AN-NISAA' (40)
AN-NISAA': 48
DOSA YANG DIAMPUNI DAN DOSA YANG TIDAK DIAMPUNI
SEBAB TURUNNYA AYAT
*Ibnu Abi Hatim dan ath-Thabrani* meriwayatkan dari *Abu Ayyub al-Anshari* yang menceritakan bahwa ada seorang laki-laki datang menghadap Rasul dan berkata kepada beliau. "Saya mempunyai keponakan laki-laki yang tidak henti-hentinya melakukan keharaman." Rasul bertanya,'Agamanya apa?" Orang itu menjawab, "Dia shalat dan beriman bahwa Allah adalah satu." Rasul kemudian berkata kepada laki-laki tersebut, "Mintalah agamanya darinya. Kalau dia tidak mau, belilah agamanya itu." Lalu laki-laki tersebut meminta agama anak saudaranya itu, namun anak saudaranya tersebut enggan memberikannya. Akhirnya laki-laki itu kembali menghadap Rasul lagi dan berkata, "Dia memegang erat agamanya". Akhirnya turunlah ayat ini.
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Ayat ini menerangkan besarnya dosa syirik dan menegaskan bahwa dosa tersebut tidak akan diampuni. Namun karena _fadhal_ dan kasih sayang Allah, dosa-dosa lain selain syirik ada kemungkinan diampuni oleh Allah apabila Dia menghendaki.
*Menyekutukan Allah ada dua macam:*
1. Syirik dalam masalah _uluuhiyyah_, yaitu menetapkan keberadaan zat lain selain Allah yang diyakini mempunyai kekuasaan dan mampu mengatur alam raya.
2. Syirik dalam masalah _rubuubiyyah,_ yaitu meyakini bahwa selain Allah, manusia juga berkuasa menetapkan syari'at dan keterangan hukum halal-haram tanpa wahyu. Ini sesuai dengan *firman Allah SWT:*
_"Mereka menjadikan orang-orang alim (Yahudi), dan rahib-rahibnya (Nasrani sebagai tuhan selain Allah, dan (juga) al-Masih putra Maryam."_ *(at-Taubah: 31)*
*Nabi Muhammad saw.* menafsirkan ayat ini dengan ketaatan dan kepatuhan Ahlul Kitab kepada keputusan hukum halal haram yang ditetapkan oleh orang-orang alim dan para rahib.
Ayat ini juga mengisyaratkan bahwa Ahlul Kitab telah menjadikan Uzair dan Isa al-Masih sebagai Tuhan. Mereka juga menganggap orang-orang alim serta para rahib mempunyai kekuasaan penuh dalam menetapkan hukum halal dan haram.
Alasan kemusyrikan sangat dikecam adalah karena kemusyrikan merupakan bentuk kebohongan yang sangat nyata. Dengan kemusyrikan, timbullah pola berpikir khurafat dan kebatilan. Kemusyrikan juga menjadi sumber munculnya berbagai dosa yang dapat menghancurkan kehidupan individu manusia dan juga merusak tatanan hidup bermasyarakat.
Selain itu, kemusyrikan juga bertentangan dengan logika sehat, nurani yang bersih, dan jiwa yang suci. Kemusyrikan dapat menghalangi hati seseorang untuk mendapat cahaya keimanan. Ketauhidan dapat menimbulkan kemuliaan jiwa membebaskan manusia dari penghambaan kepada orang atau benda lain yang ada di jagat raya. Dengan tauhid, seseorang hanya akan mengabdikan dirinya kepada Allah, ikhlas dan bertawakal kepada-Nya. Dengan demikian, jiwa akan merasa tenteram, hati merasa tenang, jiwa menjadi suci, dan pandangan menjadi cerah. Orang yang mempunyai ketauhidan akan mendapatkan pertolongan dari Allah, memenuhi tuntutan fitrah nurani, bersandar kepada sumber yang hakiki, memercayai dengan sepenuh hati kepada Zat yang berkuasa mencelakakan dan menyukseskan manusia di dunia serta berkuasa melakukan apa saja di akhirat.
Di antara cara untuk meminta ampun kepada Allah -namun keputusannya tetap berdasarkan kehendak Allah- adalah berdoa dengan penuh keimanan, keikhlasan, kesinambungan, prasangka baik kepada Allah dan terus-menerus melakukan kebajikan. *Allah SWT berfirman:*
_"Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesolehan-kesolehan."_ *(Huud: 114)*
Selain itu dengan cara bertobat secara sungguh-sungguh sebagaimana yang diperintahkan oleh Al-Qur'an setelah melanggar aturan atau melakukan dosa karena ketidaktahuan.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
