalanya pengulangan penyebutan ayat tersebut adalah karena beberapa faedah, yaitu pertama-tama Allah SWT mengabarkan bahwasanya Dia memberikan kecukupan kepada masing-masing dari limpahan karunia-Nya, karena kepunyaan Allah-lah segala apa yang di langit dan di bumi, dan sekali-kali perbendaharaan dan gudang-gudang-Nya tidak akan pernah habis.

Selanjutnya *Allah SWT berfirman*, _"Kami mewasiatkan dan memerintahkan kepada kalian dan kepada Ahlul Kitab untuk bertakwa, dan jika kalian kufur, maka sesungguhnya Allah SWT Maha Kaya dan sedikit pun tidak butuh kepada kalian, karena kepunyaan-Nya segala apa yang di langit dan di bumi."_

Kemudian berikutnya, dalam ayat (وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ وَكِيلًا) Allah SWT memberitahukan bahwa Dia Yang menjaga, mengurus, dan mengatur segala urusan dan perkara mereka karena kepunyaan-Nyalah segala apa yang di langit dan di bumi.

Di sini, digunakan kalimat (مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ) bukan (مَن فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ), karena yang dimaksudkan adalah jenis, sementara di langit dan di bumi ada makhluk yang berakal dan makhluk yang tidak berakal.

Kesimpulannya adalah penyebutan ayat (وَلِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۚ) secara berulang di sini adalah untuk menancapkan dan mengukuhkan keyakinan dan aqidah bahwa segala sesuatu dari karunia Allah SWT. Juga, untuk memublikasikan bahwa sesungguhnya Allah SWT Mahakaya dan sama sekali tidak butuh kepada makhluk sehingga Dia sama sekali tidak terkena suatu kemudharatan sedikit pun dengan kekufuran para hamba, dan juga untuk menjelaskan bahwa Allah-lah Yang menjaga, mengawasi, dan mengatur makhluk-Nya.

4. Allah SWT memiliki kehendak bebas dan kuasa mutlak untuk melenyapkan orang-orang musyrik, orang-orang munafik dan setiap pembangkang, lalu mewujudkan kaum yang lain sebagai ganti mereka, yang kaum itu lebih taat kepada Allah SWT dari yang ada sekarang.

Ayat (إِن يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ) mengandung ancaman dan peringatan untuk setiap orang yang memegang suatu jabatan, otoritas dan kepemimpinan, lalu ia tidak berlaku adil kepada rakyatnya, atau orang yang berilmu lalu ia tidak mengamalkan ilmunya dan tidak menasihati orangorang, bahwa jika ia berlaku seperti itu, hendaklah ia takut Allah SWT membinasakan dan menggantinya dengan yang lain.

_Qudrah_ (kuasa, mampu) adalah sifat azali Allah SWT yang cakupannya tiada batas sebagaimana cakupan ilmu-Nya juga tiada batas. Dalam hal ini, penggunaan bentuk kata _maadhi_ seperti (وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ قَدِيرًۭا ), maupun _mustaqbal (mudhaari')_ adalah bermakna sama. Namun kenapa yang dipilih adalah bentuk kata _maadhi_, adalah karena untuk mengantisipasi supaya jangan sampai muncul persepsi atau asumsi bahwa Allah SWT adalah hadiits (baru) dalam Zat dan sifat-Nya. _Qudrah_ adalah kuasa dan mampu untuk melakukan sehingga tidak mungkin sifat ini dibarengi dengan keberadaan sifat _al'Ajz_ (lemah, tidak kuasa, tidak mampu).

5. Barangsiapa yang mengerjakan apa yang diwajibkan oleh Allah SWT karena mencari dan menginginkan akhirat, Allah SWT akan memberikan kepadanya di akhirat. Barangsiapa yang mengerjakan hal itu karena mencari dunia, Allah SWT memberi sesuai yang telah ditetapkan untuknya di dunia, sedang di akhirat ia tiada mendapatkan suatu pahala karena ia beramal karena selain Allah SWT. Hal ini sebagaimana *firman-Nya* dalam ayat,

_"Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barangsiapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat"_ *(asy-Syuuraa: 20)*

_“Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan."_ *(Huud: 16)*

Ini jika yang dimaksud dalam ayat ini adalah orang-orang munafik dan orang-orang kafir dan ini adalah penafsiran yang dipilih oleh *ath-Thabari*.

Namun yang benar, sebagaimana yang disebutkan oleh *Ibnu Katsir*, bahwa ayat ini bersifat umum dan maknanya pun sudah jelas. Oleh karena itu, janganlah seseorang memiliki keinginan berusaha dan beramal hanya untuk dunia semata, tetapi hendaklah ia memiliki keinginan dan tekad yang luhur untuk meraih keinginan-keinginan yang luhur di dunia dan akhirat.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login